
Dinikahi Milyader Bagian 52
Oleh Sept
Rate 18 +
Elvira langsung mengambil minuman yang ada di atas meja. Tunggu dulu, wanita paruh baya itu sangat terkejut dengan berita pernikahan Zio. Elvira butuh waktu untuk berpikir sejenak. Sambil minun, ia melirik wajah putranya.
Habis menengak habis teh hangat buatan Bibi, Elvira kembali menatap tajam Zio. Ia mau mengintrogasi anak pertamanya yang tiba-tiba punya istri tersebut. Bagaimana bisa Zio menikah tanpa mengatakan pada siapapun.
"Apa gadis itu hamil? Mengapa akhir-akhir ini Mama sulit ketemu kamu dan tiba-tiba pulang membawa istri? Jangan bercanda kamu, Zio!" ucap Elvira, masih dengan muka yang shock.
Walaupun jujur dalam hatinya ia merasa senang karena putranya sudah sold out, tapi tetap dia butuh penjelasan. Mengapa Zio menikah secara diam-diam.
Zio menggeleng dengan wajah datar.
"Tidak! Dia tidak hamil."
Suasana hening sesaat.
"Lalu kenapa kalian menikah diam-diam? Dan kapan kamu menikahi gadis itu?" protes Elvira yang gemas dengan putranya itu.
"Ceritanya panjang."
Dahi Elvira mengkerut.
"Pokoknya kamu harus ceritakan pada Mama sekarang juga!"
Bukannya cerita yang sebenarnya, Zio malah mengatakan mereka ketemu di Amerika dan memutuskan menikah di sana. Zio enggan mengatakan kebenaran penyebab ia menikahi Kevia.
Terlalu panjang ceritanya, hingga Zio ambil gampangannya saja. Cukup katakan pada sang mama mereka memutuskan menikah setelah beberapa kali berjumpa.
Setelah mendengar cerita singkat dari Zio, Elvira kembali bertanya.
"Lalu bagaimana dengan keluarganya?"
Pria itu menggeleng.
"Tidak ada, dia yatim piatu. Ada keluarganya di sini, tapi lama hilang contact.
Elvira menatap curiga.
"Kalian beneran menikah? Ada surat-suratnya? Jangan bohong sama Mama!"
"Ada, Ma."
Elvira menghela napas panjang, ia sedikit merasa lega. Tapi ia mau melihat bukti-buktiny dulu. Kalau Zio memang benar-benar menikah dengan gadis tersebut.
"Mama nggak percaya sama, Zio?"
"Bukan begitu. Mama nggak mau kamu bawa anak orang ke rumah. Apalagi Mama gak melihat sendiri kamu menikah dengannya. Pasti ada kan berkas-berkasnya?"
Sambil menahan kesal, Zio bangkit. Pria itu masuk ke dalam kamarnya. Saat Zio ke kamar, Elvira baru kepikiran.
[Kalau mereka sudah menikah? Kenapa gadis itu di kamar tamu? Kamu mau menipu Mama ya, Zio?]
Elvira terlihat masih curiga pada anak laki-lakinya itu.
Tap tap tap
Zio datang, pria itu duduk sambil memberikan map coklat pada mamanya. Dengan antusias, Elvira membuka map itu. Ia baca semua berkas di dalamnnya.
"Astaga, ini tanggal berapa? Ya ampun ... kamu sudah menikah beberapa bulan lalu dan menyembunyikan semua ini sama Mama? Katakan Zio! Ini tidak beres. Kamu pasti menyimpan sesuatu dari Mama!"
Elvira mengendus gelagat aneh dari putranya. Pasti ada yang Zio sembunyikan.
"Katakan! Atau Mama akan cari tahu sendiri." Elvira mulai mengeras.
