
Kabar ini tentunya kabar baik untukku. Aku jadi bisa menikahkan putraku dengannya. Tapi apakah dia mau dengan putraku?
Raja bertanya sendiri di dalam hatinya. Xi pun kemudian jujur pada ayahnya bagaimana Ara bisa sampai di istana.
"Sebenarnya ... penyebab Ara bisa sampai ke istana adalah karena aku, Yah." Xi mulai jujur pada ayahnya.
"Apa yang kau lakukan terhadapnya?" tanya sang ayah lagi.
"Aku ... aku ...," Xi tampak ragu mengatakannya. "Aku menculik Ara dari Angkasa saat dia sedang ingin mengambil buah di bukit itu," kata Xi.
"Apa?!! Jadi kau yang telah menculik Ara dari Angkasa?!" Sang ayah tampak tak percaya.
Xi mengangguk. "Aku terpaksa melakukannya, Yah. Aku tidak mempunyai jalan lain untuk dekat dengannya. Aku ... aku ...." Xi tidak bisa meneruskan kata-katanya.
__ADS_1
Sang ayah tampak diam seribu bahasa. Tentu saja apa yang diceritakan Xi sama dengan yang diceritakan oleh Ara. Raja menyadari jika Ara tidaklah berbohong. Ia jadi semakin menyesal saja.
"Maafkan aku, Yah. Aku terpaksa," kata Xi yang membuat ayahnya tidak sadarkan diri seketika. "Ayah! Ayah!!!"
Xi pun terkejut bukan main saat melihat ayahnya jatuh dari duduknya. Ia pun berteriak kencang karena sang ayah jatuh pingsan. Xi segera meminta prajurit untuk memanggilkan tabib istana. Ia merasa menyesal karena telah menceritakan yang sebenarnya.
Dua jam kemudian...
Xi terdiam di teras depan kamarnya. Sang ayah ternyata marah besar kepadanya, sesaat setelah tersadarkan dari pingsannya. Xi pun mengakui apa yang ada di hatinya. Yang mana menyebabkan sang ayah tidak ingin menemuinya. Ayah Xi tidak bisa menerima perbuatan anaknya.
"Kenapa aku bisa seperti ini? Apa aku segila ini? Apa aku memang benar-benar gila?"
Xi tampak mengusap kepalanya sendiri di tengah malam yang berganti. Ia tampak tak bisa tidur setelah berkata jujur kepada ayahnya. Yang mana kini ia tinggal menerima hukumannya saja. Sebagai seorang putra mahkota, tentunya Xi harus mengerti tata krama. Tapi setelah bertemu Ara, semuanya jadi terlupa.
__ADS_1
Malam yang dingin ini pun seolah tidak membuatnya agar segera tertidur di kasurnya. Ia masih tampak risau memikirkan akibat dari perbuatannya. Yang mana pihak Angkasa pasti marah jika mengetahui ia yang menculik Ara. Xi pun harus mencari suatu cara untuk menutupinya.
"Apa yang harus kulakukan, ya?"
Di tengah kegundahannya itu, tiba-tiba saja Ara terbangun lalu membuka pintu kamarnya. Terlihatlah seorang gadis cantik bergaun sutera putih yang membalut tubuhnya. Ia kemudian menegur Xi yang tampak merenung sendiri di depan kamarnya. Xi pun melihat Ara yang terbangun dari tidurnya.
"Pangeran, sedang apa?" tanya Ara seraya tersenyum kepada Xi.
"Ara? Em, aku ... aku sedang berolahraga. Ya, berolahraga." Xi pun pura-pura berolahraga.
Ara pun terkekeh mendengar jawaban dari Xi itu. Ia kemudian berjalan mendekati Xi. Namun, saat Ara berusaha mendekatinya, Xi menjauh. Ara mendekat lagi, Xi memundurkan langkah kakinya. Hingga akhirnya Ara terheran sendiri.
Dia benar-benar ingin menjaga jarak dariku.
__ADS_1
Ara tak habis pikir jika Xi akan seperti ini. Padahal masih teringat jelas diingatannya jika Xi sebelumnya sangat agresif kepadanya. Ara pun tak mengerti mengapa keadaan bisa berubah secepat ini. Ia masih tak percaya di dalam hatinya.