
Xi tampak melakukan pelatihan dengan hanya mengenakan celana kerajaannya saja. Sedangkan bagian atasnya ia bertelanjang dada. Xi melakukan push up puluhan kali sampai keringat itu berjatuhan dari wajahnya. Ara pun memerhatikannya. Hingga akhirnya Xi mengakhiri sesi latihannya.
Dia berotot, sama seperti Rain dan juga Cloud.
Tak dapat Ara pungkiri jika Xi memiliki wajah yang lebih imut dari kedua pangerannya. Tapi Xi mempunyai tubuh yang maskulin sama seperti Rain dan Cloud. Hanya saja postur tubuh Xi lebih mirip seperti Zu karena sama-sama berkulit putih. Berbeda dengan Rain dan Cloud yang sedikit gelap ataupun kemerahan.
Cuaca yang berbeda memang memengaruhi warna kulit penduduknya. Begitu juga dengan kedua pangeran Angkasa, Asia dan Arthemis sendiri. Mereka memiliki perbedaan iklim yang drastis.
Kini Ara duduk di teras belakang sambil menunggu Xi menghampirinya. Namun, saat Xi membelakanginya, saat itu juga Ara seperti melihat sesuatu di pundak Xi. Ara melihat sesuatu yang sangat kontras dengan tubuh pangeran itu. Ara pun melihat lebih saksama sesuatu itu dari jauh.
__ADS_1
"Itu ... itu .... "
Ara terus berpikir bentuk apa itu. Lama kelamaan ia akhirnya bisa melihat sesuatu apa yang ada di pundak Xi. Saat itu juga Ara menelan ludahnya. Ia tak percaya jika akan melihat langsung hal ini. Ternyata ada tanda ular di pundak bagian kiri pangeran Arthemis tersebut. Ara pun melihatnya dan entah mengapa ia merasa khawatir seketika. Ara takut terjadi sesuatu dengan pangeran itu.
Tetua Agung menyampaikan apa adanya padaku. Lantas masihkah aku tidak memercayainya?
Ara termenung di tempatnya. Ia kemudian teringat dengan perkataan Tetua Agung waktu itu. Yang mana semua yang dikatakan Tetua Agung adalah benar. Tidak dikurangi ataupun dilebihkan sedikitpun. Ara jadi ingin segera memenuhi pesannya itu.
Ara teringat dengan perkataan Tetua Agung waktu itu.
__ADS_1
Jadi pangeran Xi adalah pangeran yang terkena kutukan? Dan apa yang kulihat ini adalah wujud dari kutukan itu? Aku jadi harus selalu memakai wewangian dari Tetua Agung. Tapi di mana wewangian itu?
Ara pun merasa bingung sendiri dengan wewangian yang dimaksud. Sampai detik ini ia belum juga menemukan wewangian yang diberikan oleh Tetua Agung. Ara mulai kurang percaya jika Tetua Agung telah memberikannya. Tapi saat ia melihat ke arah kaca jendela istana, saat itu juga Ara tersadarkan jika wewangian itu sudah ada padanya. Kalung berliontin parfum roll kecil melingkar di lehernya.
"Astaga!"
Saat itu juga jantung Ara berdetak kencang seketika. Ternyata pertemuan dirinya dengan Tetua Agung memang benar adanya. Ara pun lekas-lekas pergi dari teras belakang istana untuk memakai parfum itu. Ara akan mengenakannya di setiap waktu.
Lima belas menit kemudian...
__ADS_1
Semilir angin menjadi saksi Ara yang duduk di gazebo depan istana. Tampak dirinya tengah mencicipi hidangan yang diberikan pelayan. Berupa secangkir teh dan teko mininya serta kue pie yang begitu lezat. Ara pun mencoba menikmati rasanya yang begitu luar biasa. Ia jadi ketagihan untuk menyantap kue pie selanjutnya.