DICULIK PANGERAN KEGELAPAN

DICULIK PANGERAN KEGELAPAN
Tergesa-gesa


__ADS_3

Dan begitulah yang Rain katakan di dalam hatinya. Ia berharap Ara bisa memberikan kabar kepadanya. Ia juga berharap Ara bisa secepatnya pulang ke Angkasa. Rain merindukannya. Sejuta kerinduan terpendam di hatinya. Hanya untuk Ara, hanya untuk seorang gadis penjaga pohon surga. Lantas akankah kisah mereka seindah dogeng Cinderella?


Menjelang tidur...


Suasana di istana Arthemis terasa begitu syahdu manakala sang gadis yang dicintai pangeran negeri tersebut merebahkan kepalanya di bahu Xi. Ialah Ara yang kini menatap rembulan bersama Xi di depan teras kamarnya. Tampak Xi yang juga memegang tangan Ara. Tanpa peduli dengan prajurit yang berjaga malam di sana.


"Ara."


"Hm?"


"Aku tahu ini berat. Tapi aku memang serius padamu." Xi mengungkapkan isi hatinya.


Ara mendongakkan kepala untuk melihat Xi. "Tapi, Pangeran. Aku tidak tega dengan garis keturunan kita nantinya. Mereka akan menanggung hal itu." Ara menyinggung soal siluman ular yang berada di dalam tubuh Xi.


Saat itu juga Xi mengembuskan napas lelahnya. "Aku merasa frustrasi jika mengingat hal itu. Rasanya ingin bunuh diri saja." Tiba-tiba raut wajah Xi berubah depresi.


"Apakah ada penawarnya? Maksudku apakah bisa dipindahkan ke hewan?" tanya Ara ingin tahu.


Xi menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa. Dia juga tahu mana yang hewan atau manusia." Xi menundukkan wajahnya, merasa sedih dengan takdir hidupnya.

__ADS_1


Ara menatap Xi dengan lembut. "Jika itu penyakit, aku rasa pasti ada obatnya." Ara pun duduk tegak di hadapan Xi sambil memegang lututnya.


"Bagaimana kau bisa yakin?" tanya Xi segera.


Ara tersenyum. "Aku akan menanyakannya kepada orang yang lebih tahu akan hal itu," jawab Ara.


Xi tertawa kecil di sisi Ara. Merasa Ara tidak akan menyerah begitu saja. Padahal ia telah menjelaskan semuanya tentang risiko tubuh yang dijadikan wadah perjanjian ratu siluman ular itu.


"Em, baiklah. Nanti akan kutemani dirimu untuk menemui sesepuh istana." Xi berjanji.


Ara mengangguk pelan. Ia juga tersenyum kepada Xi. Saat itu juga Xi melihat Ara begitu indah sekali. Paras cantiknya, imut dan juga menggemaskan hati. Lantas Xi pun menarik Ara ke tubuhnya. Ia berniat mencium sang gadis. Tapi saat itu juga Ara menahannya. Ia menggelengkan kepalanya kepada Xi. Sontak Xi pun berhenti.


Xi menatap Ara tepat di mata. Ia tampak tak terima dengan penolakan sang gadis. Pada akhirnya Xi memegang tengkuk leher Ara dan punggungnya secara bersamaan. Ia menariknya untuk meriah bibir yang terpoles lipsglos berwarna pink itu. Hingga akhirnya...


"Pangeran! Pangeran!"


Sebuah teriakan Xi dengar dan membatalkan ciumannya. Ia pun segera menoleh ke asal suara. Tampak seorang pelayan pria yang berjalan cepat ke arahnya.


Xi beranjak berdiri. "Ada apa?" Xi pun segera menanyakannya.

__ADS_1


"Pangeran, maafkan saya. Tapi sesuai pesan Pangeran sebelumnya, saya harus menyampaikan hal ini." Pelayan tersebut terlihat tergesa-gesa.


"Katakanlah. Ada apa?" tanya Xi lagi.


"Yang Mulia ... Yang Mulia Ratu sudah kembali." Pelayan mengabarkan. Saat itu juga jantung Xi berdebar kencang.


Ibu sudah kembali bersama kakek ke istana ini? Astaga, apa yang harus kulakukan? Bisakah mereka menerima kehadiran Ara yang berasal dari Angkasa?


Tiba-tiba saja rasa cemas itu melanda Xi. Xi khawatir ibu dan kakeknya tidak bisa diajak berkompromi tentang dari mana Ara berasal. Xi khawatir tidak bisa menjelaskan dengan baik kepada ibu apalagi kakeknya yang memegang teguh prinsip kerajaan. Xi pun segera bertindak untuk Ara.


"Baik. Usahakan ibu atau kakek tidak mencariku sampai besok pagi. Kau bisa ke istana utama sekarang." Xi berkata kepada pelayan prianya.


"Baik, Pangeran."


Pada akhirnya pelayan itu pun pergi bersamaan dengan kekhawatiran Xi. Ara pun lekas berdiri untuk mendekati Xi. Ia menanyakan apa yang terjadi. Ara ingin tahu apa yang membuat Xi sampai terlihat cemas seperti ini.


"Pangeran, ada apa?" Ara pun menanyakannya kepada Xi.


.........

__ADS_1


...Tamat...


__ADS_2