
Dinikahi Milyader Bagian 22
Oleh Sept
Rate 18 +
Levia sudah jatuh tertimpa tangga, tapi Dirga malah seperti ketiban durian runtuh. Musibah bagi gadis tersebut, dan justru anugrah bagi Dirga. Pria itu tidak akan menyia-nyiakan tiket emas ini. Kapan lagi dia bisa mengendalikan gadis yang selalu menolak dirinya tersebut.
Dengan muka sok datar, Dirga menatap lurus dan tajam ke arah Nyonya Pram, wanita yang sudah menganiaya Levia sebelumnya.
"Berterima kasilah padanya! Kalau bukan karenanya. Saya tidak akan melepaskan kasus ini!" ucap Dirga dengan wajah serius dan penuh ketegasan.
Seketika, wanita itu langsung menghela napas lega. Setidaknya ia tidak harus bernalam di penjara.
"Terima Kasih!" ucapannya kemudian dengan datar. Seolah ia lupa, tadi mengemiss, memelas pada Levia. Rupanya gengsi si ibu setinggi gunung Himalaya.
Dan Dirga hanya bisa menahan kesal, ia menyadari ketidaktulusan wanita yang melakukan kekerasan tersebut. Tapi, karena berkat si ibu ia jadi punya jalan mendekati Levia, malam ini ia akan melepaskan wanita tersebut.
"Ingat, Bu! Lain kali kalau hal ini sampai terulang. Saya tidak akan tinggal diam!" Dirga mengepalkan tangan dan meletakkan di atas meja. Seolah ia sedang memberi kode keras pada si ibu penganiaya itu.
Nyonya Pram pun langsung menelan ludah, sepertinya ia ingin cepat-cepat pergi dari sana.
"Sekali lagi, maafkan klien saya. Hal semacam ini, kami janji tidak akan terulang lagi!" ucap pengacara Nyonya Pram.
Dirga hanya melirik, ia masih jengkel pada wanita itu. Wajahnya sama sekali tidak tergambar penyesalan. Sedangkan Levia, lihat! Penampilan gadis itu sangatlah kacau. Tapi ya sudahlah. Yang penting bagi Dirga, ia sudah memiliki senjata andalan. Barter ini, dia yang menang banyak.
__ADS_1
***
Di luar kantor polisi, mereka semua sudah meninggalkan kantor dan menuju tempat parkir.
"Sudah sangat larut, kalau pulang sekarang dengan keadaanmu seperti ini, orang tuamu pasti memikirkan macan-macam. Hubungi mereka, bilang menginap di rumah temanmu. Katakan, teman kerjamu sakit .. jadi kau ingin menginap!" saran Dirga sambil membuka pintu depan. Untuk Levia, bukan untuk Diska.
Sementara itu, Diska malah bengong. Ia heran, sejak kapan abangnya itu sedikit gercep. Biasanya juga lamban seperti anemon laut.
"Dis! Kamu duduk di belakang!" seru Dirga sambil melirik pintu samping, seolah mengatakan pada Diska untuk buka pintu sendiri.
Diska hanya manggut-manggut, kemudian masuk dan duduk di kursi belakang seorang diri. Sepanjang jalan, ia malah seperti obat nyamuk.
"Nggak telpon rumah dulu?" tanya Dirga saat mereka berhenti di sebuah lampu merah.
Karena dia kecewa, ya ... Levi kecewa pada adiknya. Jelas ini kelakuan Reva. Tapi, dia tidak akan bercerita pada Dirga. Pria itu kelihatan sangat pemarah, takut malah urusan keluarganya semakin rumyan.
Mungkin saking lelahnya, Levia sampai ketiduran. Dia baru bangun ketika Dirga menyentuh pipinya dengan lembut.
"Lev ... Levi ... bangun!" bisik Dirga.
"Mas! Panggil yang kenceng! Itu mah bisik-bisik, mana dia dengar!" celetuk Diska yang juga ketiduran sepanjang jalan.
"Ish!" Dirga menoleh, melirik Diska dengan galak.
"Kamu nggak pulang? Sana pulang?" usir Dirga.
__ADS_1
"Ini udah malem banget! Tega bener lihat adiknya malam-malam di jalan. Itu ... anak orang aja diamanin. Adek sendiri malah kaga!" celoteh Diska sambil berlalu masuk apartment duluan.
Dirga hanya geleng-geleng kepala. Kemudian kembali membangunkan Levia yang sudah tidur pulas.
"Lev! Levi!"
"Bangun, Lev!"
"Leviii!"
Ditatapnya wajah Levia tanpa make up. Cantik, manis dan bibirnya ....
Mata Dirga malah fokus pada bibir yang kini berwarna merah muda tersebut. Dulu dia jelek sekali, kenapa sekarang jadi cantik. Tanpa sadar, jakunnya naik turun.
[Sepertinya aku harus menemui dokter Robert. Ada yang tidak beres dengan kepalaku]
Dirga menarik diri, perlahan ia menjauh dari Levia. Dekat-dekat dengan gadis tersebut hanya membuatnya memikirkan hal yang macan-macam.
Oh ... biji terong mungkin minta di sebar. Hehehe ... canda!
BERSAMBUNG
__ADS_1