
Atmosfer sekitar berubah canggung manakala Ara menolak tawaran raja. Xi pun segera mengambil alih pembicaraan agar ayahnya tidak terlalu memaksa Ara. Karena Xi tahu Ara paling tidak suka dipaksa.
"Em, Ayah. Aku dan Ara belum lama mengenal. Kami baru saja memulai pendekatan. Ara butuh waktu untuk memikirkan apa yang Ayah katakan. Mungkin ada baiknya jika kita membahas hal lain saja." Xi menyarankan.
Sang Raja tampak berkecil hati. Ia merasa peluang untuk menyelamatkan anaknya hilang begitu saja. Raja merasa jika Ara lah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan putranya dari perjanjian mistis leluhur Arthemis. Raja beranggapan Ara mempunyai kekuatan untuk melawan ratu siluman ular yang ada pada tubuh anaknya.
"Em, maaf. Mungkin aku terlalu terburu-buru. Tapi mungkin Nona bisa memikirkannya." Raja berharap Ara mau menerima tawarannya.
"Maksud Yang Mulia?" Ara pun segera menanyakannya.
__ADS_1
"Arthemis baru-baru ini menemukan gunung emas yang ada di Laut Timur. Aku akan memberikan gunung emas itu jika Nona mau menetap di sini bersama putraku. Atau kalau tidak, aku yang akan bicarakan langsung kepada Raja Angkasa untuk meminta Nona. Nona tidak keberatan, bukan?" tanya sang raja.
Ap-apa?! Dia ingin bicara langsung kepada Raja Sky?
Sontak Ara terkejut. Ternyata Raja Arthemis lebih nekat dari putranya. Ara pun segera memikirkan cara agar pembicaraan ini tidak terus berlanjut.
Aku harus mengalihkan perhatian raja. Tapi bagaimana caranya?
"Saya akan memikirkannya, Yang Mulia. Sepertinya saya harus memaksa diri untuk memikirkannya."
__ADS_1
Ara berkata seperti itu. Terlihat Xi yang tidak enak hati karena perkataan ayahnya. Ia pun berniat berbicara kepada sang ayah setelah makan malam. Xi ingin meminta ayahnya agar tidak memaksa Ara. Karena hal itu hanya akan membuat Ara semakin tidak nyaman berada di istana.
Aku harus bicara pada ayah. Ayah terlalu terburu-buru. Ara tidak suka itu.
Lantas makan malam pun akhirnya diteruskan. Tampak Ara yang kurang berselera namun tetap menunjukkan keanggunannya sebagai tamu istana. Ia bersikap layaknya tamu kerajaan yang elegan. Ketidaksukaannya tidak terlalu ia tunjukkan. Karena ia membawa nama baik Angkasa. Malam ini pun menjadi saksi kerisauannya akan tawaran raja.
Selepas makan malam...
Semilir angin menjadi saksi Ara yang duduk menyandar di tiang teras depan kamarnya. Ia menatap rembulan yang bersinar terang di sana. Hawa dingin pun mulai menyelimutinya. Terlebih ini sudah pukul sembilan malam. Tapi sepertinya hal itu tidak membuat Ara untuk segera masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Ara kini menempati kamar yang ada di sebelah kamar Xi. Hanya dinding saja yang memisahkan kamar mereka. Sedang kamar Ara sendiri lebih menjorok ke luar, dekat dengan pagar belakang istana. Hunian baru akan segera ditempatinya. Tapi entah mengapa hatinya terasa sempit malam ini.
Sedang apa mereka? Apakah tidak ada pintu ke mana saja agar aku bisa cepat sampai ke Angkasa?