DICULIK PANGERAN KEGELAPAN

DICULIK PANGERAN KEGELAPAN
Kebenaran


__ADS_3

Xi beranjak bangun. Ara pun segera membantunya. Saat itu juga aroma parfum Ara tercium di hidung Xi. Xi pun menghirup dalam-dalam aroma parfum itu. Ia ingin berlama-lama di dekat Ara. Xi kemudian duduk di kepala kasur dengan Ara yang menemaninya di sisi.


"Maaf. Aku tidak bisa mengendalikan tubuhku." Xi memulai percakapan ini.


Ara terlihat prihatin. "Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Pangeran?" Ara pun segera menanyakannya.


Xi tertunduk sedih di depan Ara. "Aku ... terikat perjanjian dengan leluhurku." Xi akhirnya jujur kepada Ara.


Saat itu juga Ara merasa bingung. "Terikat perjanjian?" tanya Ara lagi.


Xi mengangguk. "Sejak di dalam rahim ibuku, aku sudah terikat dengan perjanjian itu. Yang mana sewaktu-waktu dia bisa mengendalikanku. Maka dari itu aku selalu berjuang keras untuk melawan pengaruhnya agar aku tetaplah aku. Bukan dia." Xi menerangkannya.


Ara menelan ludahnya. Ia jadi teringat dengan perkataan Tetua Agung yang mengatakan jika Xi adalah pangeran yang terkena kutukan. Lantas Ara pun menanyakannya.

__ADS_1


"Apakah tanda ular itu adalah lambang keberadaannya?" Ara menanyakannya.


Sontak Xi terkejut. "Jadi kau sudah tahu?!" Xi tampak tak percaya.


Ara mengangguk. Saat itu juga Xi merasa sedih sekali. Kesempatannya untuk bersama Ara seperti hilang seketika. Ia merasa pesimis untuk mendapatkan Ara.


"Pangeran, ceritakan padaku." Ara pun meminta kepada Xi.


Xi menoleh ke Ara. Ia tatap dan perhatikan gadis yang begitu menyejukkan hatinya. Ia pun ragu-ragu untuk menjawabnya. Namun, kedua bola mata Ara seolah meminta untuk segera menjawabnya. Xi pun tak berdaya untuk menutupinya.


"Astaga ...." Saat itu juga Ara tak percaya.


"Aku adalah putra satu-satunya yang dimiliki kerajaan ini. Kata ibuku dulu, aku memang mempunyai seorang kakak. Tapi dia sudah meninggal. Dia dimakan siluman ular itu saat masih berada di dalam kandungan," terang Xi.

__ADS_1


"Apa?!!" Saat itu juga bulu kuduk Ara merinding semua.


"Ara, maafkan aku. Inilah yang terjadi padaku. Aku menjadi wadah dari siluman ular itu. Sehingga terkadang aku mempunyai dua kepribadian yang berlawanan. Kadang baik, kadang juga jahat. Emosiku dikendalikan olehnya. Aku harap setelah ini kau tidak akan mengucilkanku." Xi berharap pada Ara.


Saat mendengarnya, saat itu juga entah mengapa Ara merasa situasi sulit mulai melandanya. Ia jadi harus berpikir cepat agar hal-hal tak terduga itu tidak terjadi padanya. Ara kemudian menanyakan inti dari pembicaraannya kepada Xi.


"Apakah ada penawarnya? Apakah perjanjian itu bisa diakhiri? Jika bisa, bagaimana caranya?" tanya Ara kembali.


Saat itu juga Xi menelan ludahnya. Ia menatap Ara dengan wajah yang amat sedih. Tak lama kemudian Xi pun meneteskan air matanya. Di hadapan Ara, di hadapan gadis yang disukainya.


"Cara terlepas dari perjanjian itu adalah dengan membunuh wadahnya. Jika wadahnya mati, maka tidak akan ada lagi penerusnya," tutur Xi dengan suara yang sedih.


"Pangeran ...." Saat itu juga Ara jadi mengerti maksud dari hal yang Xi bicarakan.

__ADS_1


Ya Tuhan, inikah yang dimaksud Tetua Agung itu? Ara bertanya-tanya sendiri.


__ADS_2