DICULIK PANGERAN KEGELAPAN

DICULIK PANGERAN KEGELAPAN
Merasa Dimiliki


__ADS_3

"Ara ...." Xi pun menegakkan tubuhnya, menatap Ara.


Ara masih memalingkan wajahnya dari Xi. "Pangeran, kita sudah terlalu jauh. Jangan dilanjutkan," kata Ara kepada Xi.


Xi merasa heran dengan Ara. "Ara, aku mencintaimu. Aku ingin memilikimu, Ara." Xi menatap Ara sangat dalam. Wajahnya menyiratkan keinginan yang begitu besar.


Ara menatap wajah Xi. "Pangeran, kau sudah memilikiku. Apa yang terjadi barusan belum cukup membuktikan?" tanya Ara kepada Xi.


Xi menelan ludahnya. Sebagai seorang pria tentu saja ia menginginkan yang lebih dari ini. Namun, perkataan Ara seolah mengingatkannya untuk menahan diri sebelum pesta pernikahan itu tiba.


Xi mengangguk. "Baiklah. Tapi sekali lagi," pinta Xi kepada Ara.


Lantas ciuman itu pun kembali terjadi. Namun, kali ini Ara mencoba memenuhi apa yang Xi inginkan. Ia melakukan perlawanan terhadap kecupan Xi. Mencium Xi dan membiarkan Xi menelusuri setiap inchi bibirnya. Air terjun pun menjadi saksi ciuman mereka.

__ADS_1


Ini aneh sekali. Setiap kami berciuman, tanda ular di punggungnya semakin berkurang. Dan sekarang ekor ularnya sudah tiada. Apakah dengan cinta bisa menghilangkan tanda itu seutuhnya?


Ternyata Ara melihat perubahan yang terjadi sebelum dan sesudah berciuman dengan Xi. Dari air terjun yang mengalir ke kolam, ia bisa melihat pantulan punggung Xi. Yang mana tanda ular di punggung Xi berkurang saat mereka berciuman. Ara pun semakin memberanikan diri untuk membalas ciuman. Alhasil tanda itu semakin berkurang.


Sepulangnya dari air terjun....


Kemesraan itu akhirnya terjadi di antara Xi dan Ara. Tampak Xi yang tidur di pangkuan Ara saat berada di kereta kuda. Putra mahkota dari Arthemis itu tidak ragu lagi untuk menunjukkan sikap manjanya. Ara pun tersenyum sambil membelai pipi Xi. Xi juga tidak mau kalah dengan mencium tangan Ara berulang kali.


Xi kemudian memiringkan tubuhnya ke Ara. Ia mencium perut Ara lalu mengusap-usapnya. Ia berkhayal jika di perut Ara sudah ada anaknya. Xi merasa bahagia. Penantian cintanya akhirnya terbalaskan. Ia pun berharap bahagia selamanya bersama Ara.


"Ara."


"Hm?"

__ADS_1


"Aku ingin melanjutkan yang tadi," kata Xi.


Ara mencubit hidung Xi. "Tidak boleh, Pangeran." Ara mencegahnya.


"Kenapa? Kita menikah saja. Hari ini juga bisa menikah. Ayah akan mengatur semuanya." Xi terlihat menggebu-gebu.


Ara memasang raut wajah sedihnya. Ia merasa bersalah kepada Xi. Ia tidak tahu harus berbuat apa saat ini selain membahagiakan Xi. Sesuai dengan apa yang dikatakan Tetua Agung padanya.


Pangeran, maafkan aku. Aku belum juga bisa mencintaimu. Yang tadi katakanlah aku khilaf dan terbawa suasana. Sekarang aku telah kembali ke diriku. Aku tidak tahu harus bagaimana ke depannya. Tapi yang jelas aku hanya berusaha membahagiakanmu. Karena nyatanya takdir itu tidak bisa kutolak.


Sejujurnya di dalam hati Ara menyimpan rasa bersalah karena telah berpura-pura mencintai Xi. Ia ingin segera lepas dari jeratan cinta ini. Tapi Ara belum menemukan jalan keluar untuk kembali. Ia masih harus berada di istana Arthemis bersama Xi. Karena Ara tahu jika melarikan diri malah akan membahayakan lagi. Seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Maka dari itu Ara menahan diri untuk tidak gegabah.


Lantas keduanya meneruskan perjalanan pulang ke istana. Tampak Xi yang masih bersikap manja kepada Ara. Sedang Ara hanya bisa tersenyum menanggapinya. Ia terus berpura-pura.

__ADS_1


__ADS_2