
Di ruang bawah tanah...
Tangis pilu terdengar dari seorang gadis yang berusaha membela kehormatannya. Tangisannya terdengar memilukan bagi siapa saja yang mendengarnya. Ara tak percaya jika hukuman mati itu akan diterimanya. Ia benar-benar tidak bersalah dalam hal ini. Karena pada kenyataannya, Xi lah yang membuatnya seperti ini. Lari dari kastil lalu masuk ke dalam peti kemas yang mengantarkan makanan. Ara tidak ingin jadi boneka Xi.
Rain, Cloud, tolong aku ....
__ADS_1
Kini yang Ara bisa lakukan hanya menangis sambil meringkuk di dalam sel tahanan. Lampu penerangan yang minim itu pun menjadi saksi kesedihannya. Jika mampu, pastinya ia akan memutar kembali waktu. Ara tidak akan pergi ke bukit pohon surga hari itu sehingga hal seperti ini tidak akan terjadi. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Ara tidak bisa berbuat apa-apa. Ia harus menerima takdirnya sekalipun pahit untuk dirasakan. Pada akhirnya ia pun hanya sendiri di ujung sepi.
Sementara itu di lain tempat, di teras ruangan sang raja, kedatangan burung pengantar surat. Yang mana burung itu telah membawa dengan cepat surat itu sebelum sampai esok hari. Ia membawa surat dari pangeran Asia untuk dibaca raja segera. Tapi keadaan istana sudah sunyi. Malam telah datang dan waktu beristirahat juga sudah dimulai. Burung itupun harus menunggu pagi agar surat yang diantarnya bisa dibaca. Ia pun memakan biji-bijian yang ada di sana sambil menunggu fajar tiba. Tapi, apakah raja akan segera membacanya? Dan apakah eksekusi Ara benar-benar akan dilakukan?
Esok harinya...
__ADS_1
Perih, pedih, itulah yang Ara rasakan saat mengetahui akhir hidupnya. Bagaimana mungkin perjalanan waktu bisa mengantarkannya ke ujung cerita yang memilukan seperti ini. Ara tak menyangka, ia tak percaya. Ternyata apa yang dikatakan Tetua Agung itu memang benar adanya. Tentang masalah besar yang akan menimpanya. Dan kini Ara menunggu detik-detik akhir hidupnya.
Ibu, ayah, Ara tidak bisa lagi kembali ke bumi. Adit, Anggi, jaga diri kalian baik-baik di sana.
Bak sudah tidak mempunyai harapan lagi, Ara pun terus berjalan lemas menaiki tiang gantungan. Ia pasrah, benar-benar pasrah terhadap keadaan. Ia tak menyangka jika akhir hidupnya akan seperti ini. Ia tak bersalah, ia hanya berusaha menjaga kehormatannya. Tapi nyatanya eksekusi mati itu harus diterimanya.
__ADS_1
"Para rakyat Arthemis yang kami cintai, hari ini kita akan melakukan eksekusi gantung terhadap seseorang yang telah dengan berani menyusup ke Arthemis. Dia adalah seorang gadis yang berasal dari Angkasa. Dia juga telah dengan keji memfitnah pangeran Yang. Maka kerajaan menjatuhkan hukuman mati untuknya. Kita akan segera saksikan bersama," tutur seseorang yang membacakan surat dari istana.
Tampak para penduduk yang ada di balai kota berbisik-bisik. Mereka tak menyangka jika ada seorang gadis yang berani menyusup ke negerinya. Sebagian lain tampak percaya dengan kabar itu semua. Mereka pun menantikan hukuman mati itu untuk Ara. Kalung yang terbuat dari tali tambang besar pun mulai dililitkan ke leher Ara. Saat itu juga Ara memejamkan matanya. Air matanya jatuh membasahi pipi. Ia tidak bersalah dalam hal ini.