
Tuhan, ampuni dosaku. Maafkan kesalahanku. Jika memang ini akhir hidupku, maka sampaikan rasa terima kasihku kepada ayah dan ibu. Aku mencintai mereka, selama-lamanya.
Suasana tampak mencekam kala sang algojo sudah memegang pedal tiang gantungan. Sang pembawa surat dari istana pun mulai memberi aba-aba. Hingga akhirnya tiba bagi algojo tersebut untuk menarikkan pedalnya. Saat itu juga sebuah lobang besar terbuka di bawah kaki Ara. Sontak tubuh Ara ikut tersentak. Tali tiang gantungan itu menarik lehernya. Tapi, saat itu juga...
"Awas!!!"
Sebilah pedang melayang cepat ke arah tali gantungan itu. Sontak memutus tali yang mengikat leher Ara. Ara pun terjatuh. Sedang pedang itu hampir mengenai orang-orang yang ada di sana. Para penduduk yang melihatnya pun segera berhamburan dari tempatnya. Sedang Ara jatuh pingsan di tempat. Tapi seseorang itu segera menolongnya, mendekapnya agar tidak sampai terbentur tanah.
Puluhan menit kemudian...
__ADS_1
Semilir angin di ruang pengobatan istana menjadi saksi akan seorang pangeran yang gundah dan gelisah. Ia tampak hilir mudik menantikan proses pemeriksaan seorang gadis yang ada di dalam sana. Angin yang berembus sejuk pun seolah tidak bisa menenangkan hatinya. Hatinya berguncang hebat setelah apa yang dilihatnya tadi. Ia tidak menyangka jika semuanya akan seperti ini.
Terlambat sedikit saja aku bisa kehilangannya.
Ialah Xi, putra satu-satunya dari Kerajaan Arthemis. Sebuah negeri yang ada di barat Angkasa dengan hasil pertambangan yang luar biasa. Negeri itu adalah negeri kecil yang memiliki banyak sekutu. Sehingga termasuk salah satu negeri yang disegani. Arthemis juga merupakan negeri beriklim dingin karena sering turun salju. Salju turun tanpa memandang cuaca atau iklim yang sedang berlangsung. Salju bisa turun di sana tanpa perlu menunggu musim dingin tiba.
Lambang negeri ini adalah bongkahan kristal yang berbentuk seperti pegunungan. Melambangkan jika di negeri ini dipenuhi bebatuan berharga yang bisa dijual dengan harga yang sangat mahal. Para penduduknya juga rata-rata seorang pengrajin emas atau tembaga. Tetapi di sana juga terdapat pedagang dan nelayan yang tidak terlalu banyak jumlahnya. Dan makanan pokok di negeri ini adalah roti. Karena mereka tidak bisa menanam padi.
"Bibi, bagaimana?"
__ADS_1
Tak lama kemudian seorang wanita keluar dari ruang pengobatan istana. Wanita itu tampak berkaca mata dan juga sudah tua. Ia adalah Nur, seorang tabib perempuan istana. Ia terbiasa menangani pengakit yang diderita ratu atau istri pejabat Arthemis. Xi pun segera menanyakan keadaan Ara kepadanya.
"Pangeran, saya rasa gadis yang dibawa Pangeran mengalami kelelahan fisik dan mental yang cukup parah." Nur menuturkan.
"Ap-apa?!" Xi pun tak percaya.
"Detak jantungnya tidak selaras dengan denyut nadinya. Terdapat beberapa gumpalan di kepala bagian kanannya. Sepertinya kita harus segera melakukan tindakan agar gadis tersebut bisa pulih dengan cepat," tutur Nur lagi.
"Aku ikut saja, Bi. Apapun yang diharus dilakukan, maka lakukanlah. Aku ingin dia sehat kembali." Xi tampak begitu panik.
__ADS_1
Nur mengerti kecemasan yang melanda Xi. Tapi ia juga tahu di setiap pengobatan pasti memiliki risiko tersendiri. "Pangeran, saya rasa hal ini tidak bisa dilakukan," kata Nur lagi.
Saat itu juga Xi terkejut. "Maksud, Bibi?" tanya Xi lagi.