
Beberapa saat kemudian...
Pagi ini harus terjadi kekacauan di istana karena putra mahkotanya mengalami kejadian tak terduga. Di mana ia tiba-tiba marah dan menghempaskan semua yang ada di meja. Para prajurit pun segera menolongnya lalu mendatangkan sesepuh istana. Dan kini putra mahkota dari Arthemis itu sedang dibacakan mantra agar segera tersadar dari apa yang dialaminya.
Ara sendiri melihat kejadian itu dari luar ruang pengobatan istana. Xi dibawa ke ruang pengobatan untuk menjalani terapi yang disarankan oleh sesepuh istana. Pria tua berjanggut putih itu pun tampak membaca sebuah kata-kata yang tidak Ara mengerti apa artinya. Tapi Ara masih setia menunggu Xi tersadar dari pingsannya.
Ara terkejut, takut dan heran yang bersamaan. Mengapa saat ingin menciumnya, tiba-tiba saja Xi berubah. Xi menatap tajam ke arahnya dan menghempaskan semua yang ada di meja. Tak ayal rasa takut itu mulai melanda Ara. Ara pun berteriak meminta tolong kepada prajurit yang berjaga.
Sesepuh istana mengusap wajah Xi dan juga bagian dada dan pundaknya. Tak lama berselang ia duduk di kursi setelah berusaha menyadarkan Xi. Ara yang berada di luar ruangan pun menunggu kabar terkini. Ia ingin mengetahui keadaan Xi saat ini.
"Siapa orang terakhir yang berinteraksi dengan pangeran?" tanya sesepuh kepada pelayan dan prajurit yang ada di dalam ruangan.
__ADS_1
Ara memberanikan diri masuk ke ruangan pengobatan. "Saya, Kek." Ara pun mengakuinya.
Sesepuh istana itu kemudian berbalik ke Ara. Ia memerhatikan Ara dari atas ke bawah. Tampak Ara yang memalingkan pandangannya.
Ya Tuhan, sebenarnya apa yang terjadi?
Ara sendiri amat mengkhawatirkan Xi yang terbujur lemah di pembaringannya. Sedang sesepuh itu beranjak mendekati Ara yang terdiam di tempatnya. Ia kemudian bertanya, "Nona, siapa namamu?" tanya sesepuh itu yang baru melihat Ara hari ini.
"Nama saya Ara, Kek." Ara pun menjawabnya.
"Sa-saya ...." Ara pun bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian di ruangan raja...
Raja Arthemis segera ke ruang pengobatan setelah mendengar putranya tidak sadarkan diri. Ia yang sedang marah dan kesal kepada Xi pun tidak lagi peduli terhadap apa yang pernah Xi lakukan sebelumnya. Sebagai seorang ayah, ia sangat mengkhawatirkan putranya. Ia pun segera mendatangi ruang pengobatan yang mana sudah ada sesepuh istana dan Ara di sana. Sesepuh istana pun kemudian mengajaknya bicara.
Kini keduanya sudah berada di dalam ruangan raja yang luas. Di mana sang sesepuh duduk di depan meja kerja yang besar. Tampak keduanya membahas serius masalah ini. Yang mana berkaitan juga dengan Ara. Raja pun menanggapi apa yang sesepuh istana katakan padanya. Ia menunggu sesepuh istana itu selesai bicara.
"Yang Mulia, saya harus mengatakan hal ini. Karena cepat atau lambat, akan terbongkar juga." Sesepuh istana mengawali pembicaraannya.
"Silakan. Aku menunggunya," kata sang raja.
Sesepuh istana itu menarik napas dalam-dalam. Ia kemudian bicara, "Yang Mulia, nona yang bersama pangeran bukanlah gadis yang berasal dari bumi ini," terang sesepuh tersebut yang sontak membuat raja terkejut bukan kepalang.
__ADS_1
"Benar, kah?! " Raja tampak tak percaya.
Sesepuh istana mengangguk. "Dia adalah gadis titisan dewi penjaga pohon surga," kata sesepuh itu lagi.