Sambil memegangi kepalanya, Zio mulai mengarang cerita. Karena jika cerita kisah yang sebenarnya, bisa jadi Elvira akan kecewa. Pernikahan yang ia jalani karena hanya untuk formalitas belaka, agar Kevia bisa keluar dari segala masalahnya.
Tidak mau membuat mamanya kecewa, Zio lagi-lagi berbohong untuk menutupi kebohongan yang sebelumnya.
"Zio butuh waktu untuk mengenalkan dia pada Mama. Dan Zio juga belum yakin, apa Mama mau menerima dia. Karena Kevia tidak memiliki keluarga. Dia hanya gadis biasa," terang Zio mencari-cari alasan.
"Bicara apa kamu Zio? Kamu seperti tidak tahu sifat Mama. Kapan Mama pilih-pilih pasangan untukmu? Asal dia baik, Mama pasti setuju. Tapi ... kali ini Mama kecewa. Kenapa kamu melakukan pernikahan tersembunyi seperti ini. Dan ... kenapa dia di kamar tamu? Apa kalian sedang bertengkar?"
Bola mata Zio memutar, ia sedang mencari jawaban yang pas.
"Oh, iya. Kami sedang ribut kecil."
"Jangan seperti itu. Kalau memang dia istrimu, jangan sekali-kali pisah ranjang. Itu hanya menciptakan jarak di antara kalian."
Zio hanya bisa mengaruk tengkuk lehernya. Dan mencoba tersenyum tipis pada mamanya.
"Wanita hanya butuh dimengerti, Zio. Tapi jujur, sekarang Mama senang sekali. Cepat panggil dia ke sini. Mama lihat dia sedikit takut pada Mama."
Zio melirik ke belakang, kemudian memanggil Kevia.
Kamar Kevia.
__ADS_1
Begitu masuk, Zio langsung mengunci pintu. Takut sang mama menguping.
"Kevia! Aku ingin bicara denganmu."
Kevia mengangguk, siap mendengar ucapan Zio.
Singkat cerita, Zio menceritakan apa yang ia katakan pada mamanya di ruang tamu. Ia meminta agar bila ditanya, jawaban mereka harus sama.
Karena Kevia gadis cerdas, ia pun langsung tanggap. Diajak pura-pura oleh Zio ia pun setuju. Mungkin ini cara dia balas budi atas kebaikan suaminya. Meskipun suami di atas kertas.
***
Ruang tamu
Setelah mengintrogasi putranya sendiri, kini Elvira ganti menanyai Kevia, menantu barunya yang telat ia sambut karena dirahasiakan oleh putranya sendiri.
"Kenapa tadi kamu tidak mengatakan yang sebenarnya sama Mama? Meski kaget, Mama senang mendengar kabar pernikahan kalian." Elvira ternyata menerima Kevia dengan terbuka. Yaiyalah, Elvira kan takut putranya jadi perjaka karatan.
Tidak peduli bagaimana cara Zio mendapat pasangan, asal sudah sah. Elvira merasa lega.
Zio merasa lega, mamanya tidak begitu mempersalahkan pernikahannya.
"Oh, ya. Mama tidak mau banyak gosip nantinya. Mama harap, kabar pernikahan kalian tidak disembunyikan lagi. Mama akan diskusi sama papa. Sekarang papa sama Naomi sedang dalam perjalanan ke sini. Mama barusan mengabari mereka."
Zio hanya memijit pelipisnya. Sebentar lagi ia harus mengulang penjelasan pada sang papa dan Naomi.
***
Beberapa saat kemudian
Semua keluarga sudah berkumpul, kecuali Zia yang yang memang tidak bisa hadir. Dan Ve, adik bungsu mereka karena sedang study di LN.
Tangapan Radika saat melihat putranya sudah menikah, bahkan dilakukan tanpa sepengetahuan keluarga. Ia tidak kaget, seolah hal seperti itu biasa terjadi.
Ia malah memberikan selamat pada putranya itu. Dan malah akan menyelengarakan sebuah pesta besar untuk keduanya.
