DICULIK PANGERAN KEGELAPAN

DICULIK PANGERAN KEGELAPAN
Menolak Secara Halus


__ADS_3

Zu berniat menjadikan Ara hanya untuknya. Ia sudah terlanjur cinta kepada gadis yang telah mencuri hatinya. Zu tidak lagi peduli terhadap persaingan yang terjadi. Cintanya kepada Ara begitu membutakannya. Zu hanya ingin Ara seorang. Sore ini pun menjadi saksi penantiannya.


Malam harinya, makan malam di istana Arthemis...


Sajian istimewa khas kerajaan Arthemis telah disajikan di atas meja makan yang besar. Gelas-gelas kristal dan lilin-lilin merah pun tersusun rapi di atas sana. Menyala dan menghiasi meja makan yang indah. Taplak meja terukir emas pun menjadi pelapis meja makan yang terbuat dari kaca. Di mana kaki-kaki mejanya terbuat dari kayu gaharu yang diukir sedemikian rupa. Lampu-lampu kristal pun menggantung di atas ruangannya. Menambah kesan elegan dan mewah ruang makan istana.


Kini Ara telah duduk di salah satu kursinya. Ia duduk berdekatan dengan Xi. Tak lama sang raja pun datang dengan didampingi oleh dayang-dayang kerajaan. Hingga akhirnya Ara berdiri untuk menyambut kedatangan raja. Saat itu juga raja meminta Ara untuk duduk saja dan tidak perlu repot-repot menyambutnya.


"Silakan duduk, Nona. Jangan sungkan." Itulah yang raja katakan kepada Ara.

__ADS_1


Hidangan pembuka segera disajikan untuk raja, Ara dan juga Xi. Pelayan pun menuangkan minuman berupa perasan nanas asli. Saat itu juga raja mengajak Ara bersulang bersama putranya. Ara pun menurutinya. Hingga akhirnya pembicaraan dimulai malam ini. Dimana berkaitan dengan Ara dan Xi ke depannya.


"Putraku telah lama melajang. Dia juga tidak pernah betah berada di istana. Dia sering berkelana ke berbagai negeri. Termasuk ke pelosok negeri yang ada di sana. Tapi akhirnya dia jatuh hati kepada negeri yang bersengketa dengan kami. Atau mungkin lebih tepatnya jatuh hati kepada gadis yang bekerja di sana." Raja menuturkan.


Saat itu juga Ara jadi mengerti ke mana arah tujuan pembicaraan raja. Ia lalu berdehem untuk memecah suasana.


"Yang Mulia, sepertinya telah terjadi sedikit kesalahan pada pangeran." Ara menoleh ke arah Xi yang duduk di sebelah kirinya.


Ara mengangguk. Sontak Xi pun menelan bulat-bulat hidangan pembukanya. Ia merasa Ara akan membongkar apa yang telah dilakukannya di kastil waktu itu.

__ADS_1


"Ya, Yang Mulia." Ara mengangguk. "Saya hanyalah gadis biasa. Tidak pantas rasanya jika bersanding dengan seorang putra mahkota seperti pangeran Xi." Ara menuturkan.


Raja mendengarkan baik ucapan Ara. Ia pun menoleh ke arah putranya. Ia membenarkan apa yang Ara katakan. Tapi di sisi lain ada harapan besar jika Xi bersama Ara.


"Sejujurnya saya masih terikat perjanjian dengan Angkasa. Masih banyak pekerjaan saya di sana. Saya bukanlah seperti putri kerajaan yang bisa duduk santai dan bergerak sesuka hati di istana. Pekerjaan saya sangat menumpuk dan harus segera dikerjakan." Ara mengatakannya.


Ara tidak ingin memberi harapan kepada raja akan dirinya. Dan tentu saja jawaban Ara membuat raja tersentak. Begitu juga dengan Xi yang tak menyangka jika Ara akan berkata demikian.


Raja meneguk minumannya. "Berapa keping emas yang harus kami bayar untuk membatalkan perjanjianmu dengan Angkasa?" tanya raja segera.

__ADS_1


Ara berpikir cepat untuk menolaknya. "Saya terlalu banyak berutang budi pada Angkasa, Yang Mulia. Mungkin tidak bisa dibayar dengan emas yang ada di sini. Bukankah budi hanya bisa dibalas dengan budi?" tanya Ara kepada raja.


__ADS_2