
Menjelang petang di istana Arthemis...
Penasihat raja mengumpulkan semua pejabat istana sebelum mengakhiri jam kerjanya. Ia meminta kepada para pejabat untuk menindaklanjuti Ara yang telah menyusup ke Arthemis. Tentu saja hal itu menjadi perdebatan di kalangan pejabat sendiri. Sebagian dari mereka ada percaya jika Ara adalah penyusup, sebagian yang lain tak menyangka jika ada seorang gadis yang berani datang sendiri ke negeri ini. Dan pada akhirnya menjelang petang ini diadakan rapat untuk Ara. Penasihat raja itu tampak tidak menyukai kehadiran Ara di istana.
"Yang Mulia, ini tidak bisa dibiarkan. Sekalipun dia seorang wanita, jika telah mencoba menyusup ke negeri ini harus segera ditindaklanjuti. Kita tidak boleh diam saja hanya karena dia seorang wanita. Kita harus betindak tegas. Karena kalau dibiarkan, penyusup-penyusup wanita lain akan berdatangan ke negeri ini," tutur seorang pejabat yang duduk di barisan kiri singgasana sang raja.
"Benar, Yang Mulia. Semenjak perang dingin dengan Angkasa, kita telah menyepakati bahwa tidak memperkenankan satu orang pun dari negeri itu yang datang ke sini. Jika kita membiarkan gadis itu di istana, sama saja dengan menyalahi kesepakatan bersama. Bukankah negeri kita menjunjung tinggi peraturan? Tetapi kenapa hanya karena seorang wanita harus menyalahinya?" Pejabat sayap kiri tidak terima Ara berada di istana.
__ADS_1
"Mohon maaf, Yang Mulia. Saya rasa kita tidak bisa langsung menghakimi gadis itu tanpa menanyakan langsung bagaimana dia bisa datang kemari. Jangan sampai kita salah bertindak dan memalukan diri sendiri."
Salah seorang dari barisan kanan singgasana raja tampak menimbang ulang. Dan pada akhirnya terjadi perpecahan pandangan tentang Ara. Tampak Raja Arthemis yang juga memikirkannya.
Tentu saja Arthemis menutup pintu rapat-rapat untuk siapa saja yang datang dari Angkasa, tanpa terkecuali. Dendam yang sudah dibawa turun temurun karena sebuah pulau itu membuat Arthemis tidak bisa menerima keputusan atas wilayah teritorialnya. Dan akhirnya hal itu tertanam dari generasi ke generasi. Sang raja pun tampak menyadari. Tapi ia berpikiran panjang kali ini.
Gadis itu memiliki cahaya yang bisa menyelamatkan putraku. Entah mengapa saat melihatnya, aku merasa kegelapan yang ada di istana ini seakan sirna. Tapi para pejabatku berbeda pendapat tentangnya. Haruskah aku mengembalikannya ke Angkasa?
__ADS_1
Raja Arthemis seperti kebingungan dalam menentukan langkah. Ia akhirnya mengikuti suara terbanyak. Ara pun dihadapkan di hadapan para pejabat istana dan juga dirinya. Tampak gadis penjaga pohon surga itu diminta untuk berlutut lagi. Keputusan akan diterimanya malam ini.
"Nona, bagaimana Anda bisa kemari? Dan alasan apa yang membawa Anda ke sini?" Pihak sayap kanan menanyakannya.
Ara terdiam. Ia ragu untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
"Cepat katakan, Nona! Jangan diam saja! Kau memperlambat waktu! Ini sudah malam!" Pihak sayap kiri menaikkan nada bicaranya.
__ADS_1
"Nona, katakan saja." Raja pun meminta.
Ternyata oh ternyata percakapan Ara bersama raja harus terhenti manakala Ara jujur mengatakan dirinya berasal dari Angkasa. Saat itu juga Raja Arthemis memanggil pelayan lalu meminta Ara dibawa keluar. Raja merasa membuat kesalahan karena ada orang dari Angkasa yang telah masuk ke ruangannya. Ia pun jadi menjaga jaraknya dengan Ara. Ia tidak ingin diprasangka yang tidak-tidak.