"Tidak usah, Pa!" Zio menolak. Karena pernikahan ini memang bukan sesuatu yang ingin ia rayakan.
"Sudahlah, Mas Zio. Serahkan sama Naomi. Aku seneng, akhirnya Mas Zio married."
Naomi memeluk kakak laki-lakinya, dan memberikan selamat. Sebagai kado pernikahan, Naomi akan menyiapkan sebuah pesta besar untuk Zio.
"Selamat atas pernikahan kalian," ucap Naomi pada Kevia. Ia sempat melirik Kevia, ia amati dalam-dalam.
"Selera Mas Zio daun muda rupanya?" batin Naomi sambil tersenyum tipis.
Malam semakin larut, setelah makan malam bersama yang hangat. Semua bersiap tidur. Dengan sengaja, Elvira mengajak semua menginap.
"Lama juga tidak tidur di sini, ya sudah Mama ke kamar dulu."
Elvira berjalan mendekati suaminya, ia mengajak Radika tidur.
"Iya, nih. Dah ngantuk juga. Besok bakalan sibuk untuk siapain pesta pernikahan kalian. Naomi ke kamar dulu."
Kini tinggal Zio dan Kevia.
"Jangan kembali ke kamar tamu, masuklah ke kamarku. Kamu bisa kembali ke kamarmu jika mereka sudah meninggalkan mansion ini," ucap Zio setengah berbisik.
Wajah Kevia berubah gelisah.
"Kamu tenang saja, aku akan tidur di sofa!" sambung Zio yang merasakan ketidaknyamanan Kevia.
Sesaat kemudian.
Kamar utama
"Aku tidak bisa tidur dengan lampu yang terang, bisa matikan lampunya?" pinta Zio yang sudah rebahan di sofa.
"Maaf, tapi aku takut gelap!" jawab Kevia yang hanya sebagai alasan. Ia bukan takut gelap, tapi trauma. Trauma dengan pria.
"Oh ... Baiklah!"
***
Pukul satu dini hari. Zio masih terjaga, pria itu tidak bisa tidur. Bagaimana bisa tidur kalau ada orang asing di kamarnya. Dan lampu juga masih terang benderang. Ia pun menatap sekeliling, setelah memeriksa Kevia sudah tidur. Ia langsung mematikan lampu.
Klik ...
"Siapa itu?" pekik Kevia langsung membuka mata.
Sepertinya Kevia memang takut gelap, gara-gara pernah hampir diperkusi oleh pria psikopat di tengah malam.
Panik, Kevia langsung turun. Namun, ia malah menabrak tubuh Zio yang kala itu ingin menyalakan lampu kamar kembali.
"Jangan!!! Jangan sentuh aku!" Kevia histeris. Dan Zio merasa panik, buru-buru ia peluk tubuh Kevia.
"Ini aku, tenanglah! Kamu aman!" bisik Zio sambil memeluk Kevia. Ia tidak mau Kevia teriak, nanti membangunkan semua orang.
Zio dapat merasakan napas Kevia yang memburu, sepertinya gadis itu kena serangan panik karena lampu yang ia matikan. Entah mungkin karena kasihan, tangannya malah menepuk punggung Kevia perlahan. Kemudian mengusap rambutnya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, tenanglah."
Zio kemudian mendudukan Kevia di tepi ranjang, pria itu lalu meraih stop kontak.
Klik
Dan lampu pun kembali menyala, Zio ingin mengatakan semua sudah aman sekarang. Jadi Kevia tidak usah khawatir.
"Maaf, aku tidak tahu kamu benar-benar takut gelap."
"Kamu tidak apa-apa, kan?" sambung Zio yang melihat Kevia menundukkan wajah.
"Kevia? Kau baik-baik saja, Kan?" Zio memberanikan diri menyentuh dagu gadis tersebut. Dilihatnya Kevia sudah menangis.
