
Dinikahi Milyader Bagian 13
Oleh Sept
Rate 18 +
"Lalu apa yang kau cemaskan? Bukankah dia masih hidup?" pancing dokter Robert.
"Dia sepertinya memiliki kekasih." Suara Dirga terdengar sedikit melemas. Ada nada putus asa yang terkandung di dalamnnya.
"Sepertinya? Berarti itu belum pasti. Mengapa tidak mencari tahu?" kata dokter seraya mengsugesti Dirga.
"Tidak, aku tidak suka merebutkan wanita yang sama!"
"Benarkah? Lalu kenapa dia mengusik tidurmu? Selama dia belum menikah ... dia bukan jodoh siapa-siapa."
Dokter Robert menepuk tubuh Dirga. Mungkin karena sedikit gemas. Dirga memang pasiennya, tapi sudah seperti kawannya saja.
Blakkkkkk
Dirga seketika membuka mata ketika dokter kepercayaannya itu menepuk tubuhnya.
"Apa sudah selesai?"
Dokter Robert mengangguk. Kemudian bicara. "Selama dia belum menikah, kejar."
"Apa?"
Dirga mengusap dahinya tidak mengerti.
"Gadis yang katamu jelek itu."
Dirga mengerutkan dahi.
"Cari tahu lebih banyak tentangnya, itu resepnya."
"Jangan bercanda, Dok!"
Dokter tersebut kemudian menyentuh pundak Dirga.
"Kamu mulai tertarik padanya tanpa disadari. Lakukan saja saranku, kita tidak tahu akan berhasil atau tidak sebelum mencobanya."
Dirga terdiam, sejenak ia berpikir.
***
Kediaman Rayyan dan Jeandana
Rayyan sedang menyesap kopi sambil membaca majalah bisnis. Ia memang sudah tidak berkecimpung dalam dunia bisnis, tapi tidak mau ketingalan berita dan informasi terkini. Sedangkan Jean, wanita itu asik beryoga ria bersama Diska.
"Mi!"
"Hem ...!"
"Salah tidak merusak hubungan orang?"
"Maksudnya?"
"Ah ... tidak! Lupakan!" ucap Diska kemudian.
"Kamu ini, bicara sampai tuntas dong." Jean kemudian menyudahi acara yoganya.
"Nanti saja, nunggu timing yang tepat. Oh ya, Diska udahan dulu. Mau siap-siap."
"Kan acaranya masih lama. Masih jam 7, kan? Ini baru siang!" protes Jean.
Ya, nanti malam ada acara pesta kecil-kecilan ulang tahun Diska.
"Mau ke salon, Mi! Mau dandan cetar!" canda Diska.
__ADS_1
"Ish! Oh ya, jangan lupa. Itu teman dekat abangmu. Hubungi lagi, pastikan dia datang."
"Udah pasti, Mi. Uda ya, Diska siap-siap hang out dulu!"
Jean mengangguk.
Beberapa jam kemudian.
Diska sudah sampai di sebuah kantor jasa cleaning service on-line, Star Clean. Rupanya ia lebih gercep dari pada abangnya.
Semula saat mencari tahu tentang information Levia, ia shock. Karena abangnya suka sama wanita yang mungkin kurang wow. Tapi, berkat didikan mami Jeandana, Diska tidak pernah melihat dan menilai orang dari status sosialnya. Entah kaya atau miskin, cantik atau jelek, itu bukan sesuatu untuk ukuran sebuah penilaian.
Apalagi, setelah ia korek kehidupan Levia, ia malah kasihan. Dan sekarang, ia memutuskan datang ke kantor Levia untuk menjemput calon kadidat kakak iparnya tersebut.
Diska langsung disambut hangat oleh pimpinan kantor Star Clean. Kunjungan anak konglomerat di kantor itu malah menjadi daya tarik untuk perusahaan kecil mereka.
Malah pihak management, minta Diska untuk endorse jasa cleaning service on-line mereka. Seperti take and give, Diska mau saja, asal sehari ini Levia bisa ikut dengannya.
"Kita mau ke mana?" tanya Levia yang sudah diculik oleh adik perempuan Dirga tersebut.
"Mbak gak lupa kan? Ini ultah aku. Nanti malam ada pesta kecil-kecilan. Mbak dah janji datang, kan?"
[Kapan aku janji? Kan abangnya yang bilang sendiri!]
Levia mengerutu dalam hati.
"Tapi ...!"
"Udah, Mbak gak usah bilang tapi-tapi. Temani aku ke salon ya. Aku harus tampil cantik di hari istimewa aku."
Levia hanya menatap heran sambil memegang pelipisnya.
[Kalian keluarga aneh]
***
Beauty's Glow
Levia baru pertama masuk salon standard international. Salon kenantikan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Apalagi begitu masuk, mereka langsung disambut senyum ramah dari semua orang.
"Ayo Mbak!" Diska menarik lengan Levia. Karena ia merasa Levia lamban sekali.
