DICULIK PANGERAN KEGELAPAN

DICULIK PANGERAN KEGELAPAN
Pembuktian


__ADS_3

...Cloud...



.........


"Pangeran, baiknya segera kita obati. Sebentar saya akan kembali lagi." Count berpamitan keluar ruangan.


Tak tahu mengapa Cloud terkena mata jangkar yang tajam saat sedang membuat lingkaran untuk diagram laporan. Kejadian itu begitu cepat dan tidak bisa ia kendalikan. Membuat Cloud bertanya-tanya tentang apa yang terjadi saat ini. Ia pun berprasangka yang tidak-tidak terhadap keadaan sekitarnya.


Count sendiri segera keluar untuk mengambilkan obat merah untuk Cloud. Ia pun menjadi saksi raja Angkasa yang baru itu kurang fokus terhadap pekerjaannya. Count merasa bersalah pada Cloud.


Pangeran pasti memikirkan nona. Andai Yang Mulia Ratu bisa menerima nona, tentunya kerajaan ini akan damai sejahtera. Tapi entah mengapa Yang Mulia tidak bisa juga menerimanya. Padahl nona telah berbuat baik untuk istana.


Waktu itu...

__ADS_1


"Tuan Count. Anda adalah orang kepercayaan ayahku. Jadi sudah sepantasnya Anda berpihak padaku." Ratu berbicara kepada Count.


"Saya akan mengikuti perintah Yang Mulia." Count bersedia.


"Bagus. Kau pasti sudah tahu jika aku tidak menyukai gadis itu. Maka bantu aku untuk mengusirnya dari istana. Jangan biarkan dia tinggal di sini berlama-lama," tegas ratu kepada Count.


"Maksud Yang Mulia?" tanya Count segera.


Ratu mengepalkan tangannya. "Singkirkan Ara dari istana. Jangan biarkan malapetaka itu terus berdatangan ke Angkasa. Aku tidak ingin melihatnya lagi. Kau mengerti?!" tanya ratu kepada Count.


Count terbelalak mendengar permintaan ratu. Tapi mau tak mau ia harus memenuhinya. "Baik, Yang Mulia." Pada akhirnya Count harus membuat siasat untuk menyingkirkan Ara. Semua tak lain karena permintaan ratu kepadanya.


.........


Dan pada akhirnya titah tertinggi lah yang Count terima. Saat ini pun ia hanya bisa menjalankan titah dari ratu untuk membuat Cloud lupa dengan Ara. Cloud disibukkan dengan berbagai macam tugas kerajaan. Sampai-sampai ia tidak sempat lagi untuk memikirkan di mana keberadaan gadisnya.

__ADS_1


Di air terjun...


Hangat napas itu saling bertukar. Setiap embusan merasuk ke relung jiwa terdalam. Ara dan Xi berciuman di dalam kolam. Saling beradu dan berpadu dengan pakaian kerajaan yang ditanggalkan. Dan kini Ara hanya mengenakan kemben dan leging pendeknya saja. Sedang Xi mengenakan celana pendeknya. Ia bertelanjang dada di dalam kolam.


Pangeran, sudah.


Hati Ara berkata untuk menyudahi ciuman ini. Tapi Xi seolah tidak memberi kesempatan Ara untuk melepaskan diri. Xi terus saja mencium Ara. Ia meminta Ara melakukan perlawanan. Hingga akhirnya Ara merasa kehabisan udara. Mulutnya pun terbuka. Saat itu juga lidah Xi masuk ke dalamnya. Mencari-cari sesuatu di dalam sana. Sontak Ara merasakan geli di sekujur tubuhnya.


"Pangeran ...."


Tidak hanya sampai di situ, Xi meminta Ara untuk melingkarkan tangan di lehernya. Hingga akhirnya kedua dada mereka berdekatan. Xi pun mengusap tengkuk Ara dengan jari-jemarinya, membangkitkan hasrat Ara yang terpendam. Ara pun tak mampu lagi menahan dirinya.


"Pangeran, sudah!"


Ara memalingkan wajahnya. Tapi Xi belum juga berhenti dari cumbunya. Xi menciumi leher Ara dengan pelan. Saat itu juga Ara berusaha menahan dadanya. Tapi Xi semakin menggila. Ia ingin memiliki Ara seutuhnya. Kecupan-kecupan kecil itu pun dirasakan Ara di bagian atas dadanya. Ara kemudian memeluk Xi seerat-eratnya.

__ADS_1


"Pangeran, kumohon jangan membuatku marah."


Kini wajah Xi berada di dada Ara. Kedua tangan Xi pun melingkar di pinggul Ara. Tapi saat mendengar Ara berkata demikian, Xi menghentikan ciumannya. Ia tersadar jika Ara mulai marah padanya.


__ADS_2