
Dinikahi Milyader Bagian 42
Oleh Sept
Rate 18 +
Seperti ulat yang mengerogoti daun pucuk, seperti itulah Miska. Gadis yang tidak kunjung menikah karena mendambakan pria yang sudah beristri tersebut lari terbiri-birit setelah mengatakan sesuatu.
Miska lari ketakutan karena membuat seseorang pingsan akibat selesai bicara dengannya. Entah wanita itu tumbang karena kalimat Miska yang pedas, atau karena susunan alenia yang ia cecar pada wanita itu terlalu melukai hingga menusuk rivalnya tersebut.
Yang jelas, setelah Levia terkulai di lantai kamar kecil sebuah restaurant. Miska buru-buru menghilang. Takut bila ketahuan oleh Dirga. Dari jauh, ia mengintip karena penasaran.
Tap tap tap ...
Terdengar banyak derap langkah yang mendekat, seketika Miska menengelamkan diri. Menyamarkan jejak agar tidak ketahuan. Sambil terus mengintip dari kejauhan, bibirnya mengerucut dan mulai mengumpat.
"Pasti dia pura-pura, kan? Gitu saja pingsan. Dia pasti wanita licik!" rutuk Miska yang melihat kepanikan di wajah pria yang ia damba-dambakan.
"Ish ... sialannnn!" umpatnya spontan. Hatinya menjerit tak kala melihat Levia dibopong oleh Dirga.
"Pasti wanita itu pura-pura!" cetusnya kesal. Sambil terus mengikuti dari belakang karena masih penasaran. Namun, saat salah satu pelayan menyadari kehadirannya, Miska buru-buru berbalik dan berjalan cepat.
"Gawat!"
Dengan secepat kilat Miska menjauh karena tidak mau orang-orang menyadari kehadirannya.
Kamar hotel Dirga
"Lev! Bangun Lev!" Dirga menepuk halus pipi Levia. Kemudian mengoleskan minyak pada area hidung. Berharap Levia cepat siuman.
"Tolong hubungi dokter terdekat!" seru Dirga pada pelayan hotel yang tadi ikut bersamanya.
"Baik, Tuan."
Pelayan itu pun pamit pergi. Sedangkan Dirga, ia masih berusaha membuat Levia tersadar.
"Lev!" panggil pria itu dengan cemas.
"Ada apa denganmu?" tanya Dirga sambil mengusap lembut kening Levia. Mungkin tadi di restaurant ia terlihat dingin dan marah, tapi sekarang berubah 180 derajat. Dirga nampak khawatir dengan kondisi Levia. Karena ditemukan pingsan tiba-tiba.
Sedangkan istrinya itu dalam kondisi yang sehat, kenapa bisa pingsan tiba-tiba? Tidak mau hal buruk terulang, yaitu kehilangan kekasih, kehilangan separuh hidupnya, Dirga lantas meminta karyawan hotel untuk memanggil dokter yang terdekat.
Beberapa saat kemudian
Seseorang mengetuk pintu kamar hotel tempat Dirga dan Levia menginap, dengan bergegas Dirga beranjak dan membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
"Mari, Dok!" ujar Dirga ketika melihat sosok pria masuk dengan jas putih serta tas hitam di tangannya.
Dokter itu mengangguk kemudian berdiri di samping ranjang. Ia langsung memeriksa keadaan Levia. Memeriksa detak jantungnya, memeriksa perut Levia. Ia sempat menekan bagian perut tersebut, dan sempat membuat Dirga tidak suka.
Kenapa harus dokter laki-laki? Tidak adakah dokter perempuan saja? Mau cemburu tapi tidak keburu. Karena yang paling penting Levia siuman dulu.
"Kita bawa ke rumah sakit dulu, mungkin diagnosis saya salah. Untuk lebih akurat, lebih baik Nyonya Levia melakukan pemeriksaan di rumah sakit."
Dirga langsung menatap dokter, disuruh periksa kok malah gak tahu istrinya kenapa. Sudah pegang-pegang pula, jujur, Dirga jadi sensi sendiri.
Setelah melihat Levia masih saja tidak sadarkan diri, akhirnya Dirga membawa istrinya ke rumah sakit yang terdekat dengan hotel mereka menginap.
Begitu tiba di rumah sakit, baru sampai ruang rawat inap, Levia sudah membuka mata.
"Lev ... Mana yang sakit? Kamu kenapa?"
