Dinikahi Milyader

Dinikahi Milyader
Pengantin Baru VS Pengantin Expired


__ADS_3

Dinikahi Milyader Bagian 60


Oleh Sept


Rate 18 +


Rencananya datang menghadiri resepsi pesta pernikahan Zio dan Kevia, tapi pulang dari acara tersebut, Dirga malah memesan kamar presidential suite dengan decorations pengantin baru.


Ya, pria itu malah meminta management hotel menyiapkan kamar khusus untuk mereka. Sama seperti pengantin baru, mungkin karena masih hotel keluarganya, permintaan Dirga yang mendadak itu dengan mudah dikabulkan.


***


Di sebuah kamar, full dekorasi seperti kamar pengantin baru. Levia menatap aneh pada kamar yang mereka pesan.


"Kenapa ada bunga-bunga juga?" batin Levia. Namun, karena capek ia hanya langsung duduk dan tidak begitu mempersalahkan hal itu. Paling juga kerjaan suaminya yang super bucin tersebut.


"Bagus, kan?" tanya Dirga dengan wajah tanpa dosa.


Levia hanya tersenyum tipis, kemudian duduk sambil memijit betisnyaa. Capek, perutnya sudah besar, membuatnya gampang lelah kalau lama-lama berdiri. Meskipun tadi banyak duduk, tetap saja ia merasa capek. Bawaan bayi, membuat Levia jadi gampang merasa lelah.


Dirga pun menawarkan pijat untuk istrinya itu. Tanpa curiga mulanya Levia oke-oke saja. Akan tetapi, saat Dirga menyuruh melepas baju, baru Levia menatap suaminya tanpa kata.


"Kirain mau pijit beneran!" gumam Levia.


"Sini! Mana yang capek?" Dirga langsung mendekati Levia. Ia bopong pengantin expired itu ke atas ranjang.


"Aku bantu lepas, ya?"


Levia melirik, tapi tidak menolak. Kebetulan, kemarin malam mereka absen karena Dirga habis dari luar kota. Alhasil, malam ini mungkin akan dibayar dobel.


Sementara itu, Dirga wajahnya sudah begitu sumringah. Ia semangat bukan main karena akan mengunjungi si kecil. Ia akan menyiram bibit yang kini sudah tumbuh sempurna tersebut.


"Papa nggak sabar lihat kamu, Sayang!" bisik Dirga sambil mengecupp perut Levia yang sudah seperti balon. Ia usap perut itu, sambil mengajak bicara.

__ADS_1


"Dia pasti nanti secantik kamu, Lev," ucap Dirga sambil beranjak dan mulai menatap istrinya kembali.


"Katanya, anak perempuan mirip dengan ayahnya," timpal Levia yang juga mengusap perutnya. Mereka kaget ketika melihat perut itu bergerak-gerak.


"Ya ampun ... anak Papa!" pekik Dirga yang begitu antusias melihat pergerakan sang calon bayi dalam kandungan Levia.


"Sakit nggak, Sayang?" tanya Dirga saat melihat salah satu permukaan perut Levia yang menonjol. Sepertinya, calon baby D sedang menendang sang mama.


Levia menggeleng pelan, kemudian menjawab tidak.


"Nggak, malah seneng banget. Artinya baby kita sehat Mas," tutur Levia dengan lemah lembut. Hamil membuat Levia tambah manis, membuat Dirga gak mau jauh-jauh. Bahkan ia sampai meminta miss Julie untuk membawa berkas yang harus ditanda tangani ke rumah. Karena gak mau jauh dari Levia.


Semenjak hamil, dan masa ngidam berlalu, Dirga memang punya agenda khusus. Yaitu, tidak pernah absen mencolok. Entah pagi, siang malam. Pokoknya kalau ingin, ya sudah langsung colok.


Pernah ketika saat itu, Miss Julie sedang mengantar berkas. Ada yang ketingalan, tidak tahunya, mereka malah asik main siang-siang. Untung miss Julie sang sekertaris paham betul kadar kebucinan sang atasan. Ia pun kembali dengan tangan kosong.


Kembali ke masa kini, mereka berdua masih di dalam kamar. Sedang menikmati hangatnya malam syahdu yang sudah kadarluarsa.


Tapi, semangat keduanya masih membara. Tidak kalah dengan pengantin yang di kamar sebelah.


***


Kevia sampai malu sendiri. Tapi bagaimana lagi. Ternyata Zio begitu lihai membuatnya mabukkk kepayang. Alhasil, ia hanya mengikuti arus. Membawa mereka berkelana ke surga dunia.


Sudah pukul 11 malam, dua pria keturunan Dirgantara itu masih sama-sama asik dengan mainan mereka.


Keduanya tidak ada lelahnya, meski keringat mengalir deras, semangat masih mengebu tanpa batas.


Kamar tempat Zio menginap.


"Lucu paling, jika nanti kita punya anak kembar," ucap Zio sambil mengusap pipi Kevia yang masih dalam kungkungannya.


Kevia yang malu, hanya bisa menatap tanpa kedip.

__ADS_1


"Kita buat anak kembar yang banyak ya?" bisik Zio kemudian mulai naik turun.


Bagaimana mau menjawab, Kevia sudah dibuat tidak konsen. Gerakan Zio membuat Kevia tidak bisa berpikir. Ia hanya bisa mencengkram kain seprai ketika Zio mulai memasuki tubuhnya.


"Apa sakit?" tanya Zio yang melihat Kevia memejamkan mata menahan perih.


[Apa kurang pemanasan]


Zio mulai berpikir.


"Katakan kalau sakit, aku akan pelan-pelan."


Karena Zio terus saja bertanya dan bicara, Kevia pun menggeleng.


"Mungkin terlalu besar," tiba-tiba kata itu keluar begitu saja dari bibir Kevia. Seketika, Zio yang dibuat malu dan tidak enak.


"Benarkah?"


Kevia mengerjap.


Zio kemudian terkekeh.


"Apa dipotong?"


Tiba-tiba, Kevia malah tertawa. Ia membayangkan suaminya disunatttt karena terlalu panjang.


Sementara itu, melihat Kevia tertawa saat masih dalam kuasanya. Zio langsung saja kembali bersemangat. Ia hajar istrinya itu tanpa ampun.


Padahal, Kevia sudah meringis karena sakit. Namun, Zio yang sudah pandai. Ia tidak habis akal. Sambil terus memompa, ia mainkan semua keterampilan jari-jarinya. Hingga Kevia mulai lupa akan rasa sakitnya dan larut dalam permainan mereka.


"Sayang ... mau keluar!"


BERSAMBUNG

__ADS_1


Dipersilahkan ... untuk seret suaminya masing-masing. Jangan suami tetangga, jangan suami bos, jangan suami orang pokoknya. Dosaaa hehehhe



__ADS_2