
Dinikahi Milyader Bagian 39
Oleh Sept
Rate 18 +
Hari demi hari terus berlalu, Dirga dengan rutinitasnya di perusahaan, sedangkan Levia hanya di apartment saja. Seperti biasa, Levia akan menghabiskan waktu menunggu suaminya pulang dengan menonton film atau drama, membaca novel yang ukurannya cukup tebal.
Ternyata di apartment Dirga, tepatnya di salah satu lemari di dalam ruangan yang jarang dibuka, tersimpan banyak sekali buku-buku di sana. Levia tidak tahu, bahwa itu adalah buku-buku koleksi milik Arunika. Tunangan Dirga sebelumnya yang sudah meninggal dunia.
Sambil mengisi waktu menunggu Dirga yang kadang pulang larut karena macet, Levia sering menengelamkan diri dalam buku-buku bacaan tersebut. Hingga ia tidak sadar sampai lupa waktu karena larut dalam setiap bait dan alenia yang ia baca.
Ketika menyadari hari sudah sore, Levia menutup buku yang semula ia baca. Namun, hembusan angin lewat jendela membuat halaman buku itu terbuka tanpa beraturan. Hingga terbuka pada halaman yang memiliki sebuah catatan kecil di bawahannya.
Bibir Levia bergerak, perlahan membaca bait demi bait tulisan tangan tersebut. Kalau ia tidak salah, ini adalah tulisan Dirga. Ya, sekilas mirip joretan tangan suaminya. Mulanya ia sudah tidak enak saat pertama kali membaca judulnya. Namun, hatinya terus penasaran. Levia pun perlahan membacanya dengan suara lirih.
***
Happy anniversary, My Love ...
I just want to tell you that I am so in love with you. I am so grateful that you have come into my life. It was three years ago today that you first told me you loved me. I have been the happiest person in the world since that day. You have given me more in three years than anyone in my life has before.
With love,
"D"
***
Selamat hari jadi, Cintaku ...
Aku hanya ingin memberi tahumu bahwa aku sangat jatuh cinta kepadamu. Aku sangat bersyukur bahwa kamu telah datang ke kehidupanku. Tiga tahun yang lalu hari ini pertama kalinya kamu mengatakan kepadaku bahwa kamu mencintaiku. Aku menjadi orang paling bahagia di dunia semenjak hari itu. Kamu memberiku lebih banyak dalam tiga tahun dibandingkan siapa pun dalam hidupku sebelumnya.
Salam sayang,
"D"
***
Seketika hati Levia langsung menciut, membaca goresan cinta suaminya untuk wanita lain, meskipun itu sudah terhitung sebuah masa lalu, tetap saja ada perasaan sesak yang menyeruak.
Matanya terasa perih, kata-kata cinta demi cinta yang Dirga tulis membuatnya iri. Sepertinya apa sosok wanita yang digilai suaminya dulu? Seperti apa hingga membuat Dirga terlihat sangat mencintai sosok tersebut.
Tidak tahan, Levia akhirnya benar-benar menutup buku itu. Ia tinggalkan tergeletak di atas meja. Kemudian dia pergi begitu saja. Masa lalu yang harusnya berlalu, tiba-tiba membuat hidupnya terusik.
Sampai malam datang, Levia nampak murung. Bahkan, ia begitu dingin ketika Dirga tiba. Levia pura-pura tidur di balik selimut. Saat Dirga masuk kamar dan membuka selimutnya, Levia masih pura-pura memejamkan mata. Hingga Dirga mengecupp kening istrinya tersebut, Levia masih pura-pura.
Dirga yang tidak tahu apa-apa, ia bersikap sangat biasa. Pria itu pikir, mungkin Levia kecakepan. Ya, capek karena tidak ada kerjaan. Sambil duduk di meja kerjanya, ia menatap Levia.
"Apa sebaiknya aku ajak ke kantor? Tapi ngapain? Bisa-bisa aku yang tidak bisa kerja?" gumam Dirga kemudian bangkit dan menuju ranjang.
"Lev ... Levia ...?" diusapnya kepala istrinya tersebut, akan tetapi Levia tidak merespon. Wanita itu masih marah karena surat cinta yang Dirga tulis.
