DICULIK PANGERAN KEGELAPAN

DICULIK PANGERAN KEGELAPAN
Menyadari


__ADS_3

Pangeran bungsu kerajaan Angkasa sendiri nekat pergi ke bukit pohon surga untuk menjemput Ara. Di kondisi kesehatannya yang belum pulih sempurna, ia nekat pergi seorang diri tanpa pengawalan yang berarti. Tetapi sesampainya di sana hanya rasa kecewa yang ia dapatkan. Nyatanya Ara tidak berada juga di bukit pohon surga. Awan berarak di angkasa menjadi saksi kecemasannya.


"Ara, kau di mana? Araaaa!!!"


Rain berteriak. Tubuhnya memutar ke sekeliling arah, berharap menemukan Ara. Tapi satu, dua jam ia di sana, tidak ada tanda-tanda Ara akan datang padanya. Rain pun akhirnya mencoba ke gubuk yang berada di kaki bukit. Saat itulah ia menemukan sesuatu di sana. Rain terkejut saat menemukan keranjang buah Ara ada di sana. Rain ternyata kehilangan Ara.


Rain mengepalkan tangannya. "ARAAAAAA!!!"


Ia pun berteriak kencang. Sesaat setelah menyadari jika Ara telah diculik. Hatinya bergemuruh hebat. Jantungnya berdetak cepat. Ia bak siap membunuh siapa saja yang telah berani menculik gadisnya. Rain tidak ingin kehilangan Ara.


Awan berarak menjadi saksi betapa amarah Rain sudah meledak-ledak. Ia pun segera kembali ke istana untuk mengabarkan hal ini kepada raja. Tentang sesuatu yang ia temukan di bukit pohon surga saat mencari Ara.

__ADS_1


Sesampainya di istana...


Udara mulai terasa panas kala sang mentari semakin beranjak ke atas. Burung-burung bersiulan, bertengger di teras istana dengan riangnya. Tampak di lantai tiga istana sedang terjadi rapat antar keluarga utama kerajaan. Cloud, Rain bersama ayah dan ibunya duduk melingkari meja kaca yang terbuat dari kayu gaharu. Rain pun segera mengutarakan tujuannya mengumpulkan semua keluarga utama. Ia ingin menyampaikan apa yang didapatkannya di bukit pohon surga.


Ara hilang. Tepatnya calon ratu Angkasa itu diculik lagi. Namun, kali ini makna diculik adalah makna yang sebenarnya. Tidak seperti saat bersama Zu yang membawa lari Ara untuk diselamatkan dari kekejaman ratu. Ara benar-benar diculik saat ini yang tidak diketahui ada di mana. Rain pun meminta dukungan kepada keluarganya. Cangkir-cangkir kristal berisi teh hijau itu tampak menemaninya bicara.


"Aku menemukan keranjang buah Ara di bukit pohon surga. Tapi keranjang itu berada di posisi gubuk yang ada di kaki bukit. Tepatnya di samping jalan setapak yang terhubung dengan banyak dermaga. Tidak salah lagi jika Ara diculik." Rain menuturkan.


"Bukankah itu bagus?"


"Apa maksud Ibu? Mengapa Ibu bisa berkata seperti itu?" tanya Rain segera.

__ADS_1


Ratu tampak meneguk teh hijaunya. "Hah ... entah bagaimana aku harus menjelaskannya. Putraku sudah dibutakan oleh cinta. Dia tidak lagi ingat siapa ibunya, siapa yang melahirkan dan membesarkannya. Jadi aku hanya bisa berkata terserah saja." Ratu tampak menahan jengkel di hatinya.


"Ibu, tidak sepantasnya Ibu berbicara seperti itu di tengah keadaan seperti ini. Calon ratu kami hilang, Bu." Cloud membela adiknya.


"Hah! Terserah saja." Ratu tampak tidak peduli. "Tapi satu hal yang harus kalian pahami, cobalah berpikir lebih rasional lagi. Semenjak dia datang ke istana ini, bukankah semakin banyak musibah yang datang? Dia pembawa sial untuk Angkasa. Ada baiknya dia memang tidak ada di negeri ini," tutur Ratu Moon kembali.


"Ibu!" Rain pun beranjak berdiri.


"Rain, duduklah."


Cloud menenangkan adiknya. Ratu pun segera pergi dari ruang pertemuan karena tidak ingin membicarakan Ara kembali. Dengan wajah sinis ia meninggalkan ruangan. Tampak sang suami yang menundukkan kepalanya. Ia mulai merasa apa yang dikatakan istrinya tidaklah salah.

__ADS_1


"Ibu kalian benar. Jika dipikir-pikir masalah Angkasa bertambah banyak semenjak Ara datang ke istana," tutur sang raja.


"Ayah!" Rain tidak terima.


__ADS_2