
Raja tampak mengangguk. "Kau benar-benar menyukainya? Kau tahu arti dari rasa suka itu sendiri?" tanya raja lagi.
Xi menelan ludahnya. "Aku tidak tahu. Tapi yang jelas aku ingin selalu bersamanya. Bercanda tawa dan menikmati hari bersama dengan indah. Aku juga ingin selalu mendengar suaranya, melihat wajahnya yang bersinar ceria. Dia ... dia bagai purnama di tengah malam yang gelap gulita. Dia memukau pandangan mataku, Yah." Xi menjelaskan isi hatinya.
Selama ini Xi memang dekat dengan banyak sekali gadis. Baik dari kalangan bangsawan kerajaan ataupun pelayan istana. Tapi Xi tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya, sebelum bertemu Ara. Tapi setelah mengenal Ara, ia merasakan hal-hal itu terjadi pada hatinya. Xi pun tidak tahu perasaan apa yang sesungguhnya ada di hatinya itu. Ia belum pernah jatuh cinta.
Raja sendiri tampak menyadari permasalahan apa yang sedang terjadi. Ia juga menyadari apa yang akan terjadi di saat putranya dan Pangeran Asia itu memperebutkan satu gadis yang sama. Ia jadi berpikir ulang untuk membalas pesan Zu di sana. Raja masih memikirkannya.
__ADS_1
"Ayah mengerti. Tapi apa kau siap menanggung semua risikonya? Karena kenyataannya bukan hanya dirimu yang menyukainya. Tapi juga pangeran Asia. Apakah kau mampu bersaing secara sehat dengannya?" Sang ayah bertanya.
Saat itu juga Xi jadi terdiam. Bertubi-tubi pikiran itu masuk ke dalam otaknya. Banyak sekali pertimbangan yang harus ia pikirkan matang-matang. Tentunya apa yang terjadi akan berdampak bagi hubungan kedua negeri. Sedang selama ini Asia dan Arthemis menjalin hubungan dengan baik.
Raja mengangguk pelan. Ia menoleh ke arah putranya. "Beristirahatlah. Ayah dengar kau memacu kuda dengan cepat untuk sampai ke balai kota." Raja pun meminta putranya untuk beristirahat. Ia membiarkan Xi untuk memikirkannya.
Sesampainya di balai kota, Xi pun segera melihat siapa gadis yang dimaksud. Dan ternyata memang benar jika Ara lah gadis yang dimaksud. Xi pun bergerak cepat untuk menyelamatkan Ara. Ia melempar pedang tajamnya ke arah tali tiang gantungan. Dan saat pedang itu dilempar, saat itu juga Xi melompat ke panggung eksekusi untuk menyelamatkan Ara.
__ADS_1
Keselamatan itu ternyata masih bersama sang gadis penjaga pohon surga. Saat pedal digeser dan menarik leher Ara, saat itu juga pedang Xi menebas talinya. Sehingga Ara bisa terselamatkan. Dan karena hal itulah membuat Xi begitu trauma. Ia takut kehilangan Ara.
Lantas apa yang akan raja lakukan untuk putranya? Ia mengetahui putranya menyukai Ara. Tapi ia juga harus membalas surat dari Zu segera. Apakah sang raja akan berbohong demi putranya? Ataukah Zu akan menyusul Ara segera?
Sementara itu...
Hamparan bunga keabadian terlihat membentang luas di hadapan seorang gadis penjaga pohon surga. Ialah Ara yang kini sendirian duduk di atas rerumputannya. Ia sendiri tanpa ada seseorang yang menemaninya. Ara pun teringat dengan kejadian yang baru saja terjadi. Di mana dirinya harus menerima eksekusi mati.
__ADS_1