
"Ap-apa?!" Saat itu juga Ara terbelalak seketika.
"Aku hanya ingin tahu kebenarannya. Kau tidak keberatan, bukan?" tanya Xi kepada Ara.
Ara menelan ludahnya. Ia harap-harap cemas terhadap dirinya. Ia khawatir hal itu benar terjadi padanya. Padahal sampai detik ini Ara hanya pura-pura menyukai Xi. Ia merelakan dirinya mengikuti saran dari Tetua Agung agar tidak salah langkah lagi.
"Em, baiklah. Itu berarti kita akan bermain air di sini?" Ara memastikan.
"Hm, ya. Aku sudah menyiapkan semuanya. Di sana ada pakaian ganti untukmu." Xi menunjuk sebuah gubuk kecil yang ada di sana.
Ara kembali menelan ludahnya. "Ba-baiklah." Dengan ragu ia pun mengatakannya. Xi pun segera melepas pakaian kerajaannya.
Di-dia?!
__ADS_1
Xi melepas seluruh pakaian kerajaannya. Ia kemudian menceburkan dirinya ke kolam. Sontak Ara hampir saja terkena cipratan air itu. Ia pun menepikan dirinya ke dekat tangga. Ia melihat betapa otot-otot tubuh Xi memukau pandangan matanya. Xi pun menampakkan wajahnya ke Ara dengan rambut yang basah. Air-air itu berjatuhan ke pundaknya, menambah kesan eksotis pada dirinya. Ara pun mulai terpana.
Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Jangan sampai aku menyukainya.
Sebisa mungkin Ara mengendalikan pikirannya agar tidak terbawa suasana. Xi juga menyadari jika Ara masih terdiam di tempatnya. Sang gadis belum juga ikut menceburkan dirinya ke kolam air terjun. Xi kemudian lekas naik ke permukaan untuk menjemput Ara. Saat itu juga Ara seperti terhipnotis oleh Xi.
Dada bidang, perut datar berpetak bak roti sobek yang menggoda selera. Otot lengan yang terbentuk sempurna dan postur tubuh maskulin Xi membuat Ara memundurkan langkah kakinya ke belakang. Ia tidak ingin melihatnya. Ditambah lagi celana pendek yang Xi kenakan seperti hampir jatuh ke bawah. Garis rambut-rambut halus dari pusar ke bawah itu terlihat jelas di mata Ara. Ara pun memalingkan pandangannya.
Ara panik sendiri. Tapi, Xi segera meraih tangannya. Ia memutar tubuh Ara menghadapnya. "Pangeran?" Saat itu juga Ara terbius oleh kedua bola mata Xi yang seolah ikut bicara kepadanya.
"Ara ... bukalah hatimu untukku. Aku bersungguh-sungguh. Aku ingin kau menemaniku," kata Xi sambil menatap dalam Ara.
Jantung Ara berdetak keras. Aliran darah melaju begitu cepat. Setiap detik dari pandangan kedua bola mata itu seakan meminta Ara untuk segera mengiyakannya. Ara pun berusaha melepaskan dirinya. Tapi entah mengapa ia seperti tidak bertenaga. Ia lantas pasrah terhadap apa yang Xi inginkan darinya.
__ADS_1
"Pangeran ...."
Pada akhirnya Xi mulai menurunkan gaun Ara. Ia menurunkan pelan gaun itu sampai bahu Ara terlihat di kedua bola matanya. Ara pun menahan tangan Xi agar tidak melanjutkannya. Namun, Xi seolah tidak menghiraukannya. Pangeran Arthemis itu kemudian mencium Ara sambil menurunkan gaunnya. Gaun Ara pun terjatuh di dekat tangga.
Di saat yang bersamaan...
"Pangeran, Anda baik-baik saja?" Count tampak panik melihat tangan Cloud yang berdarah, terkena mata jangkar saat digunakan untuk membuat lingkaran.
"Aku tidak apa-apa, Tuan Count." Cloud pun segera mengeringkan darahnya dengan tisu yang ada di meja.
Ini aneh sekali. Aku sedang membuat diagram laporan untuk ayah, tapi kenapa malah terkena mata jangkarnya? Apakah sesuatu sedang terjadi saat ini?
Cloud bertanya-tanya sendiri.
__ADS_1