
Begitulah bunyi surat yang Zu tuliskan untuk sang raja. Raja Arthemis pun segera menyadari kesalahannya setelah mengetahui siapa Ara yang sebenarnya. Yang mana hal itu membuat hatinya diliputi rasa malu akan tindakannya sendiri. Raja pun membiarkan Xi untuk menemani Ara di sana. Ia ingin beristirahat sebentar untuk menenangkan pikirannya. Raja masih syok dengan kenyataan yang ada di hadapannya.
"Ara!!!"
Sementara itu di kapal besar milik armada Angkasa, tampak seorang pangeran yang sedang bertelanjang dada tersentak hebat dari tidurnya. Ia pun meneriakkan nama Ara, seorang gadis yang ingin ditemuinya. Ialah Rain yang mengalami mimpi buruk akan gadisnya. Jantungnya berdetak cepat dengan gemuruh hebat yang menyelimuti seluruh dadanya. Rain bermimpi buruk tentang Ara.
"Astaga ... apa yang sebenarnya terjadi?"
__ADS_1
Rain baru saja pulang dari istana Asia dan masih dalam perjalanan pulang ke Angkasa. Ia pun beristirahat sejenak untuk mengistirahatkan tubuhnya. Rain segera kembali setelah perbincangannya usai dengan putra mahkota dan Raja Asia. Ia pulang tanpa membawa Ara di sisinya.
Kini ada rasa ketakutan yang menyelimuti pikiran Rain. Ia tidak tahu di mana Ara sekarang. Ia juga tidak tahu Ara sedang apa. Tapi, mimpi buruk yang baru saja terjadi itu seakan mewakilkan apa yang sebenarnya terjadi pada gadisnya. Rain pun kepikiran akan Ara.
Ya Tuhan, saat ini aku tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa. Tolong jaga Ara di manapun dia berada. Aku masih berusaha untuk mencarinya. Aku belum menemukannya. Jika ini adalah jalan bagi kami untuk menguatkan hati, maka tetapkanlah keselamatan untuknya. Aku ingin dia baik-baik saja dan kembali dengan ceria. Aku mencintai makhluk-MU yang satu itu, Tuhan.
Dua jam kemudian...
__ADS_1
Di istana Arthemis tampak sedang terjadi pergolakan antara sang putra mahkota dan pejabat negeri itu. Xi datang ke ruang pejabat istana lalu mengeluarkan pedangnya. Ia bak siap membunuh siapa saja yang telah berani-beraninya mencelakai Ara. Ia pun berteriak bak orang gila.
"Katakan padaku! Siapa yang telah berani menghasut ayah untuk menjatuhkan hukuman mati kepadanya?! Katakan!!!"
Raut wajahnya memerah, berapi-api, seakan siap melahap kayu hingga sampai menjadi abu. Para prajurit yang ada di ruangan pun mencoba untuk menghentikannya. Tapi, Xi seakan tak sungkan untuk menebaskan pedangnya. Ia marah, kesal, yang tak lagi bisa tertahankan. Xi tak terima Ara diperlakukan demikian. Xi ingin membunuh dalang dibalik jatuhnya hukuman mati untuk Ara.
"Hentikan!!!"
__ADS_1
Di tengah suasana yang sedang ricuh itu tampak sang raja datang lalu meminta putranya untuk menghentikan semua. Sontak Xi pun melihat ke arah ayahnya sambil mencoba mengatur ulang napasnya. Para prajurit maupun pejabat yang ada di sana tampak terdiam. Begitu juga dengan sang penasihat raja yang menyembunyikan dirinya dari penglihatan Xi. Ia takut Xi berbalik memberinya hukuman mati.