"Ngapain saja seharian? Kamu kok jadi ngantuk berat begini?" ucapnya sambil tersenyum. Kemudian memilih berbaring di dekat Levia. Tidak lupa memeluk tubuh Elvira dengan erat.
Ketika Dirga sudah terlelap, Levia yang sebenarnya masih terjaga, langsung melepaskan diri. Ia melepaskan pelukan suaminya itu. Memilih memalingkan badan dan tidur dengan guling pembatas.
***
Pagi harinya, sinar matahari pagi yang hangat masuk lewat jendela kamar yang sedang terbuka. Terasa hangat menembus kulit Dirga yang masih terlelap.
Pria itu meraba-raba, tapi tidak ada apapun yang terasa. Akhirnya, kelopak matanya bergerak-gerak dan terbuka.
"Lev ... Levi?" panggilnya dengan suara serak karena habis bangun tidur.
"Lev ...!"
Dirga menatap sekeliling, matanya kemudian menatap langit-langit kamar. Pasti istrinya sedang menyiapkan sesuatu di dapur. Tapi ini kan weekend, Dirga maunya mereka seharian di kamar.
Dengan malas pria itu turun dari ranjang, menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Kemudian keluar kamar, mencari Levia.
"Lev!"
__ADS_1
Dilihatnya Levia sedang menyiapkan sesuatu di dapur.
"Mau piknik?" tanya Dirga dengan wajah antusias ketika melihat banyak rantang makanan di meja.
Levia langsung menggeleng.
"Bukan! Untuk Mas Reza. Hari ini Levia mau ke rumah."
"Kenapa gak bilang? Tunggu ... aku siap-siap dulu!"
Saat Dirga berbalik, Levia langsung mencegahnya.
"Tidak usah, aku sendiri saja!" ucap Levia dingin.
"Aku mandi bentar aja. Tunggu!"
Dirga tidak peduli, ia langsung kembali ke kamarnya.
Beberapa saat kemudian
Keduanya sudah berada di dalam mobil, sepanjang jalan Levia hanya diam dengan tatapan kosong. Dirga pikir, Levia mungkin sedih karena ingat almarhum papanya. Ia pun ikut diam tidak ingin mengatakan apapun. Membuat Levia larut dalam kesedihan seorang diri.
Tiba di keduaman Levia, rumah yang masih sama. Begitu mereka masuk, keduanya langsung disambut ramah oleh mama Dona.
[Kebetulan, uang kemarin kan habis untuk sewa pengacara dan ganti rugi biar istrinya Pram tidak membawa Reva ke penjara. Kamu pinter banget milih suami Levia ... Kali ini Mama salute sama kamu. Harusnya Reva cari suami yang kaya raya juga. Jangan malah suami orang!]
Mama Dona tersenyum sangat manis, hingga mungkin membuat diabetes. Sungguh perlakuan yang tidak pernah Levia terima selama ini.
"Aduh, Levi ... bawa apa ini? Kok repot-repot ... Kamu mau ke sini Mama sudah seneng banget!" ucap mama Dona dengan topeng termanisnya.
Sedangkan Reva, gadis itu yang masih malas-malasan di kamar karena effect ngidam, merasa jengkel dengan omong kosong mamanya.
"Mari ... mari silahkan duduk," ucap mama Dona kepada Dirga yang kala itu nyelonong masuk karena Levia mau pulang. Mau tidak mau, ia akan melakukan apa yang membuat istrinya senang.
"Mas Reza mana, Ma?" tanya Levia yang tidak melihat kakak tirinya.
"Tadi pamit keluar, paling bentar lagi pulang. Kamu sih ... pulang gak bilang-bilang. Ngomong-ngomong nanti nginep, kan?"
"Iya, Levia mau menginap. Tapi sepertinya Levia saja."
Mama Dona langsung melirik Dirga.
"Astaga, apa mereka sedang ribut?" batin mama Dona.
"Jangan sampai! Jangan sampai tambang emas ini lepas. Levia jangan bodohhh kamu, masih mending ada yang mau denganmu!" rutuk mama Dona dalam hati.
"Oh ... pasti Nak Dirga sibuk, ya?" pancing mama Dona kemudian.
"Nggak, saya juga menginap!" jawab Dirga.
Mana mau Dirga melepas Levia satu malam saja, apalagi di sana ada Reza.
Levia jelas terhenyak, ia menatap suaminya.
