DICULIK PANGERAN KEGELAPAN

DICULIK PANGERAN KEGELAPAN
Tersadar


__ADS_3

"Jadi aku belum mati?" Ara bertanya-tanya sendiri.


"Kau terlalu lelah, Dewi. Akhir-akhir ini kau terlalu banyak bersafari. Mungkin untuk sementara waktu bisa membahagiakan dirimu sendiri, sebelum menghadapi peristiwa yang akan terjadi. Takdirmu sudah dituliskan. Sekuat apapun mencoba menghindar, pasti akan terjadi. Dan sejauh apapun kau pergi darinya, dia pasti akan menghampirimu juga. Sesuai dengan perjanjian saat masih berada di dalam kandungan. Maka nikmatilah masa-masa membahagiakan dirimu sendiri." Tegua Agung menyarankan.


"Aku tidak mengerti maksud Kakek. Bisa lebih diperjelas lagi, Kek?" Ara tampak malas berpikir.


Tetua Agung tersenyum. "Belajarlah mencintai pangeran Arthemis selagi sempat. Berikan dia kebahagiaan sebelum kalian berpisah selama-lamanya. Berikan dia ketenangan dalam hidupnya. Dan nikmati kehidupanmu di Arthemis untuk sementara. Tinta takdir sudah mengering, mau tak mau kau harus melewatinya. Tuhan memberikan cobaan karena kau kuat, Dewi. Percayalah pada dirimu sendiri." Tetua Agung berpesan.


Saat mendengarnya, saat itu juga Ara segera menelaah perkataan Tetua Agung. Ia yang sudah pasrah pun mulai mengerti apa maksud dari perkataan itu. Tapi, Ara ingin bertanya kembali. Ia ingin bertanya bagaimana kedua pangerannya di Angkasa.


"Kakek, bagaimana dengan--"

__ADS_1


Namun, Ara tidak sempat menanyakannya karena Tetua Agung terburu pergi. Ara pun hanya bisa meratapi nasibnya sendiri. Mencoba mengingat dengan baik apa saja yang dipesankan kepadanya. Mau tak mau Ara harus menjalaninya.


Sementara itu...


Xi tampak merawat Ara. Ia membawa Ara ke kamarnya. Ia meletakkan Ara di atas kasurnya. Sedang dirinya tidur di kursi panjang yang ada di sana. Xi khawatir ada orang yang berbuat jahat ke Ara. Maka dari itu ia membawa Ara ke dalam kamarnya.


Hari ini adalah hari ke dua Ara koma. Tapi belum juga ada tanda-tanda Ara akan tersadarkan. Xi pun mencoba duduk di samping Ara lalu membisikkan sesuatu ke telinganya. Ia ingin Ara segera tersadarkan. Xi merindukan Ara dan segala sesuatu yang dimiliki gadisnya. Tak lama kemudian tangan Ara pun mulai bergerak. Ternyata Ara menanggapi bisikannya.


Xi yang mengetahui Ara mulai tersadarkan itu tentu saja merasa senang bukan kepalang. Ia kemudian segera mengambilkan air hangat untuk mengompres Ara. Ia mencoba mengompres di beberapa titik yang ada di kepala Ara agar sang gadis dapat merespon air hangat itu. Dan ternyata benar saja, Ara pun mulai membuka matanya. Ia membuka mata dan melihat Xi ada di sampingnya.


"Pa-nge-ran .... "

__ADS_1


Dengan terbata Ara pun mengatakannya. Sontak Xi jadi semringah dan segera menyambut Ara. "Ara, kau telah tersadarkan? Ara, aku mengkhawatirkanmu."


Xi pun refleks memeluk Ara tanpa ingat dengan apa yang sedang dilakukannya. Ara juga menyadari apa yang dikatakan Tetua Agung itu memang ada benarnya. Saat Xi memeluk Ara, saat itu juga Ara merasakan seperti sebuah energi yang berlawanan sedang bertabrakan di sekitarnya. Xi memang bukan manusia biasa. Ia pangeran yang terkena kutukan.


Fajar ini waktu yang membahagiakan bagi Xi karena Ara tersadarkan dari komanya. Ara pun tampak diam saat dipeluk Xi. Ia mencoba merasakan energi yang bertabrakan itu dengan baik. Hingga akhirnya Xi menyadari apa yang sedang ia lakukan. Xi pun segera menjauhkan dirinya dari Ara.


"Maaf, Ara."


Hatinya begitu senang dan gembira sampai lupa dengan keadaan yang sesungguhnya. Ara pun tampak tersenyum kepada Xi. Ia menerima pelukan dari pangeran Arthemis itu.


"Belajarlah mencintai pangeran Arthemis selagi sempat. Berikan dia kebahagiaan sebelum kalian berpisah selama-lamanya. Berikan dia ketenangan dalam hidupannya. Dan nikmati kehidupanmu di Arthemis untuk sementara. Tinta takdir sudah mengering, mau tak mau kau harus melewatinya. Tuhan memberikan cobaan karena kau kuat, Dewi. Percayalah pada dirimu sendiri."

__ADS_1


__ADS_2