[Astaga, apalagi ini? Kenapa aku harus menghadapi gadis ingusan?]
Zio kemudian berjongkok di depan Kevia.
"Ayolah, Kevia ... lampunya sudah menyala. Apa lagi yang membuatmu seperti ini? Dan satu lagi ... aku tidak suka melihat wanita menangis!" ujar Zio tegas. Bukannya membujuk Kevia agar tenang, ia malah mengatakan tidak suka melihat wanita menangis.
"Bolehkah aku kembali ke kamarku sendiri?" Kevia mendongak. Mungkin ia tidak hanya takut gelap, tapi takut pada pria.
"NO! Tidak sekarang. Tapi, kalau kamu mau segera berpisah, aku akan segera urus. Tapi malam ini, kamu harus tetap di sini."
Akhirnya, Kevia harus ikut aturan Zio.
Tapi, masalahnya Elvira dan semua keluarga menginap tidak hanya semalam. Mereka tidak pulang, karena ingin di sana sampai acara pernikahan selsai. Karena mereka juga mau diskusi tentang konsep yang akan disiapkan.
Apes bagi Kevia dan Zio.
Bila semalam tidak terjadi apa-apa, lalu bagaimana dengan malam ini. Ini adalah malam ke dua mereka satu kamar.
Di dapur.
Elvira sedang bisik-bisik pada Bibi.
"Bibi yakin, ini ada efeknya?"
"Bener, Nya. Kata pemilik toko ini sangat manjur. Bisa kuat berjam-jam," ucap Bibi dengan yakin.
"Bagus! Mereka sepertinya tidak harmonies. Saya ingin mereka akur. Masa pengantin baru tidak kelihatan auranya. Mereka seperti orang asing. Pertama ke sini malah pisah kamar. Semoga obat ini manjur ya, Bi."
"Iya, Nya."
Sebelum masuk kamar, Elvira mencari Zio.
"Ziii ...!"
"Iya, Ma."
"Mama lihat, wajah kamu kelelahan akhir-akhir ini. Coba minum ini, supplement. Mama habis minum ini kok badan terasa seger."
Dahi Zio mengekerut, sejak kapan mamanya jadi brand ambassador supplement?
"Nggak, Ma. Zio gak minum minuman aneh-aneh."
"Udah! Minum aja!" Elvira menyodorkan gelas itu. Ia bahkan memastikan Zio meminumnya sampai habis.
[Apa ini? Kenapa sedikit amiss dan pahit?]
"Ya sudah, sana ... kamu istirahat dulu. Mama juga mau tidur."
Elvira berbalik, bibirnya menggembang. Ia tersenyum penuh kemenangan.
***
Beberapa jam kemudian
Zio berbaring di atas sofa di kamarnya, sedangkan Kevia sudah tidur di atas ranjang.
Glibak glibuk .. glibak glibuk ...
Zio tidak bisa memejamkan matanya. Tubuhnya terasa aneh.
"Astaga! Minuman apa yang mama kasih tadi?" gerutu Zio yang mulai merasa tidak nyaman.
Dilihatnya AC kamar, masih normal. Tapi ia kok merasa gerah.
Mencoba menguasai diri, ia mengusap wajahnya dengan kasar dan langsung ke kamar mandi. Pria itu membasuh wajahnya berkali-kali.
Ketika sudah merasa segar, ia pun kembali ke kamar. Tapi, matanya mala tidak sengaja terus saja menatap ke atas ranjang. Tanpa disuruh, kakinya terus melangkah mendekati Kevia yang sudah lelap.
Zio memejamkan mata, kemudian berbalik.
"Sadar Zio!" gumamnya.
Tapi, baru beberapa langkah ia malah berbalik. Zio perlahan naik ke atas ranjang. Jakunnya naik turun memperhatikan Kevia yang tidur.
BERSAMBUNG
__ADS_1