DICULIK PANGERAN KEGELAPAN

DICULIK PANGERAN KEGELAPAN
Jaga Jarak


__ADS_3

Ara teringat dengan perkataan Tetua Agung sebelum pergi meninggalkannya. Ara yang kini pasrah dengan takdirnya pun berusaha menerimanya. Ia akan mencoba belajar untuk mencintai Xi, sebagaimana yang Tetua Agung pesankan. Karena ia tahu tidak bisa melawan garis takdir yang telah ditetapkan.


"Pangeran .... "


Dengan lemah ia pun memanggil Xi yang menjauh darinya. Xi juga terlihat bingung untuk menanggapi panggilan Ara. Haruskah ia mendekat atau tetap menjauh agar dapat membuat Ara nyaman. Xi trauma dengan apa yang terjadi pada Ara. Yang mana hal itu disebabkan karena dirinya.


"Ara, aku .... " Xi tampak tidak bisa berkata apa-apa.


Ara tersenyum. "Aku ... haus. Bisakah ambilkan air minum untukku, Pangeran?" pinta Ara yang membuat Xi mengangguk seketika. Ia pun segera mengambilkan air minum untuk Ara.


Satu jam kemudian...


Langit tampak mulai terang saat pergantian waktu ke pagi. Langit yang gelap berubah menjadi kebiruan saat memasuki pagi. Menjadi saksi Ara yang baru selesai diperiksa oleh tabib istana. Kali ini Nur kembali yang menanganinya.


"Ini aneh sekali."

__ADS_1


Nur tampak terheran dengan kondisi kesehatan Ara saat ini. Dimana ia tidak menemukan lagi sumbatan-sumbatan di kepala Ara. Ara kini telah tersadarkan dan berangsur pulih sempurna. Hanya saja tubuhnya masih lemas dan membutuhkan lebih banyak tenaga. Nur pun kemudian mencoba bertanya kepada Ara.


"Nona, keadaan Anda jauh lebih baik sekarang. Ini sedikit aneh, tapi terjadi di depan mata saya sendiri. Apakah ... apakah Nona mempunyai sistem kesembuhan sendiri?" tanya wanita tua berkaca mata itu kepada Ara.


Ara dibantu bangun dari kasur oleh pelayan wanita yang ada di ruangan. Ia kemudian tersenyum. "Entahlah. Mungkin ini efek dari rasa syukurku." Ara mengatakannya.


"Maksud Nona?" Nur ingin mengetahuinya.


"Aku telah menerima takdirku. Aku ikhlas menerima apapun itu. Aku juga bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk hidup. Mungkin karena itulah kondisiku lebih cepat pulih dari yang seharusnya." Ara menerangkan.


"Bagaimana, Bibi?" Xi segera masuk dan tidak menunggu lagi. Pelayan pun terkejut lalu segera merapikan gaun yang Ara kenakan sehabis pemeriksaaan.


"Pangeran."


Nur pun beranjak berdiri untuk menyambut Xi. Tapi Xi segera mendekati Ara dan menunjukkan kecemasannya. Nur menyadari jika sang pangeran telah jatuh cinta.

__ADS_1


"Nona dalam keadaan baik, Pangeran. Hanya saja membutuhkan waktu beristirahat beberapa hari untuk memulihkan kondisi tubuhnya," terang Nur kepada Xi.


Xi terperanjat kaget. "Benarkah?" Xi pun tampak bersuka hati.


"Pangeran, tidak perlu terlalu mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja." Ara pun mengatakannya.


Xi mengangguk. Ia pun ingin memeluk Ara kembali. Tapi saat itu juga ia teringat dengan hal yang menyebabkan Ara sampai seperti ini. Xi lantas membatalkan niatnya lalu segera menjauh pergi. Sontak hal itu membuat Ara tertawa sendiri.


"Pangeran."


Ara tertawa melihat sikap Xi yang tidak seperti sebelumnya. Xi kini ragu untuk mendekati Ara. Padahal sebelumnya ia tidaklah seperti ini. Maka dari itulah Ara tertawa geli.


Setengah jam kemudian...


Ara menceritakan bagaimana ia bisa dijatuhi hukuman mati. Xi pun tampak mendengarkannya dengan saksama. Raut wajahnya berubah setelah mengetahui duduk permasalahannya. Xi kecewa. Ia murka terhadap semua orang yang menuntut hukuman mati untuk gadisnya. Xi pun mengepalkan tangannya.

__ADS_1


__ADS_2