
Dinikahi Milyader Bagian 70
Oleh Sept
Rate 18 +
Masih di sebuah kamar hotel presidential suite, di salah satu hotel milik keluarga Dirgantara yang ada di Bali.
"Tolong jangan membuat keributan di sini!" ucap Naomi tegas. Ia merasa semua sudah usai beberapa tahun silam. Dan Naomi juga tidak ada niatan mengulang jejak asmara mereka berdua.
"Kenapa? Apa kau tidak percaya diri dengan dirimu sendiri?" cetus pria 25 tahun tersebut.
Naomi tersenyum tipis, kemudian melipat tangan. Ia menghela napas panjang, dan mendekati Vincent.
"Jika niatmu hanya ingin menginap di sini, silahkan, tapi jika kamu hanya mau main-main, aku tidak segan melakukan apapun untuk membuatmu meninggalkan tempat ini."
Vincent mencebik, ia menatap jengkel wanita berhati batu tersebut. Meluluhkan hati Naomi, baik dulu ataupun sekarang, ternyata sama-sama sulit sekali.
Kesal, Vincent pun bangkit. Ia berjalan melewati Naomi dan menuju pintu. Pria itu malah mengunci pintu kamar hotel yang ia sewa sesuka hatinya.
"Apa yang kamu lakukan?"
Kepanikan tergambar jelas di wajah Naomi.
"Kenapa? Kenapa kamu kelihatan takut padaku? Kau pernah bilang aku hanya anak kecil yang seperti adik bagimu, kan? Sekarang akan aku buktikan ... aku tidak seperti yang kamu pikirkan."
Naomi panik, tubuhnya beringsut tak kala Vincent terus melangkah ke arahnya.
"Jangan macan-macam!" sentak Naomi panik.
"Kenapa kau takut?"
Vincent seolah sedang menguji emosi Naomi. Ia terus mendesak wanita yang ia tunggu selama ini. Ya, Vincent menunggu bertahun-tahun untuk memantaskan dirinya bagi Naomi.
Kini ia sudah lulus kuliah, sudah bekerja di sebuah perusahaan asing yang terkemuka. Meski bukan seorang CEO ataupun manager, setidaknya penghasilan Vincent sudah lumayan.
"Buka pintunya!" sentak Naomi ketika ia benar-benar sudah terdesak.
"Kenapa kamu? Takut? Astaga Naomi! Ingat baik-baik, selama ini apakah aku pernah menyakitimu? Ingat baik-baik! Selama ini siapa yang melukai siapa?" tanya Vincent miris.
__ADS_1
Ya, selama ini yang selalu mengatakan hal-hal pedas adalah Naomi sendiri. Untuk memutus hubungan mereka, ia menjadikan usia Vincent sebagai alasana. Mengatakan bahwa pemuda itu hanya anak kecil baginya. Jelas Vincent marah.
Lalu bagaimana dengan moment-moment mereka yang sudah berlalu? Apa semua tidak ada artinya? Bagaimana dengan hubungan tanpa status, tapi terlanjur terjalin begitu dalam tersebut. Vincent marah, karena merasa semua sama sekali tidak berarti.
"Kalau kau terus seperti ini, aku tidak segan-segan mengusirmu dengan kasar!" ancam Naomi sembari mengambil ponsel dari dalam sakunya.
Setttt ...
Bukkkkk ....
Vincent langsung merebut benda pipih itu dan membuangnya di atas ranjang.
"Vin!!!" sentak Naomi marah besar.
Mana pernah ia mengira bahwa Vincent sudah sangat berani sekali, padahal dulu anak itu sangat penurut.
"Kau sudah gilaaa!" Naomi mendorong tubuh Vincent dan beranjak mengambil ponselnya. Tapi tangan Vincent malah langsung meraih lengannya.
Pria itu menarik lengan Naomi hingga mendekat padanya.
"Aku tidak akan seperti dulu! Pergi saat kau menyuruh untuk pergi!" ujar Vincent tegas dengan tatapan tajam.
Naomi merutuki sikap Vincent yang kini sudah sangat berani, matanya juga menyalak marah. Keduanya saling perang tatapan. Namun, sejatinya ada rindu yang perlahan mulai menjalar lewat tatapan yang dalam tersebut.
[Jangan kurang ajarrr]
[Astaga]
Naomi panik, ketika tatapan Vincent berubah. Ya, tatapan yang garang tadi berubah seperti beberapa tahun silam ketika Vincent menatapnya. Tatapan kagum penuh kasih.
"Lepaskan!" ucap Naomi lirih. Kali ini ia menengelamkan wajah. Menunduk, karena tidak sanggup melihat ke dalam mata Vincent.
"Kamu terlalu kejam jadi wanita Naomi!" celetuk Vincent. Dan itu sukses membuat Naomi mendongak menatap ke arahnya.
[Kejam? Aku?]
"Aku berjuang memantaskan diriku untukmu selama ini. Aku berusaha lebih keras dari pada orang lain. Aku berhenti main-main hanya ingin agar kau menatapku!" ucap Vincent yang kali ini dengan nada sendu.
"Hentinya, jangan bicara omong kosong!" Naomi mencoba mendorong tubuh Vincent, lagi-lagi pria itu malah mencengkram bahu Naomi erat.
__ADS_1
"Omong kosong?"
Vincent jelas marah, usahanya selama ini dikatakan omong kosong. Kepala dijadikan kaki, kaki jadi kepala, masih saja ia dicap omong kosong, jelas ia tersulut.
"Kau mau pendamping seperti apa? Jangan pikir aku tidak tahu mengapa sampai sekarang kau tidak menikah? Jangan mendustai hatimu sendiri! Sejatinya, kamu yang sedang bicara omong kosong terhadap dirimu sendiri!" cetus Vincent yang kesal dengan wanita yang ia puja-puja tersebut.
Bukan karena Naomi kaya raya, Vincent mana tahu harta kekayaan Naomi sebenarnya seberapa banyak. Karena ia memang tidak tertarik dengan harta. Ia hanya tertarik pada sosok Naomi.
"Aku rasa kamu sudah keterlaluan!" ucap Naomi pelan. Ia paling tidak suka kalau sudah membahas pernikahan. Memangnya salah kalau ia belom menikah?
"Dan jangan ikut campur! Aku menikah atau tidak, jelas bukan urusanmu!"
Vincent melepaskan Naomi, ia mundur dan mengambil sebatang rkok yang ada di atas meja. Lalu menyalakannya, Vincent berjalan menuju balkon. Meninggalkan Naomi. Toh, pintu sudah ia kunci. Naomi tidak bisa pergi.
Tap tap tap
"Buka pintunya!" sentak Naomi.
Vincent malah asik dengan kepulan asap yang ia ciptakan. Sepertinya, Vincent sedang stres berat karena bingung cara apalagi untuk menekan Naomi.
"Melajanglah ... ya ... melajanglah sampai kau tua. Aku temani!" ucap Vincent setelah menyesap puntung yang pertama dan membuangnya meski masih banyak.
[Pria gila]
Naomi yang marah, langsung mendekati Vincent, ia mau mengambil sendiri access card yang ada di saku celana Vincent. Sebab ia melihat pria itu tadi memasukkan ke dalam celananya.
"Berikan padaku!"
"Akan aku berikan, semuanya!"
[Pria gilaaaa]
Naomi panik kemudian berbalik, wajahnya mendadak terasa panas. BERSAMBUNG
Minta access card, malah dikasih apa kamu Nom Nom? Hehehe bonusss!
__ADS_1