[Ngapain ikut? Sana! Ikutin wanita itu!]
Levia kembali mengerutu.
Beberapa saat kemudian
Terdengar deru mobil yang berhenti di depan rumah.
"Nah, itu Reza datang!" ujar mama Dona.
Levia langsung beranjak keluar rumah.
"Wah ... bagus bener, mobil siapa Mas?" Levia yang sedang kesal pada suaminya, langsung mendekati Reza yang waktu itu baru keluar dari sebuah mobil.
Reza hanya tersenyum tipis kemudian mendekati Levia. Mungkin sudah kangen berat, tanpa sadar ia main peluk saja di depan Dirga.
"Lama tidak ketemu? Kenapa kamu kurusan?"
__ADS_1
"Benarkah? Padahal naik satu kilo!" ujar Levia dengan nada bercanda.
Reza lalu mengusap kepala Levia dengan sayang, seolah tidak peduli pada Dirga yang hatinya panas melihat keakraban keduanya.
"Mas ... mobil siapa? Mobil atasan Mas Reza ya?" Levi masih penasaran. Biasanya abangnya itu naik motor. Kok sekarang roda empat. Terlihat new lagi. Pasti baru keluar dari pabrik.
"Bukan," Reza pun menggeleng.
"Baru, ya?" Dirga mendekat dan ikut nimbrung.
Reza hanya mengangguk pelan kemudian mengajak masuk Levia. Membiarkan Dirga bengong sendiri.
[Apa-apaan mereka ini?]
Dirga mengumpat karena merasa dikacangin.
Singkat cerita, mama Dona bercerita dengan bangga. Bahwa Reza sudah naik jabatan. Dan beberapa waktu lalu baru beli mobil.
"Selamat ya, Mas Reza."
Mendapat ucapan selamat dari Levia, Reza hanya tersenyum tipis.
"Besok kita jalan-jalan, ya?" pinta Levia tiba-tiba.
Mata Dirga langsung melotot, tapi Reza seolah sengaja. Ia malah mengangguk pasti.
"Sekalian, Mas Reza punya banyak voucher liburan."
Mama Dona dan Reva jelas senang sekali mau diajak jalan-jalan Reza. Sedangkan Dirga, wajahnya semakin masam saja. Ini karena lusa dua ada pertemuan penting, dan tidak bisa di tunda.
***
Malam harinya
Semua sudah beristirahat di kamar masing-masing, Levia sih nyaman di kamarnya yang mungkin terasa sangat sempit bagi Dirga.
"Lev ... kenapa kamarmu gerah sekali?" celetuk Dirga yang tidak bisa tidur.
Dengan sebal, Levia menaikkan level kecepatan kipas angin.
"Lev ... kenapa nggak pasang AC, sih?" protes Dirga lagi.
"Ya sudah. Kamu pulang aja, tidur di tempatmu yang nyaman itu!" cetus Levia dingin.
Dirga langsung mengeryitkan dahi. Sejak kapan Levia jadi sekasar itu?
"Lev, kamu ada masalah?"
Levia tidak mau menjawab, ia malah langsung menarik selimut.
"Lev! Aku bicara denganmu. Hargai orang yang sedang bicara denganmu!" Dirga yang dari tadi sudah kegerahan, mulai kepancing emosinya.
"Sudah malam, aku mohon jangan ribut di rumah orang."
"Ini rumahmu ... artinya rumahku juga!"
"Kalau begitu jangan protes! Kalau enggap buka aja bajunya!"
Seketika bibir Dirga menggembang. Dasar biji terong mesumm. Dengan cepat ia langsung membuka pakaian yang semula melekat di tubuhnya.
"Eh ... apa mati lampu?" tanya Levia ketika lampu di kamarnya padam.
"Bukan! Aku yang matiin!" bisik Dirga yang sudah ada di atas tubuh Levia. Hampir saja kaki Levia menendang pria tersebut.
"ASTAGA!"
Levia tidak sempat kaget, karena biji terong sudah mengeluarkan jurus andalan. BERSAMBUNG.
Salah satu kunci suksesnya sebuah hubungan ada pada komunikasi, jika salah satu sudah tidak terbuka. Maka itu adalah awal kehancuran. Eh ... cuma petuah unfaedah hehehe.
IG : Sept_September2020
__ADS_1