Baru juga membuka mata, Levia langsung dicecar banyak pertanyaan oleh suaminya.
Levia yang masih ingat kejadian di kamar kecil di restaurant tadi, langsung memasang wajah dingin. Ia kemudian membuang muka, tidak mau melihat suaminya.
"Mari, Pak kita ke ruang."
Levia baru menoleh saat mendengar suara suster yang tiba-tiba sudah ada di ruangan itu.
Banyak poster mengenai education parenting. Tentang poster ibu hamil, dan sebagainya.
"Eh ... kenapa ke sini?" batin Levia yang kala itu sudah duduk di kursi roda.
Levia seperti orang yang kebingunan. Wanita itu kemudian mengingat sesuatu. Sejak menikah, ia memang belom mendapat tamu bulanan sama sekali. Tidak satu kali pun. Terakhir adalah beberapa hari sebelum ia menikah.
[ASTAGA! Nggak mungkin!]
Wajah Levia memucat, apalagi kata-kata Miska tiba-tiba terngiang-ngiang dalam kepalanya. Ucapan Miska yang membuatnya tertekan dan jatuh pingsan.
"Lev ... Levia!" panggil Dirga ketika Levia sudah dibopong di atas ranjang. Karena melamun, Levia sampai tidak sadar bahwa ia kini ditatap suami serta seorang dokter yang mengamati dirinya sejak tadi.
"Berbaring yang rileks ya," titah dokter wanita.
Ini atas permintaan Dirga. Ia mau dokter perempuan yang menangani istrinya.
"Sebentar ya, saya oles dulu!" ucap dokter sambil mengoles sesuatu di atas perut Levia.
Wajah Levia semakin gelisah, belum apa-apa dia sudah ketakutan. Sedangkan Dirga, ia menunggu juga dengan perasaan was-was. Apa benar dugaan dokter yang sebelumnya. Mana mungkin Levia hamil? Bulan madu saja belom pernah. Karena belum sempat sih. Kalau dicolok sih sering, sering banget. Semalam bisa berkali-kali. Dan, sepertinya sepanjang mereka menikah, Levia memang belum pernah menolaknya karena absen dapat tamu bulanan.
Tiba-tiba Dirga menelan ludah sedari. "Jangan-jangan!"
__ADS_1
Ia lalu menggeleng pelan, memilih melihat dan mendengar apa kata dokter nanti.
Sementara itu, layar sudah menyala. Dan dokter sudah menempelkan sebuah alat di atas perut Levia. Ia putar pelan alat itu, hingga sebuah gambar muncul di layar. Sebuah titik kecil, seperti biji terong.
"Selamat ya ..." Belum selesai dokter berbicara. Dirga langsung mendekati Levia.
"Kamu hamil, Lev?"
"Benar, istri anda sedang mengandung. Masih beberapa minggu. Dan ini adalah usia rawan. Jadi kalian harus ektra hati-hati," sela dokter.
Dirga mengusap wajahnya, masih tidak percaya.
"Dokter serius?"
Dokter perempuan itu hanya melempar senyum ramahnya.
Sementara itu, Levia merasa tubuhnya langsung lemas.
[Selamat Levia ... mungkin kamu akan terjebak dengan pria ini]
Levia yang merasa tubuhnya langsung lemas, mendadak tertegun ketika Dirga mengecupp perutnya. Pria itu mengusap perutnya dengan sayang sambil berbicara.
"Anak Papa ... sehat-sehat ya, SAYANG!
CUP ...
Satu kecupann di perut Levia, kemudian Dirga menarik diri. Pria itu melangkah sedikit lagi, mendekat ke samping Levia.
"Terima kasih, terima kasih Levia ... kamu hamil, sayang!"
Mata Levia terbuka lebar ketika kata sayang keluar dari bibir Dirga tanpa sadar.
CUP ... CUP ... CUP ...
Dirga mengabsen seluruh wajah Levia dengan bibirnya. Dikecupnyaa kening, turun ke kelopak matanya, ke hidung, kemudian ke dua pipi dan terakhir bibir. Paling lama, tapi karena ada dokter, Dirga langsung tersadar. Hampir saja ia menyesap bibir manis itu di depan dokter.
BERSAMBUNG
Ingat tempat Dirga, sosor terus. Kamu Dirga, bukan soang! Hehehe
Iklan ....
IG Sept_September2020
__ADS_1