DICULIK PANGERAN KEGELAPAN

DICULIK PANGERAN KEGELAPAN
Pembicaraan Para Pelayan


__ADS_3

Aku tidak mempunyai pilihan lain. Aku harus memilikinya.


Pada akhirnya Xi pun mengantarkan Ara ke kamarnya. Ia membiarkan Ara beristirahat kembali. Sedang dirinya memikirkan hal ini. Bisakah Ara ia miliki?


Esok harinya...


Burung-burung bercuitan dengan riang di teras kamar yang Ara tempati. Ara pun terbangun dari tidurnya lalu bergegas membuka jendela kamar. Dan di saat ia membuka jendela, di saat itu juga ia melihat kawanan burung yang sedang bercanda. Mereka ada yang lompat-lompat tak berarah. Sontak Ara pun tertawa.


Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki yang mendekati kamarnya. Ara pun duduk sejenak di kursi kamar lalu mengambil air minum dari kendi yang telah disediakan. Ia tampak haus sampai meneguk habis satu gelas penuh. Tak beberapa lama sebuah percakapan pun didengarnya. Yang mana ternyata pelayan-pelayan istana sedang membicarakannya.

__ADS_1


"Pangeran Xi sekarang sudah berubah. Dia mau peduli dengan keadaan istana ini. Dia sekarang sedang berlatih di halaman belakang istana untuk menambah keterampilannya," tutur salah seorang pelayan perempuan.


"Benar. Sebelumnya dia tidak pernah peduli sama sekali dengan apa yang terjadi di istana ini. Tetapi semenjak nona itu datang, pangeran jadi lebih bertanggung jawab terhadap sistem pemerintahan yang ada di negeri ini. Nona itu memang luar biasa. Dia mampu merubah pangeran 180 derajat," tambah yang lainnya.


"Mungkinkah pangeran jatuh cinta?" tanya pelayan itu lagi.


"Aku kurang tahu. Tapi mungkin saja begitu. Lebih baik kita segera antarkan sarapan pagi ini untuk prajurit yang berjaga. Karena kalau tidak, nanti malah terkena marah nenek tua itu." Pelayan yang lain menimpali.


Xi sudah mulai berubah sekarang. Mungkin aku bisa pelan-pelan memintanya untuk berdamai dengan Angkasa. Tapi, dia pasti meminta imbalan agar aku tetap tinggal di sini. Lalu bagaimana dengan kedua pangeranku di Angkasa? Haruskah aku meninggalkan mereka?

__ADS_1


Ara bertanya-tanya sendiri.


Tidak. Aku tidak bisa lagi berbagi hati. Jika aku menerima Xi, pasti Zu juga akan menuntut haknya karena dia datang sebelum Xi. Aduhai, apa yang harus aku lakukan agar mereka bisa berdamai tanpa berbagi hati? Apakah aku kembali ke bumiku saja? Tapi bagaimana caranya? Bukankah portal belum kembali terbuka?


Seribu pertanyaan seolah mencuat di pikiran Ara saat ini, mengenai langkah apa yang sebaiknya ia segera ambil. Pesan dari Tetua Agung seolah memintanya untuk mengalah dan merelakan perasaannya sementara. Ara pun harus berlagak menyukai Xi untuk memenuhi itu semua. Tapi jauh di dalam hatinya, ia masih memikirkan kedua pangeran Angkasa. Ara merasa serba salah.


Lantas ia pun bergegas mandi untuk melihat Xi yang sedang berlatih. Ara akan berdandan anggun hari ini layaknya putri kerajaan yang cantik jelita. Ia akan memenuhi permintaan Tetua Agung agar tidak terjadi kesalahan lagi. Ara menerima tinta takdir yang sudah dituliskan untuknya. Tapi, apakah Xi tidak akan marah jika mengetahui Ara hanya pura-pura?


Satu jam kemudian...

__ADS_1


Gadis bergaun biru langit itu tampak datang ke halaman belakang istana untuk melihat pelatihan yang sedang Xi lakukan. Langkah kakinya terdengar pelan saat harus bersapa dengan para pelayan istana. Hingga akhirnya ia tiba di pintu belakang istana dan melihat apa yang Xi lakukan di sana. Saat itu juga Ara terpesona. Ternyata Xi bukanlah seorang pangeran yang manja.


__ADS_2