
Prajurit yang membawa, memaksa Ara untuk berlutut. Ara pun memenuhinya. Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini selain menuruti semua perintah yang ditujukan kepadanya. Tak lama kemudian sebuah ruangan megah pun terbuka. Terhampar karpet merah dengan permadani indah di sekelilingnya. Ara pun jadi tahu ruang apa yang ditujunya.
"Berjalan sambil berlutut ke arah singgasana!" seru prajurit itu.
Lagi, Ara harus menurutinya. Gadis kesayangan banyak pangeran itu harus berjalan dengan lutut kedua kakinya, dengan kedua tangan yang diborgol ke depan. Seolah menyiratkan jika ia adalah seorang penjahat kelas kakap. Padahal Ara hanyalah korban dari keegoisan. Namun, Ara belum mampu membela dirinya.
Sakit sekali lututku.
Ara pun harus bertahan dari rasa sakitnya saat lutut itu bergesekan dengan lantai. Hingga akhirnya seorang pria bermahkota datang mengakhiri rasa kesakitannya. Prajurit yang membawanya pun membungkukkan badan.
"Salam sejahtera untuk Baginda."
Begitulah yang dikatakan oleh prajurit itu kepada pria bermahkota yang ada di singgasana. Ara pun berusaha melihatnya. Tapi, ia segera diminta menunduk oleh prajurit itu. Ara tidak diperkenankan untuk melihatnya. Prajurit itu beranggapan Ara sangat tak sopan. Ara pun menunduk kembali tanpa berani melihat siapa gerangan pria yang datang. Tak berapa lama ruangan itupun didatangi beberapa orang. Ara akan disidang.
__ADS_1
"Siapa gadis ini?" tanya pria bermahkota tersebut.
"Yang Mulia. Wanita ini terlihat keluar dari peti kemas yang baru saja datang dari pelabuhan. Warga pun mengira dia adalah pencuri dari isi peti kemas tersebut. Tapi dia tidak mau mengakuinya. Dia berdalih," terang prajurit itu.
Pria bermahkota itu tampak memerhatikan Ara. Di dalam hatinya merasa tidak mungkin gadis seperti Ara adalah seorang pencuri. Terlebih Ara mengenakan gaun yang sangat mahal. Gaun putih dengan manik-manik mutiara asli tampak begitu mewah jika dipakai oleh seorang pencuri.
"Nona, apakah kau bisa mendengarku?" tanya pria bermahkota itu.
Ara mengangguk.
"Tapi Yang Mulia--" Prajurit itu pun seperti tak terima.
"Tak apa. Aku ingin melihatnya." Pria bermahkota itu menuturkan.
__ADS_1
Pada akhirnya Ara dipersilakan untuk mengangkat kepalanya di hadapan pria bermahkota tersebut. Dan saat Ara melakukannya, saat itu juga pria itu seperti melihat sesuatu pada Ara. Ia terkejut dan diam sejenak. Sedang sang penasehat yang berada di sisinya tampak kebingungan.
"Baginda?" Sang penasehat tampak terheran dengan rajanya.
Ya, pria bermahkota itu adalah Raja Arthemis, ayah dari Yang Xi. Ia pemimpin negeri ini yang masih di bawah perintah raja terdahulu, kakek Xi sendiri. Ara pun jadi mengetahui bagaimana rupa sang raja. Yang mana memiliki paras yang tak jauh berbeda dengan Xi. Ara pun melihat keadaan sekitarnya. Beberapa orang menjadi saksi kehadirannya.
Jadi ini ruang singgasana raja?
Tampak di sekeliling Ara dipenuhi oleh kursi-kursi berbaris rapi. Ara pun melihat ke arah penasehat Raja yang ada di sana. Tapi saat melihatnya, saat itu juga Ara menangkap ketidaksukaan sang penasehat kepadanya. Tapi Ara tidak ingin terlalu memusingkannya. Ia membiarkan saja perasaannya.
"Yang Mulia?" Penasehat raja kembali menegur rajanya.
"Em, ya. Bawa Nona ini ke ruang kecantikan istana. Beri dia tempat yang layak. Aku ingin bicara empat mata padanya," tutur sang raja yang membuat semua hadirin terbelalak seketika.
__ADS_1
"Ap-apa? Yang Mulia?"