"Dok, perawatan khusus untuk kami, ya!" ucap Diska pada dokter kecantikan yang kulitnya bisa untuk berkaca saking glowingnya.
Dokter itu tersenyum ramah, kemudian memanggil semua anak buahnya.
"Eh ... kenapa saya juga?" Levia heran kenapa dia ikut melakukan treatment juga.
"Mbak, nanti malam pesta besar. Kita harus tampil cetar!"
[Katanya acara kecil-kecilan? Kalian adik kakak memang tidak konsisten!]
Levia kembali mengerutu.
***
Tiga jam sudah mereka melakukan testament kecantikan, Diska sudah biasa menang selalu tampil cantik. Tapi, ia sempat terkejut melihat wajah Levia.
[Mas Dirga bener-bener paling bisa lihat cewek cantik. Gila ... dia memang cantik. Apa dia tidak pernah datang ke salon sebelumnya? Itu pasti sel-sel kulit mati banyak sekali yang terangkat dari wajahnya]
Diska takjub dengan pemandangan di depannya. Dilihatnya Levia yang terlihat cantik. Padahal mereka belum pakai make up sempurna.
Ditatap seperti itu, Levia jadi risih. "Udah, Dis. Kamu lihat apa!"
"Nggak ... bukan apa-apa. Cuma kaget aja. Mbak Levi cantik banget!"
Levia langsung salah tingkah.
"Ya udah, Mbak. Ayo ke boutique. Anterin Diska ambil gaun buat pesta nanti ya."
__ADS_1
Levia nampak berpikir, karena hari ini Diska sudah sangat baik dan sikapnya ramah sekali, beda dengan Reva adiknya, Levia pun ikut.
Avante Royal Boutique
"Selamat sore, Tante!" begitu masuk Diska langsung menghambur pada seorang wanita usia 45 tahunan.
Dia adalah pemilik boutique yang terbesar di kota tersebut.
"Sore sayang."
"Udah ready kan gaun Diska?"
Pemilik boutique itu mengangguk ramah. Kemudian meminta pada karyawan boutique di sana untuk mengeluarkan gaun malam untuk customer VIP mereka.
"Sekalian dipakai aja, ya Tante."
"Oh, ya sudah ... Ayo masuk ke dalam."
Levia tetap duduk. Saat Diska menariknya lagi, baru ia bangkit.
"Ayo, Mbak!"
"Eh?"
***
Debora International HOTEL
Di sebuah ballroom hotel bintang tujuh, suasana sudah cukup meriah. Rupanya, acara yang harusnya kecil-kecilan, langsung diubah menjadi sangat meriah oleh Diska. Ini rencana dadakan sebelum hari-H. Demi sang abang kesayangan, Diska merencanakan semua masak-masak.
Sampai ia dengan sengaja tidak mengundang Zio. Karena bila Mas Zio tahu, rencana aksi tikung mereka akan gagal. Selama janur kuning belum melambai-lambai dan berkibar, Diska berprinsip bahwa Levia masih belum milik siapa-siapa.
"Ayo, Mbak!" Diska meminta Levia keluar dari ruang private. Sejak tadi keduanya menunggu di sana sambil menyempurnakan penampilan, dengan memanggil make up artis terkenal. Biar penampilan mereka malam ini cetar membahana.
Levia sampai heran, ini pesta ulang tahun apa konser Celine dionnn? Atau malah konser almarhum Didi raja ambyar. Karena rame banget.
Tok tok tok
Seseorang mengetuk pintu.
"Ayo, Mbak. Acara dah mau mulai. Itu pasti mami!" ucap Diska dengan mata mengerling.
"Aku nggak enak pakai ini, Dis!"
"Ayolah, Mbak.. Ini hari istimewa aku. Tolong jangan diperburuk ya, please!"
Seketika Levia kalah.
[Kalain memang pemaksa, satu kasar satu halus. Tapi pada intinya sama!]
Levia hanya bisa mengerutu dan mengerutu.
KLEK
Begitu Diska memegang knop pintu lalu memutarnya. Mata Diska langsung berbinar-binar. Ia kemudian berbisik pada sosok pria di depannya.
"Aku tidak bisa janji bisa lakuin ini lagi, manfaatkan waktu baik-baik!"
Diska kemudian pergi, ia tinggalkan Levia yang masih tertinggal di belakangnya.
Sedangkan Levia, ia belum sadar siapa yang datang. Ia masih sibuk membenarkan high heelsnya yang sedikit nyangkut para gaun panjangnya.
Dan tiba-tiba, seorang pria berjongkok di depannya. Membantu Levia membetulkan gaun cantiknya yang sedikit nyangkut di manik-manik sepatu hak tinggi nan cantik yang ia kenakan.
"Eh ..." Levia mundur. Tapi pria itu lalu mendongak dan menatapnya.
Tidak bisa dihindari, kedua mata itu pun saling bertemu.
[CANTIK]
__ADS_1
BERSAMBUNG.