
Ara membuka kedua matanya. Ia pelan-pelan melihat ke arah Xi yang berada di sudut ruangan. Xi kemudian membungkukkan badannya sambil duduk di sofa. Ia menggabungkan kedua tangannya dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Maafkan aku. Mungkin aku terlalu menakutkan bagimu. Tapi bisakah kau bersikap lebih tenang agar aku tidak seperti ini? Tidak bisakah membuka ruang bagi kita agar bisa lebih dekat lagi? Ara, aku juga manusia biasa. Aku tidak ingin seperti ini. Tapi keadaan yang memaksaku. Pangeran-pangeranmu itu begitu membatasi dirimu dari pria lain. Tidak memberi kesempatan bagiku untuk masuk dan mengenalmu. Apakah kau memang terlalu sulit untuk dikenal?" Xi mengeluarkan unek-unek di hatinya.
Ara terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa.
Xi kemudian bangun lalu mendekati Ara. Ia menatap Ara tepat di mata.
"Ara, izinkan aku mengenalmu. Jika selama satu minggu ini kau tidak mempunyai perasaan sedikitpun terhadapku, maka aku akan mengembalikanmu ke Angkasa." Xi mengucap janji. Saat itu juga Ara merasa senang mendengarnya.
__ADS_1
"Satu minggu?"
Namun, satu minggu adalah waktu yang lama baginya. Ia tidak mungkin membiarkan kedua pangerannya mencemaskan keadaan dirinya.
Xi mengangguk. Ia terpaksa mengucapkan hal itu agar Ara tenang dan mau dekat dengannya. Jauh di lubuk hatinya menginginkan selalu bersama Ara.
Maafkan aku, Ara. Aku sudah gila dan tidak bisa menelaah mana yang baik dan buruk lagi. Aku harap kita bisa menemukan jalan untuk bersama. Aku tidak tahu mengapa bisa seperti ini. Karena yang aku tahu jantungku berdetak keras saat bersamamu. Dia seperti hidup di dalam sana dan memompa darah ke seluruh tubuh. Tidak seperti sebelum-sebelumnya yang hanya merasakan kehampaan akan hidup. Denganmu aku berbeda. Maka izinkanlah aku masuk ke dalam hatimu.
Esok harinya...
__ADS_1
Ara terbangun dan menemukan dirinya tengah berselimut tebal sampai ke bagian dada. Ara pun segera menyingkapkan selimutnya karena khawatir Xi melucuti pakaiannya. Tapi ternyata ia masih mengenakan gaunnya dan tidak ada bagian yang tersingkap ataupun terbuka paksa. Xi ternyata tidak melakukan apa-apa padanya.
Ara kemudian terbangun dan melihat jam di dinding berangka romawi kuno itu sudah menunjukkan pukul empat pagi. Ia lantas mencari di mana keberadaan Xi. Namun, Ara tidak menemukan Xi di dalam kamarnya. Xi ternyata tidak tidur bersamanya.
Dia tidak ada di sini? Apakah dia menungguku tertidur semalam lalu pergi?
Ara pun bertanya-tanya sendiri. Ia kemudian keluar dari kamar lalu berjalan pelan menuju lantai satu kastil ini. Ara ingin melihat keadaan sekitar, adakah sesuatu yang bisa membantunya pergi? Ara harus kembali.
Malam masih gelap gulita. Bintang fajar pun terlihat terang benderang di atas sana. Tapi Ara sudah nekat untuk keluar dari kastil ini. Dan saat sampai di luar, saat itu juga Ara menemukan sebuah kapal. Ia pun mencoba untuk menuju ke kapal tersebut. Ara ingin segera lari dari tempat ini.
__ADS_1
Aku harus cepat!
Ara pun mencoba menaiki kapal yang lebih mirip seperti sekoci itu, atau kapal kecil yang bertenaga mesin. Orang-orang di buminya menyebut sebagai speedboat berukuran besar. Ara pun segera menaikinya. Ia memeriksa keadaan kapalnya.