
Dinikahi Milyader Bagian 71
Oleh Sept
Rate 18 +
Naomi merasa sangat panik bukan main. Ia lantas memutar tubuhnya, wajah Naomi mendadak terasa panas. Pemandangan barusan cukup membuatnya terkejut. Vincent masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah. Yang ada, pria itu semakin membuatnya terpikat.
[Sadar Nom! Dia jauh di bawahmu. Bahkan orang tuanya tidak menyukaimu!]
Ia merutuki dirinya, dirinya yang ternyata hampir tergoda oleh pesona Vincent yang tidak terelakkan. Tangan Naomi perlahan mengepal, menguatkan tekat. Ia tidak boleh tergoda.
"Hentinya, Vin! Aku tidak suka main-main!" Masih dengan tubuh yang membelakangi pemuda tersebut.
"Kenapa? Apa kau takut denganku? Bukankah bagimu aku hanya anak kecil? Bocah ingusan? Astaga Naomi ... Jika aku bisa! Aku akan marah padamu waktu itu!" ucap Vincent yang nampak menahan amarahnya.
Naomi terdiam, ia tidak punya cara lain untuk meyakinkan orang tua Vincent waktu itu, ia harus membuat orang tua Vincent yakin, bahwa ia tidak mungkin menjalin hubungan serius dengan putra mereka. Vincent adalah kebanggaan ayahnya. Dan Naomi juga merasa ia tidak cocok bersama pria itu. Usia mereka terpaut terlalu jauh.
"Buka pintunya, jika tidak ...!"
Tap tap tap
Vincent berjalan cepat ke arahnya. Sembari legannya memeluk erat tubuh Naomi dari belakang.
"Jika tidak kenapa?" tanya Vincent sembari menempelkan kepalanya.
"Sampai kapan kamu lari? Aku dengar dari Mas Zio, kau bahkan sama sekali tidak mau berkencan selama ini," sambung Vincent.
Mendengar kakak laki-lakinya disebut, Naomi langsung berbalik.
"Kalian saling berhubungan?" tanya Naomi penuh selidik.
Vincent hanya tersenyum tipis.
"Sejak kapan?" Naomi penasaran.
"Itu tidak penting."
"Ya ... memang tidak penting. Dan tolong sekarang buka pintunya." Naomi menatap pintu, berharap Vincent mau membuka papan tebal itu untuknya.
Pria itu menggeleng tegas.
"Vin!" sentak Naomi yang mulai tidak sabar.
"Temani aku makan dulu, seharian ini aku belum makan!" Vincent hanya mengulur waktu agar bisa bersama Naomi.
"Maaf, aku sudah makan!" tolak Naomi tegas.
"Temani saya!"
__ADS_1
"VIN!"
"Aku tidak meminta lebih! Kenapa kau selalu menolak?" protes Vincent. Pria itu kemudian berbalik. Menyalakan rkok kembali, menyesapnya dalam-dalam. Terlihat sekali, ia sangat frustasi.
Vincent kemudian duduk di atas sofa, dengan satu tangannya memijit pelipisnya. Pusing juga membujuk Naomi untuk membuka kembali hatinya.
Naomi sendiri juga sudah jengah. Ia mencari ponselnya, ketika sudah ketemu, ia langsung menelpon pihak hotel.
Vincent menatapnya dengan senyum getir. Kemudian menuang segelas minuman, lalu menengaknya sampai habis.
[Sepertinya cara halus tidak berhasil!]
Vincent berdiri, Naomi yang masih menelpon seseorang, tersentak ketika Vincent menyebut ponselnya dengan paksa.
"Apa yang kau lakukan? Jangan keterlaluan!"
"Maafkan aku, tapi sepertinya aku harus melakukan ini ...!"
Mata Naomi terbelalak, kakinya reflek mundur. Namun, gerakan pria itu terlalu cepat. Naomi tidak bisa menghindar.
CUP ...
Tangannya hendak mendorong tubuh bidang Vincent, tapi pria itu terlalu mendesak. Vincent terlalu kuat untuk dilawan. Sosok pria itu begitu kuat. Pukulan dan dorongan Naomi sama sekali tidak ada pengaruhnya.
"Le ... lepasin!" teriak Naomi. Akhirnya Naomi berhasil mendorong tubuh Vincent karena kaki Naomi menendang pada aset generasi penerus bangsa tersebut.
Vincent meringis, ia membungkuk memegangi aset berharga miliknya.
Naomi hanya menelan ludah.
