
Dinikahi Milyader Bagian 67
Oleh Sept
Rate 18 +
Seketika mobil Mercedesss Benz Sprinter A3 Ultimate itu berhenti mendadak. Zio terkejut ketika mendengar kabar kehamilan Kevia. Pria itu kemudian menepi. Kemudian melepas sabuk pengaman lalu menghadap Kevia.
"Katanya KB?"
Kevia menggeleng, "Nggak tahu. Kemarin malam aku periksa. Dan hasilnya positive."
Zio malah tersenyum, kemudian menoleh ke belakang.
"Anak-anak ... kalian mau punya adik!" seru Zio pada putri-putrinya.
"Horeeee!"
"Asikkkk!"
"Ye ... ye ...!"
Annabelle, Mirabelle dan Isabelle terlihat begitu antusias dan gembira. Padahal mereka juga masih balita, tapi saat sang papa mengatakan mereka akan punya adik, ketiganya begitu senang.
Sementara itu, Kevia memijit pelipisnya.
"Sayang, kalau kembar lagi bagaimana?" tanya Kevia lirih.
Zio langsung saja merengkuh tubuh istrinya itu. Istri yang sudah memberikan banyak anak padanya.
"Gak apa-apa, apa yang kamu takutkan. Kita bisa cari nanny buat bantu mengurus mereka semua."
Kevia hanya tersenyum tipis, kemudian melihat anak-anak di jok belakang yang terlihat riang. Mana pernah Kevia menyangka, hidupnya akan dilimpahi banyak berkah setelah menikah dengan pria tersebut. Mana pernah dia membayangkan, ternyata suaminya orang yang kaya raya.
Orang yang tidak pernah takut masa depan anaknya, semua sudah terjamin. Masa depan pasti sudah cerah ceriah. Banyak Anak bukan sebuah masalah bagi keturunan Dirgantara.
***
Karena diburu waktu, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan, tangan Zio sesekali mengusap perut Kevia.
"Sayang, kali ini kira-kira berapa ya?"
Kevia hanya menatap sambil mengangkat alisnya.
Bandara International terminal kedatangan.
Semua keluarga kecil Zio sudah turun dari mobil, Zia menggandeng Annabelle dan Mirabelle. Sedangkan Isabelle begitu lengket dengan mamanya. Mereka semua berjalan sambil mencari anggota keluarga yang akan dijemput.
"Pi ...!" panggil Zio yang memang sudah dekat dengan Rayyan sejak kecil.
__ADS_1
Mereka pun berpelukan.
"Sehat, Pi?"
Rayyan mengangguk, kemudian berjongkok. Ia mengusap rambut anak-anak Zio yang mengemaskan itu.
"Sudah besar cucu-cucu Opa!" usapnya dengan sayang. Sudah seperti cucu kandung sendiri.
"Makasih ya, sudah jemput kami," ucap Jeandana.
Zio dan Kevia tersenyum sambil mengangguk. Sedangkan di belakang, terlihat pengantin baru yang jalannya lamban sekali.
"Diskaa ... Ayo, sayang!" seru Jeandana yang melihat Diska berjalan lama sekali.
Sementara itu, Diska hanya bisa membatin. Ini gara-gara keseringan ia minta dipompa. Alhasil jalannya agak sakit.
Sudah menikah sebulan lebih, tapi rasa sakit kadang sering terasa. Mungkin karena mereka kadang tergesa-gesa. Atau malah ukuran yang menjadi masalah.
"Iya, Ma!" Diska mempercepat langkah. Meski perih.
"Mau digendong?" tanya Reza kalem. Niatnya serius mau gendong. Tapi, Diska merasa suaminya sedang mengejek.
"Nggak! Terima kasih!" bibirnya mengerucut sebal.
"Makanya, jangan banyak-banyak!" ucap Reza sambil menahan senyum.
"Ish. Banyak yang lihat!" bisik Reza genit, lama-lama sikap pria itu nular seperti Diska.
Keduanya malah terkekeh, seolah tidak menyadari sejak tadi mami dan papi menatap sambil geleng kepala.
***
Rumah Sakit
Mobil yang Zio kendarai akhirnya sampai juga di salah satu rumah sakit terbaik di kota Paris. Mereka langsung menuju kamar VIP di mana Levia dirawat.
Begitu tiba di kamar rawat inap, kebahagian begitu kental tarasa. Mereka berkumpul dengan suka cita. Memuji betapa gantengnya baby boy ketiga Dirga dan Levia.
"Aduh ... bisa mirip papi begini sih ... gantengnya ... ayang ... mau!" ucap Diska sambil mengendong baby boy keponakannya. Ia menatap Reza. Seolah meminta pada Reza bayi yang seperti itu.
Reza jelas malu, ia hanya tersenyum tipis. Ketika semua orang menatapnya. Dasar Diska.
"Mbak Levia ... kasih resep donk!" ucap Diska dengan nada menggoda.
"Aduh!!!" Disak mengadu saat Jean menepuk pundaknnya.
"Nanti biar Reza Mas yang tutor!" celetuk Dirga tanpa malu.
Ganti Levia yang malu-malu kucing. Dasar keluarga Dirgantara. Hal seperti itu sepertinya sudah biasa untuk dibicarakan.
__ADS_1
Sama seperti Zio, ia malah menambahi.
"Mau yang kembar nggak? Oh ya ... Kalian gak kasih selamat? Kevia hamil lagi."
Seketika semua menatap ke arah Zio.
"Lagi?" Rayyan tersenyum kemudian menggeleng kepala. Keponakannya itu memang luar biasa.
"Ya ampun ... selamat Mbak Kevia!" Diska langsung mendekati Kevia dan memeluknya. Sambil tangannya memegang perut Kevia.
"Semoga nular ya, Mbak," ucap Diska sambil tersenyum cerah.
Setelah itu, Diska mendekati suaminya. "Ayang, kayaknya harus berguru ke mereka deh."
Reza hanya bisa mengaruk tengkuk lehernya. Diska ada-ada saja.
"Sabar, Diska. Kalian baru menikah." Jean menasehati anaknya.
"Iya, Mi. Hehehe!"
Semua pun tersenyum melihat sikap Diska yang ngebet pengen hamil tersebut.
***
Satu bulan kemudian
El HOTEL
Naomi sedang duduk di meja kerjanya, kemudian Zio datang menghampiri.
"Jangan kerja terus ..." celetuk Zio yang melihat adiknya enggan menikah sampai sekarang.
"Apa sih, kalau mau bicara hal tidak penting. Mas Zio keluar dulu. Aku sibuk."
"Ish.. Jangan dingin-dingin jadi wanita. Ini ... Mas mau kasih ini. Datang jam 7 nanti di restaurant Palace. Mas sudah reservasi."
"Apa ini? Jangan aneh-aneh. Aku gak mau ketemu orang lagi untuk kencan buta."
"Eh! Ini Mas Zio tahu betul. Dia pria baik."
"Jangan seperti Mama. Udahlah, Mas. Aku banyak kerjaan!" Naomi mengusir Zio yang selalu ingin menjodohkan dirinya. Memangnya dia kurang laku? Tidak. Hanya belum ada sosok yang membuatnya berdesir.
"Hemm. Lihat dulu orangnya!"
Zio kemudian membalik sebuah lembar foto tepat di depan Naomi.
BERSAMBUNG
__ADS_1