DICULIK PANGERAN KEGELAPAN

DICULIK PANGERAN KEGELAPAN
Merasa Senang


__ADS_3

"Lalu?" Ara pun antusias mendengarkannya.


"Tapi saat aku melihat gadis itu, aku menyadari jika pesonanya melebihi rasa ketertarikanku untuk mencicipi buah surga. Aku malah jadi tidak ingat tujuan awalku datang ke Angkasa." Xi menuturkan. Ara pun tersipu malu seketika.


Ara tidak tahu apakah yang Xi katakan memang benar atau tidak. Tapi ia merasa cukup tersanjung dengan kata-kata yang Xi lontarkan. Ara pun mencoba membuka hatinya. Ia mengikuti arus kehidupan. Ara lantas berhenti melangkah saat sudah sampai di teras depan istana. Lampu-lampu taman pun menjadi saksi dirinya.


"Pangeran."


"Ya?"


"Apakah kau akan terus berkelana jika aku kembali ke Angkasa?" tanya Ara segera.


Xi pun menelan ludahnya. Ia tahu apa maksud dari kata-kata Ara.


Jadi dia ingin pulang ke Angkasa? Dia tidak ingin bersamaku di sini? Apa dia tidak bisa belajar untuk mencintaiku dan tinggal di sini bersamaku? Apakah aku terlalu buruk di matanya?


Seribu pertanyaan Xi ajukan kepada dirinya sendiri. Ia berharap dengan perubahan sikapnya dapat membuat Ara merasa nyaman berada di dekatnya. Namun, nyatanya hal itu hanya keinginannya saja. Ara tetap berkata ingin kembali ke Angkasa. Yang mana hal itu membuat Xi bersedih hati.

__ADS_1


"Pangeran?" Ara pun bertanya lagi.


Keduanya kini berdiri berhadapan di teras depan istana, dekat dengan taman bunga yang ada di sana. Xi pun tampak keberatan untuk menjawab pertanyaan Ara. Ia ingin jujur menginginkan Ara tinggal di istananya. Tapi ia khawatir membuat Ara kembali marah.


"Ara, aku ... sepertinya aku akan tetap berkelana untuk mencari gadis yang sepertimu," kata Xi yang membuat Ara terbelalak seketika.


"Pangeran?!" Ara pun tak percaya dengan jawaban Xi.


Xi tertunduk di hadapan Ara. "Aku ... merasa nyaman saat bersamamu. Tapi jika kau kembali ke Angkasa, maka aku akan terus melanjutkan pencarianku. Aku akan mencari gadis yang sepertimu," tutur Xi kembali.


Ara menelan ludahnya. Hatinya terenyuh dengan kata-kata Xi.


Sungguh Ara sendiri tak mengerti mengapa ia bisa selalu membuat pangeran jatuh cinta kepadanya. Ara hanya sebatas menjalankan tugasnya di Angkasa lalu cinta itu pun datang kepadanya. Dari dua pangeran Angkasa, putra sulung kerajaan Asia, dan kini putra mahkota dari Negeri Arthemis. Ara bingung memikirkan bagaimana hal ini bisa terjadi. Benarkah karena efek dari pohon surga itu sendiri?


"Pangeran."


"Ya?"

__ADS_1


"Jangan bersedih. Aku akan menemanimu," kata Ara yang membuat Xi terbelalak seketika.


"Ara?!" Xi pun terkejut mendengarnya.


Ara tersenyum. Ia lalu mendekatkan dirinya ke arah Xi. Ara kemudian berjinjit. Ia mencium pipi Xi.


Ara?!!


Saat itu juga jantung Xi berdetak hebat. Seluruh aliran darah di dalam tubuhnya melaju cepat. Ara ternyata menciumnya di malam ini. Xi pun tak percaya dengan apa yang ia alami.


Ara tersenyum. Ia menatap Xi. "Aku ingin istirahat. Rasa kantuk tiba-tiba saja datang menerjangku." Ara mengungkapkan keinginannya.


Xi mengangguk. Ia mengerti maksud Ara. "Mau kugendong ke kamar?" Xi menawarkan dirinya.


"He-em." Ara mengangguk. Saat itu juga Xi jadi riang seketika.


Xi merendahkan tubuhnya di hadapan Ara. Ia berjongkok. "Naiklah."

__ADS_1


Xi pun meminta Ara untuk naik ke atas punggungnya. Ara pun mengerti lalu langsung naik ke atas punggung Xi. Saat itu juga dada Ara menekan punggung Xi. Yang mana membuat jantung Xi seperti ingin melompat saja dari tempatnya.


__ADS_2