[Ini salahmu!]
Beberapa detik kemudian, masih diliputi rasa ngilu pada aset berharga miliknya. Vincent mendongak, kemudian bicara dengan muka serius.
"Bagaimana bila sesuatu terjadi padanya? Bisa-bisa kamu tidak bisa hamil anak-anakku nanti!"
Mata Naomi membulat sempurna, ia kemudian mendorong lagi tubuh Vincent yang kembali mendekat.
"Siapa yang mau hamil anak-anakku?" cetus Naomi sewot, tapi dalam hati ada sesuatu yang meletup-letup.
[Jangan tergoda Naomi! Dia sangat muda. Lihat usiamu. Jika kau sudah tua, dia akan semakin bersinar!]
Naomi kembali mewanti-wanti dirinya, bahwa mereka tidak cocok.
Tok tok tok,
Naomi merasa lega, akhirnya ada yang datang. Ia langsung beranjak mau mengintip, akan tetapi Vincent malah langsung merengkuh pinggangnya.
"Vincent! Hentikan!" sentak Naomi. Ia meronta-ronta, tetapi Vincent malah langsung membuatnya diam.
__ADS_1
Pria itu tiba-tiba menarik tangan Naomi dan memasang sebuah cincin di jari manis Naomi.
"Mari menikah! Jika kamu cemas akan perbedaan usia kita yang jauh ... aku bisa membawamu pergi jauh, ke tempat di mana tidak ada yang mengenal Kita," janji Vincent dan terdengar tulus.
Naomi menggeleng, tapi matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku mohon ... jangan seperti ini. Carilah gadis baik-baik. Dan itu bukan aku!" Naomi melepaskan cincin di jari manisnya. Kemudian memberikan pada Vincent kembali.
Jelas Vincent merasa terluka. Sudah banyak cara ia membuat hati Naomi luluh, tapi semuanya tidak ada hasilnya.
Tok tok tok,
Pintu kembali diketuk, dan sepertinya dibuka paksa dari luar.
"Sekali kamu keluar, aku pastikan tidak akan mengejarmu! Aku jamin kita tidak akan bertemu lagi. Lusa aku akan ke LA. Mungkin tidak kembali!" ancam Vincent yang putus asa.
Naomi terdiam sesaat, kemudian memutuskan keluar saat pintu sudah terbuka.
Hati Vincent langsung hancur lebur. Sepertinya mereka memang tidak berjodoh. Vincent menghela napas dengan dalam, ada rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi hatinya.
***
Esok harinya, Naomi sudah memegang sebuah tiket. Beberapa saat lagi, ia akan balik ke ibu kota. Saat di lobby hotel, ia melihat sekeliling, mungkin mencari bayang-bayang Vincent. Kemudian menghela napas panjang. Naomi menarik koper, sepertinya tidak ada yang perlu disesali.
Bandara International di kota Bali.
Naomi berjalan sambil menyeret koper dengan tatapan kosong. Bahkan, ia sampai tidak konsentari. Ketika seseorang menabrak dan membuat tasnya terjatuh.
"Maaf!" ucap si penabrak.
Naomi hanya mengangguk. Kemudian berjongkok mengambil tas miliknya yang sempat terpental. Matanya tiba-tiba terasa perih, bukan karena tabrakan tadi. Ada yang sakit, ada yang terluka tapi tidak berdarah. Hatinya sakit, meninggalkan kota ini. Meninggalkan Vincent ...
"Jika menangis diam-diam di belakangku seperti ini, bagaimana mungkin aku tidak memikirkanmu?"
Suara itu malah membuat tangis Naomi pecah. Naomi adalah wanita mandiri yang kuat, hati baja. Baginya menangis karena seorang pria adalah bukan gayanya, tetapi sekarang, hatinya mendadak rapuh. Tubuhnya kini bergetar menahan tangis.
[Jangan menangis di depannya!]
Ketika Naomi mencoba menyusun kekuatan yang tersisa, semuanya menjadi sangat percuma. Ketika pria itu menarik tangannya, kemudian mendekap wajahnya dalam dekapan yang hangat, Naomi menyerah! Dan Vincent menang. BERSAMBUNG
Jangan lupa jempolnya digoyang yaaaa hehhhe. Dan baca novel Sept yang lain ya. Makasih banyakkkk supportnyaaaa.
IG : Sept_September2020
__ADS_1
Fb : Sept September
Tombol like ditekan ya. Hihihihi inga Inga thing!