
"Ara, bagaimana?" Xi pun bertanya lagi pada Ara.
"Pangeran." Tampak Ara yang masih bingung untuk menjawabnya.
"Katakanlah, Ara. Aku masih menunggunya," kata Xi lagi.
Ara tersenyum. "Tapi ... sebelum menjawab, ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu." Ara meminta Xi mendengarkannya terlebih dahulu.
"Apa?!" tanya Xi segera.
"Sebenarnya ... sebenarnya hal apa yang membuatmu menyukaiku?" tanya Ara kemudian.
Saat itu juga Xi menelan ludahnya. Semilir angin yang berembus seolah ikut menunggu jawaban darinya. Harum semak bunga yang ada di sana juga seakan ikut menantikan jawaban Xi atas pertanyaan Ara. Xi pun lantas menjawabnya.
"Kau ... adalah wanita pertama bagiku," kata Xi yang membuat Ara terkejut seketika.
"Maksud Pangeran?" tanya Ara lagi.
__ADS_1
Xi menunduk. Ia tersenyum. Ia kemudian melihat Ara kembali. "Kau berhasil memberiku debaran jantung yang tidak pernah kurasakan sebelumnya, Ara. Kau terindah dari bunga-bunga yang pernah aku temui di dunia ini." Xi berkata lagi.
Pangeran ....
Ara tersipu malu. Seketika itu juga pipinya merona merah karena malu. Sedang Xi tampak menikmati wajah Ara yang memerah seperti itu. Ia merasa senang karena telah berhasil membuat Ara tersipu. Sedang Ara sendiri seperti kehilangan kata-katanya lagi. Ia tak mengerti mengapa harus mendapatkan jawaban yang seperti ini.
"Pangeran, kau terlalu banyak memujiku." Ara pun tidak enak hati.
Xi tertawa. Tawa yang tertahan dari mulutnya. "Aku jujur, Ara. Aku memang menyukaimu. Dan aku harap hanya satu-satunya pria yang ada di hatimu." Xi kembali menuturkan.
Saat mendengarnya, saat itu juga Ara bingung untuk menanggapinya. Ia tak percaya dengan jawaban yang Xi lontarkan untuknya. Yang mana membuat hati Ara terenyuh sekaligus kasihan yang bersamaan. Xi tampan. Ia juga pangeran yang terpandang. Ara tak menyangka jika Xi juga akan terjebak dalam cintanya. Ara tak mengerti ini semua.
Saat Ara mengatakannya, saat itu juga getaran cinta yang ada di hati Xi semakin membesar. Ia lantas memberanikan diri untuk lebih mendekat ke Ara. Xi pun memegang pipi Ara. Ia kemudian mendekatkan wajahnya. Perlahan-lahan hingga akhirnya hangat napas itu bisa saling mereka rasakan. Ara pun tampak pasrah menerimanya. Ara memejamkan matanya.
Kuserahkan semuanya padamu, Ara.
Sementara Xi mulai meraih bibir itu. Xi pun ikut memejamkan matanya untuk mencium bibir Ara. Tapi di saat itu juga...
__ADS_1
"Akh!!!" Xi merasakan sakit yang teramat pada jantungnya.
"Pangeran?!" Ara pun terkejut seketika. "Pangeran apa yang terjadi?!" Ara pun beranjak dari duduknya.
Xi seolah tidak bisa mendengar Ara. Ia kemudian menghempaskan semua yang ada di atas meja. Saat itu juga Ara terbelalak seketika.
Kenapa ini?! Ada apa?!
Sesuatu pun mulai tercium oleh Ara. Aroma bunga kasturi itu menusuk hidung Ara tiba-tiba.
Apakah yang diberikan Tetua Agung ini bereaksi? Ara bertanya-tanya sendiri.
"Akhh!!!" Ia pun mendengar Xi kesakitan.
"Tolong! Prajurit, tolong!"
Pada akhirnya Ara memanggil prajurit untuk meminta bantuan. Ara tidak tahu apa yang terjadi pada Xi. Ia begitu panik melihat Xi yang seperti orang kerasukan. Prajurit pun mulai berdatangan ke gazebo depan istana. Mereka mencoba menenangkan Xi bersamaan. Tapi, nyatanya Xi semakin tidak bisa dikendalikan.
__ADS_1
Apa yang sebenarnya terjadi? Ara pun bertanya-tanya sendiri.