
"Kita harus melakukan pembekaman di area kepala bagian kanannya. Dan hal itu tidak bisa dilakukan jika di area tersebut masih ada rambutnya. Secara gamblang saya katakan kita harus menggunduli rambut gadis itu untuk melakukan pengobatan."
"Ap-apa?!!"
Xi tersentak hebat. Ia tak percaya jika proses pengobatan harus seperti itu dilakukan untuk memulihkan keadaan Ara secepatnya. Sedangkan rambut adalah sesuatu yang sangat berharga bagi seorang wanita ataupun putri kerajaan. Bak mahkota yang harus dijaga dan dirawat keindahannya. Tapi saat mendengar proses pengobatan harus menghilangkan sebagian rambut Ara, Xi tidak tahu harus berbuat apa. Ia tak menyangka jika pengobatan harus dilakukan seperti ini.
"Apakah tidak ada cara lain?" tanya Xi segera.
Nur menunduk sejenak. Ia menghela napasnya. "Ada. Tapi membutuhkan waktu yang lebih lama, Pangeran," kata Nur lagi.
"Katakan, Bi. Katakan segera!" Xi pun menunggunya.
"Nona harus mendapat pijat refleksi secara kontinyu dan juga beberapa totok di kepalanya. Emosi dan pikirannya tidak stabil sehingga menyebabkan beberapa pembuluh darah mengalami penyumbatan. Sehingga kita harus melancarkan aliran darahnya dengan pembekaman. Tapi jika tidak bisa dilakukan, maka kita pakai cara lain yang lebih aman. Seperti yang sudah saya terangkan." Nur menjelaskan.
Xi menelan ludahnya. Ia merasa bersalah kepada Ara. Gadis itu harus menanggung semua akibat dari perbuatannya. Xi pun menyesal dengan tindakannya yang memaksa Ara. Ia ingin menebus kesalahan segera.
__ADS_1
"Bolehkah aku melihatnya sekarang, Bi?" tanya Xi kemudian.
Nur mengangguk. Saat itu juga Xi segera masuk ke ruangan pengobatan. Tampak lilin-lilin beraroma terapi yang dinyalakan di sana. Xi pun segera menutup pintunya. Ia menuju ke Ara yang sedang terbaring di sana.
"Ara ...."
Ia pun duduk berlutut di samping pembaringan Ara. Ia melihat Ara yang belum tersadarkan dari pingsannya. Wajah Ara tampak amat pucat seperti tidak ada kehidupan. Xi pun tanpa sadar meneteskan air matanya. Ia menyesal telah membuat Ara sampai sedemikian.
"Ara, maafkan aku .... "
Jadi dialah gadis yang dimaksud oleh putra mahkota Asia?
Tanpa Xi ketahui, ayahnya melihat dari balik pintu ruang pengobatan. Ia melihat sendiri bagaimana Xi yang menyebut nama Ara dan menangis di sampingnya. Sang raja pun menyadari siapa gerangan gadis yang bersama putranya. Ia turut menyesal dengan tindakan yang ia ambil semalam.
.........
__ADS_1
Teruntuk Yang Mulia, Raja Arthemis.
Aku putra sulung kerajaan Asia. Aku ingin menanyakan kepada Baginda perihal seorang gadis yang sedang kami cari. Apakah dia ada di sana?
Raja mengingat surat yang dibacanya tadi pagi.
Namanya Ara, seorang gadis cantik dengan tubuh yang tidak terlalu tinggi. Berkisar kurang dari 160 senti dengan mata besar dan bulu mata yang lentik. Bola matanya berwarna hitam dengan garis wajah yang jelas. Rambutnya juga hitam dan panjang hampir sepinggang. Dia memiliki kepribadian yang baik dan juga sopan. Dia adalah wanita yang kuidamkan.
Aku harap Yang Mulia dapat segera memberikan kabar. Jika dia berada di sana, maka aku akan segera menjemputnya. Karena dia adalah wanita yang berharga bagiku.
Salam hormat dari putra mahkota Asia,
Zu.
.........
__ADS_1