
Waktu itu...
Bintang fajar bersinar dengan terang. Udara pagi mulai mengisi dunia ini. Terlihat di dalam kemah, sang gadis masih juga terpejam dalam mimpinya. Namun, kali ini ia tidak sendiri. Melainkan ada seseorang yang menemani.
Ialah Rain, putra bungsu kerajaan Angkasa. Ia tampak mengusap lembut kepala gadisnya yang masih tertidur di sampingnya. Ia rindu bilamana tak berjumpa dengan gadisnya. Rasa rindu itu akhirnya menguatkan hatinya untuk menjemput sang pujaan hati tercinta.
"Hem."
Ara berbalik ke arah Rain. Tanpa sengaja ia memeluk tubuh Rain yang tertidur di sampingnya. Rain pun segera merentangkan tangan kanannya agar Ara bisa tertidur di dadanya yang bidang. Sambil terus mengusap lembut kepala sang gadis, Rain pun mendaratkan bibirnya di kening Ara. Ia mengecup lama kening itu hingga hangat napasnya menyadarkan Ara dari alam mimpinya.
"R-rain ...?"
Samar-samar Ara melihat Rain. Ia pun mengucek matanya untuk memastikan siapa yang dilihatnya. Dan ternyata, memang benar adalah Rain.
"Rain!"
"Ssst. Pelankan suaramu, Sayang." Rain meminta agar Ara tidak mengeluarkan suara yang keras.
"Rain, kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Ara yang bingung.
"Aku baru saja sampai. Kupikir kau akan bilang rindu padaku. Ternyata malah bertanya kenapa aku ada di sini."
"Huh, kau ini. Aku kaget tiba-tiba kau ada, tahu!" Ara pun bergegas bangun.
"Aku rindu, Ara. Maka itu aku ke sini. Apakah ada larangan bagiku?" Rain ikut bangun. Keduanya kemudian duduk bersama di dalam kemah.
"Hari ini aku kembali ke istana, kok. Sehabis sarapan, kami akan bergegas menuju istana," jawab Ara dengan suara yang pelan.
"Kau tampak kelelahan, Ara." Rain mengusap wajah gadisnya.
__ADS_1
"Hah? Benarkah?" Ara segera mengusap-usap wajahnya sendiri.
"Tapi tetap terlihat cantik. Dan juga ... menggairahkan."
"Rain!"
"Aww! Sakit!"
Seketika Ara mencubit perut Rain setelah mendengar kata-kata itu. Ia tak habis pikir dengan putra mahkota yang satu ini.
"Ara."
"Hm?"
"Aku ingin susu."
"Rain, ini di tempat terbuka!"
"Maksudku susu hangat. Apakah ada di sini?" tanya Rain seraya menahan tawanya.
"Ish, kau ini. Ada saja permintaannya." Ara pun beranjak keluar kemah.
"Kau mau ke mana?" tanya Rain.
"Mengambilkan susu hangat untukmu. Mau ke mana lagi coba?!" Ara tampak kesal.
"Kan sudah ada. Tergantung dan praktis lagi," celetuk Rain.
Sontak Ara mengambil selimut lalu melemparkannya ke arah Rain. Rain pun terkena lemparan selimut itu.
__ADS_1
Ara, semakin kau marah, entah mengapa aku semakin bergairah melihatnya.
Ara lantas keluar dari kemah, mengambil susu dari wajan lalu merebusnya sebentar di atas api agar terasa hangat. Ia lakukan hal itu di pagi-pagi buta hanya demi sang putra mahkota. Rain pun tidak tinggal diam, ia membantu dan juga menemani gadisnya.
"Kau istri yang baik, Ara."
"Apa?!"
"Istri yang baik."
"Siapa?"
"Kamu, Ara."
"Yang nanya, Rain."
"Ara!"
Ara sengaja mencandai Rain agar Rain juga ikut merasakan kesalnya. Sontak hal itu membuat Rain menarik Ara ke pangkuannya.
"Lepaskan aku!"
"Tidak!"
"Nanti ada yang lihat, Rain!"
"Biar saja."
Ara pun segera melepaskan diri dari sang putra mahkota lalu memukulnya berulang kali dengan tangannya yang lembut. Namun, kali ini Rain tidak diam saja. Ia malah menarik Ara agar lebih dekat dengannya. Dan ciuman lembut itu pun mendarat di bibir sang gadis.
__ADS_1
.........
Ara ... apa yang harus kulakukan saat ini? Aku tidak tahu di mana kau berada. Ini bumiku yang belum semaju bumimu. Aku kesulitan menemukanmu, Ara. Ara ... cepatlah pulang ke Angkasa ....