DICULIK PANGERAN KEGELAPAN

DICULIK PANGERAN KEGELAPAN
Menguping


__ADS_3

"Bagaimana cara menyalakannya?" Namun, Ara tidak tahu bagaimana cara mengendarai kapal tersebut.


"Pangeran Xi membawa seorang gadis ke kastil ini. Dia tidak peduli jika Yang Mulia mengetahuinya." Tiba-tiba saja Ara mendengar suara seseorang yang mendekat. Ara pun segera bersembunyi di kapal itu.


"Benar. Padahal dia tidak boleh melakukan hal itu. Apalagi gadis yang bukan dari Arthemis. Bisa-bisa gadis itu malah akan dibunuh." Salah seorang dari mereka menyahuti.


Apa?!


Saat itu juga Ara menutup mulutnya. Ia hampir saja bersuara. Ara pun terus mendengarkan orang-orang itu bicara.


Sepertinya mereka adalah prajurit yang sedang berpatroli di pulau ini.


Ara pun menyangka jika orang-orang yang bicara itu adalah prajurit yang berpatroli di pulau ini. Ia kemudian terus mendengar orang-orang itu bicara sampai pergi.


"Aku akan kembali ke ibu kota lusa nanti. Bagaimana dengan kau sendiri?" tanya salah satunya.

__ADS_1


"Aku masih belum dapat libur. Mungkin minggu depan baru bisa pulang ke kampung halaman," jawab satunya.


"Kalau begitu aku libur duluan. Sudah lama tidak melihat keluargaku," terangnya.


"Kau akan menaiki apa pulang ke ibu kota?" tanya temannya lagi.


"Aku akan menaiki kapal peti kemas pengantar makanan ke sini. Kapal itu lebih luas sehingga bisa beristirahat selama di perjalanan," ungkapnya. Saat itu juga Ara menemukan kesempatan untuk lari.


Lusa? Itu berarti aku hanya harus bertahan satu hari lagi?


Aku tidak boleh ketahuan.


Pada akhirnya Ara pun harus mengendap-ngendap untuk masuk kembali ke dalam kamarnya yang berada di lantai dua kastil ini. Ia pun menutup pintu lalu mengatur napasnya sehabis berlari. Ara harus bisa menahan diri sampai kesempatan untuk lari itu datang kepadanya. Yang mana sekitar satu hari lagi. Ara harus cepat pergi dari tempat ini.


Sementara itu di Angkasa...

__ADS_1


Rain tampak gelisah. Ia tidak tidur semalaman. Ia menunggu kabar keberadaan Ara. Tapi belum juga ditemukan sampai sekarang. Hingga akhirnya salah satu pelayan pria datang mengetuk pintu kediamannya. Rain pun segera membukakan pintunya.


"Bagaimana?" tanya Rain kepada pelayan itu.


"Pangeran, mohon maaf. Nona Ara tidak ada di istana. Kami juga sudah mencarinya ke ruang bawah tanah. Tapi Nona tetap tidak ditemukan," tutur pelayan itu.


"Astaga! " Rain pun bertambah cemas seketika. "Apakah sudah mencari di sekitaran istana?" tanya Rain lagi.


"Mohon maaf, Pangeran. Kami juga sudah mencarinya di sekitar kawasan perumahan elit terdekat istana. Tapi nona tetap tidak berada di sana. Prajurit yang berjaga di rumah itu mengatakan nona sudah lama tidak pulang ke rumah. Bahkan pelayan yang datang untuk bersih-bersih pun tidak menemukan jejak Nona pulang ke sana." Pelayan itu menyampaikan.


Ya Tuhan, Ara!


"Coba kalian cari lagi di sekitaran danau angsa putih. Biasanya Ara datang ke sana. Siapa tahu dia menginap di vilanya." Rain meminta.


"Baik, Pangeran."

__ADS_1


Pelayan itupun pergi, segera melaksanakan tugas dari Rain. Rain pun bergegas untuk mencari Ara sendiri. Ia tidak peduli lagi dengan kondisi tubuhnya yang belum pulih sempurna. Ia baru saja baikan, tapi sudah ingin mencari Ara. Cintanya begitu besar kepada gadis penjaga pohon surga. Semua tak lain karena Ara adalah jiwanya.


__ADS_2