DICULIK PANGERAN KEGELAPAN

DICULIK PANGERAN KEGELAPAN
Tukar Pikiran


__ADS_3

...Shu...



.........


Zu mengangguk. Ia tampak gelisah. Shu pun menyadarinya. "Kau sendiri dari ruangan Menteri Lu. Ada apa?" tanya Shu kepada kakaknya.


Zu mengembuskan napasnya. "Beberapa hari ini aku menunggu balasan surat dari pihak Arthemis. Tapi belum juga ada balasan. Apakah kau melihat burung pengantar pesan sudah kembali ke kandangnya?" tanya Zu kepada adiknya.


Shu menoleh ke belakang. "Setahuku semua burung pengantar pesan sudah kembali ke pekarangan. Memangnya surat apa yang kau tulis untuk Arthemis?" tanya Shu lagi.


Zu melangkahkan kakinya. Ia beranjak menuju ruang kerjanya. Begitu juga dengan Shu yang mengikuti langkah kaki kakaknya. Kedua putra mahkota kerajaan Asia itu tampak akur dan saling bertukar informasi.


"Aku ingin menanyakan apakah Ara ada di sana atau tidak. Itu saja," terang Zu.

__ADS_1


"Apa?! Ara?!" Saat itu juga Shu terkejut.


"Ya. Aku curiga Ara ada di sana. Kejadian di istana Negeri Bunga meyakinkanku jika Ara dibawa ke sana. Atau mungkin lebih tepatnya diculik." Zu menjelaskan.


"Memangnya apa yang terjadi di istana Bunga? Bukankah pesta berlangsung meriah?" tanya Shu lagi.


Zu terlihat cemas. "Yang Xi mengajak Ara berdansa bersama. Mereka berdansa layaknya sepasang kekasih. Aku tak habis pikir mengapa dia bisa seperti itu kepada Ara." Zu terlihat kesal.


"Kau cemburu? Bukankah dansa bagi seorang putri atau pangeran kerajaan adalah hal yang biasa? Mereka bisa melakukannya tanpa cinta. Hanya sebagai penghormatan saja." Shu mendinginkan kakaknya.


Shu berhenti melangkahkan kakinya. "Jadi karena itu kau curiga pada Yang?" tanya Shu lagi.


"Ya." Zu mengangguk. "Aku berniat datang ke Arthemis esok. Tidak biasanya surat dari Asia dibiarkan berlama-lama tak dibalas. Hal ini membuat kecurigaanku semakin bertambah saja." Zu menerangkan.


Shu mengerti. "Aku setuju dengan niatmu, Kak. Tapi jika hanya ingin mengetahui ada atau tidak Ara di sana, mengapa tidak coba mengutus pejabat negeri ini saja untuk menyelidikinya? Bukankah itu lebih mudah?" tanya Shu. "Jika nanti memang benar Ara ada di sana, barulah kau datang menjemputnya. Ya, setidaknya tidak membuang-buang waktu untuk hal yang belum pasti. Pekerjaanmu juga kan banyak di istana." Shu memberikan sarannya.

__ADS_1


Saat mendengarnya, saat itu juga Zu setuju dengan saran dari adiknya. Ia tidak perlu datang langsung jika hanya untuk mengecek keberadaan Ara di Arthemis. Zu bisa mengutus pejabat untuk pergi ke sana.


"Baiklah. Kalau begitu aku akan mengutus pejabat Ling untuk ke sana. Terima kasih, Shu." Zu pun menepuk pundak adiknya.


Shu mengangguk. "Kau bisa bertukar pikiran denganku. Jangan sungkan." Shu meyakinkan.


Sore ini menjadi saksi keputusan Zu yang akan mengirimkan pejabatnya ke Arthemis. Ia ingin mengetahui apakah Ara ada di sana atau tidak. Karena Zu khawatir. Hatinya mengatakan jika Ara ada di sana. Namun, ia mempunyai banyak tugas untuk segera dikerjakan. Sehingga ia menuruti saran dari adiknya.


Aku harap firasatku benar. Jika memang dia yang menyembunyikan Ara, aku tidak boleh diam saja. Aku datang lebih dulu kepadanya. Dia tidak boleh merebutnya dariku. Aku sudah terlanjur gila padanya. Maka dari itu aku yang harus mendapatkannya. Ara, cepatlah berikan kabar tentang keberadaanmu padaku. Aku menunggunya.


.........


...Zu...


__ADS_1


__ADS_2