DICULIK PANGERAN KEGELAPAN

DICULIK PANGERAN KEGELAPAN
Merasa Cemas


__ADS_3

"Pangeran, maaf. Bukan maksudku--"


"Tak apa, Ara. Tak apa." Xi pun mengerti tanpa perlu Ara utarakan.


Ara mencoba tersenyum. Ia kemudian turun dari kasur dengan dibantu oleh Xi. "Pangeran ada keperluan apa sampai datang ke sini? Bukankah sedang sibuk di istana?" tanya Ara yang polos.


Xi tersenyum. Ia terkekeh mendengar pertanyaan Ara. Ia mencoba menutupinya agar tetap terlihat bersahaja. "Em, ini memang kamarku. Apa tidak boleh datang ke kamar sendiri?" tanya Xi kepada Ara.


"Apa???"


Saat itu juga Ara menyadari jika telah salah kamar selama ini. Ara pun mencoba mengingat kejadian setelah di ruang pengobatan istana. Di mana ia baru saja tersadar dari pingsannya. Yang kemudian diarahkan untuk memasuki sebuah kamar yang besar. Tanpa tahu jika itu adalah kamar seorang pangeran.


"Em, sebentar. Apakah aku yang lupa?" Ara mencoba mengingatnya lagi.

__ADS_1


Xi menundukkan sedikit wajahnya ke Ara. "Sudah jangan dipikirkan. Aku memang sengaja menempatkanmu di sini. Kemarin keadaan belum memungkinkan. Jika kau memang ingin pindah kamar, kamar di sampingku kosong. Mau melihatnya?" tanya Xi kemudian.


"Em ...." Ara tampak ragu.


Xi menegakkan kembali tubuhnya. "Kedatanganku ke sini karena ingin menyampaikan pesan ayah. Ayah ingin mengajakmu untuk makan malam bersama. Kau tidak keberatan, bukan?" tanya Xi lagi.


"Makan malam?" Ara pun sedikit ragu.


Xi mengangguk. "Akan ada yang ingin ayah bicarakan padamu dan juga padaku. Maka dari itu ayah meminta kita untuk datang di acara makan malam hari ini. Jadi lekaslah bersiap. Aku sudah menyiapkan gaun untukmu." Xi berkata lagi.


Malam ini Raja Arthemis ternyata ingin bicara kepada Ara dan juga putranya. Sehingga ia mengundang Ara untuk makan malam bersama. Yang mana hal itu membuat Ara bertanya-tanya. Beberapa hari di istana, baru kali ini ia diundang untuk makan malam bersama. Pikirannya pun tertuju kepada suatu pertanyaan tentang masa depan kerajaan. Yang mana hal itu berkaitan dengannya.


Lain Ara di Arthemis, lain juga dengan Zu yang berada di Asia. Pangeran sulung kerajaan Asia itu tampak mendatangi Menteri Luar Negerinya untuk menanyakan sesuatu. Tampak menteri tersebut menyambut kedatangan Zu di ruangannya.

__ADS_1


"Apakah sudah ada balasan surat dari Arthemis? Beberapa hari ini aku menunggunya," terang Zu kepada menterinya.


Sang menteri pun tanpak mengecek kembali surat masuk di lacinya. "Sepertinya belum ada, Pangeran. Apakah kita perlu mengirimkan ulang suratnya?" tanya menteri itu.


Zu merasa heran. Ia bertanya sendiri di dalam hatinya. Kenapa suratku belum dibalas-balas ya?


Zu mulai curiga. "Em, tidak perlu. Nanti jika ada surat masuk dari Arthemis, tolong bawakan segera ke ruanganku. Aku menunggunya," pinta Zu lagi.


"Baik, Pangeran." Menteri itu pun menuruti permintaan Zu.


Zu masih menunggu balasan surat yang dikirimkannya ke Arthemis. Tetapi ternyata beberapa hari ini belum juga ada balasan surat dari pihak Arthemis. Yang mana membuat Zu bertanya-tanya tentang apa penyebabnya. Ia kemudian keluar ruangan untuk mengecek langsung burung pengantar pesan yang ia tugaskan. Tapi saat baru melangkahkan kaki, saat itu juga ia melihat Shu yang berjalan ke arahnya.


"Kakak." Shu dengan cepat mendekati kakaknya.

__ADS_1


"Shu, kau dari belakang?" tanya Zu kepada adiknya.


"Hm, ya. Aku habis bertemu nenek di halaman belakang istana," tutur Shu.


__ADS_2