
Mereka memang benar-benar kelewatan!
Xi kemudian segera berpamitan kepada Ara untuk menuju istana. Ia tidak bisa tinggal diam saja. Sesampainya di istana pun ia segera menceritakan hal yang ia dengar dari Ara. Dan ternyata sang ayah membenarkannya.
"Gadis itu benar."
Sontak Xi jadi semakin murka. Ia merasa penasihat ayahnya tidak perlu lagi diberi ampunan. Ia ingin memberi hukuman yang setimpal.
"Ayah, aku rasa dalang dari semua masalah yang ada di istana ini adalah karena penasihat ayah sendiri. Dia tidak benar. Dia melakukan penyalahgunaan kekuasaan. Gadis lemah seperti Ara, dia jatuhkan hukuman mati. Dia benar-benar gila! Dia kelewatan, Yah! Jangan-jangan selama ini yang menyarankan untuk tetap berperang dingin dengan Angkasa itu juga dia!" Xi menduganya.
Saat itu juga sang ayah tampak duduk terdiam di ruangannya. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Karena nyatanya apa yang dikatakan sang putra adalah benar. Penasihat raja sendiri yang menyarankan untuk menolak perjanjian damai dengan pihak Angkasa.
__ADS_1
Sepertinya anakku lebih terbuka sekarang. Dia sudah mulai peduli dengan kerajaan.
Selama ini Xi tidak pernah mau ikut andil dalam sistem pemerintahan. Karena baginya hal itu tidak ada gunanya sama sekali. Hukum di Arthemis tetap menjalankan warisan leluhur yang begitu otoriter. Raja yang memimpin negeri pun hanya sebagai alat pemerintahan saja. Raja tidak bisa mengambil alih apa yang sudah dicetuskan. Sehingga karena hal itulah Xi lebih memilih berkelana keluar.
"Jadi apa inginmu dalam hal ini?" tanya raja kepada Xi.
"Ayah, hal ini tidak bisa dibiarkan. Aku tidak rela ada yang mencelakai Ara. Dia harus mendapat hukuman yang setimpal, Yah. Dia mencoba untuk membunuh wanitaku. Aku ingin Ayah memecatnya. Dan juga semua menteri yang terlibat dalam penjatuhan hukuman." Xi berkata seperti itu.
Raja menganggukkan kepalanya. "Ayah mengerti."
Beberapa saat kemudian...
__ADS_1
Terjadi pergolakan di istana manakala sang penasihat tidak terima dipecat oleh raja. Ia pun segera menghadap raja untuk mempertanyakan apa alasannya. Dan tentu saja raja menjelaskannya dengan saksama.
"Yang Mulia, jadi Anda memecatku karena keputusan waktu itu? Tidak, Yang Mulia. Keputusan Yang Mulia lakukan memang sudah benar. Aturan itu telah dicetuskan sejak zaman dulu. jangn karena Yang Mulia menyayangi pangeran Xi, Yang Mulia melupakan aturan kerajaan. Sungguh saya sangat sakit hati diperlakukan tidak adil seperti ini." Penasihat raja mengajukan banding.
Tampak raja yang tidak ingin banyak bicara. "Keputusanku sudah bulat. Jadi silakan selesaikan administrasi kerajaan dengan baik. Kau bisa kembali ke rumahmu segera." Raja memutuskan.
"Ap-apa?!" Sang penasihat pun tidak terima. "Yang Mulia, ini tidak adil bagiku. Sekalipun Yang Mulia berniat menikahkan pangeran dengan gadis itu, ketahuilah itu tidak mungkin terjadi. Penduduk pribumi Arthemis dilarang keras melakukan pernikahan dengan orang-orang dari Angkasa. Yang Mulia harus mengingatnya!" Sang mantan penasihat semakin tidak terima.
"Prajurit! Tolong bawa dia keluar!" Sang raja pun meminta.
"Baik, Yang Mulia."
__ADS_1
Pada akhirnya raja tidak menerima aju banding yang dilakukan mantan penasihatnya. Raja tetap kukuh dengan keputusannya. Karena bagaimanapun ia lebih mencintai putranya.
Sial! Ini semua karena gadis itu!!!