
Batinnya berkata lirih saat mulai merindukan kedua pangeran di Angkasa. Ara merasa sedih karena tidak bisa berada di dekat mereka. Satu putaran matahari telah ia lewati bersama. Tidak mudah bagi Ara untuk melupakan semuanya. Tapi, ia juga tahu jika tidak bisa menolak jalan hidupnya. Ara harus menerima suka atau tidak takdir yang digariskan untuknya. Dicintai banyak pangeran dengan sejuta pesona yang ada, membuat hati Ara dilema karenanya.
Sampai detik ini aku tidak tahu siapa jodohku. Sampai detik ini juga aku tidak tahu bagaimana akhir dari perjalanan lintas dimensi ruang dan waktu. Kalau boleh aku ingin sekali kembali sebentar ke bumi. Aku ingin beristirahat di sana. Aku juga ingin bertemu ayah dan ibu beserta kedua adikku. Tapi bagaimana caranya? Portal belum juga kembali terbuka.
Ara pesimis. Ia merasa hanya seorang manusia biasa yang tidak bisa berbuat apa-apa. Nyatanya kekuatan yang ia punya tidak bisa digunakannya lagi. Hanya saat terdesak saja Ara baru bisa menggunakannya. Dan Ara ingin sekali kembali ke buminya. Ia merasa lelah dengan perjalanan lintas dimensinya. Ara ingin bertemu keluarganya.
"Ara, sedang apa?" Tiba-tiba saja Xi datang lalu mendekatinya.
Ara tersadar. "Pangeran?" Ara memutar tubuhnya ke arah Xi.
Xi tersenyum. "Maaf atas ucapan ayahku tadi. Ayah terlalu terburu-buru bicara." Xi mengatakannya.
Ara mengangguk. Ia merasa hal itu biasa saja baginya. Karena sebelumnya ia juga pernah mengalami hal seperti ini. Di mana Raja Asia meminta yang sama kepada Ara akan Zu, putranya.
__ADS_1
"Udara mulai dingin. Kau tidak ingin beristirahat?" tanya Xi kepada Ara.
"Em, aku sedang ingin melihat bulan di sana." Ara menjawabnya.
Xi berdiri di samping Ara. "Di negeri ini salju bisa tiba-tiba turun bahkan saat musim panas sekalipun. Aku juga tidak tahu mengapa, tapi kami sangat menikmati waktu salju turun. Mungkin sebentar lagi kau juga akan melihatnya," terang Xi.
"Apakah cuacanya dingin?" tanya Ara segera.
"Jika turun di siang hari maka cuaca akan terasa hangat. Tapi jika turun di malam hari maka akan terasa sangat dingin. Nanti jika tiba waktunya aku akan menyiapkan mantel tebal untukmu. Aku mempunyai banyak di lemari." Xi berjanji.
"Ara."
"Hm?"
__ADS_1
"Kau cantik," kata Xi yang seperti ingin menutup perjumpaan malam ini dengan pujiannya.
Xi tiada henti-hentinya membuat Ara jatuh cinta. Sedang Ara semampu mungkin berpura-pura untuk menyukai Xi. Ia tidak ingin salah langkah sehingga menuruti saran dari Tetua Agung. Ara tidak bisa berbuat banyak saat situasi seperti ini. Ia hanya mengikuti alur yang diberikan bak air mengalir. Dan berharap masa-masa indah itu akan segera tiba untuknya.
Pangeran, maafkan aku yang harus berpura-pura. Aku masih belum bisa menyukaimu sepenuhnya.
Xi sendiri berharap Ara dapat membuka hatinya. Ia merasa Ara juga menyukainya. Ia berharap dapat dekat dengan Ara melebihi kedua pangeran di Angkasa. Terutama Rain yang bertahta di hati Ara. Xi ingin menggantikan Rain di hati Ara. Malam ini pun menjadi saksi kebersamaan mereka.
Ara, kau tahu? Cahaya rembulan itu dikalahkan oleh dirimu. Andai kau bisa menerimaku, tentu aku akan memberikan segalanya untukmu. Ara, kaulah dewiku. Terimalah aku sebagai kekasihmu.
.........
...Xi...
__ADS_1