
Dinikahi Milyader Bagian 72
Oleh Sept
Rate 18 +
Di suatu hari yang cerah, secerah hati seorang wanita yang kini sedang duduk bersandar sambil menatap awan yang berarak di atas sana.
"Mau yang mana jus apa kelapa muda?"
Naomi menoleh tak kala sebuah tangan yang kekar ditutupi otot halus serta bulu-bulu lembut terulur padanya. Satu membawa jus dan satunya kelapa muda.
[Sejak kapan berondong ini sangat tampan!]
Naomi tersenyum tipis, bibirnya tak bisa menyembunyikan senyum. Membuat Vincent mengeryitkan dahi. Ada apa dengan wanitanya? Senyum-senyum tidak jelas. Padahal, beberapa waktu lalu, dia masih jadi sosok jutek, dingin dan seperti batu.
"Kenapa? Apa kamu tersentuh hanya karena aku membawakan ini?" ledek Vincent.
Naomi menggeleng keras, kemudian meraih kelapa muda hijau yang ada di tangan sang pacar. Ya, pacar. Mereka resmi pacaran terhitung setelah pulang dari Bandara ke hotel. Naomi tidak jadi balik. Ia malah berencana ikut Vincent ke LA nanti.
Keduanya pun kembali duduk, menikmati angin sepoi-sepoi dan ombak pantai dari jauh.
"Nom ...!" panggil Vincent, masih bersandar. Dan masih menatap lepas ke atas langit. Mengamati awan yang makin lama makin banyak.
"Hem."
"Bagaimana dengan hubungan kita?"
Naomi diam sesaat.
"Hem ... dipikirkan sambil jalan!" ucap Naomi sambil duduk dan menyesapp air kelapa mudanya.
"Aku sudah telpon, papa!"
Naomi terkejut, tapi berusaha tidak panik. Hanya saja, raut wajahnya yang kini memakai kacamata hitam, terlihat gelisah.
"Lalu ...?"
"Papa pikir, aku hanya main-main dan hanya penasaran padamu."
GLEK
Naomi menelan sisa air kelapa dalam mulutnya.
"Terus?"
"Aku bilang, kita akan segera menikah!" jawab Vincent. Kini ia juga sudah duduk dan menatap Naomi dengan muka serius.
"Kapan ... ka .. kapan aku bilang mau menikah denganmu?" tanya Naomi gugup.
Vincent hanya tersenyum, bibirnya menggembang tak kala menatap pipi Naomi yang memerah.
[Kamu bukan anak ABG, tapi malu-malu begini!]
"Mari menikah ... Naomi, dan lahirkan anak-anak yang manis sepertimu ...!"
[ASTAGA!]
Naomi langsung salting, ia menatap sekeliling. Malu tapi mau. Siapa yang menolak pesona Vincent? Pria muda, tampan, sikapnya sangat hangat dan selalu bisa memperlakukan wanita seperti ratu.
Seperti sekarang, Vincent membetulkan letak sendalnya. Mengajak Naomi kembali ke dalam hotel.
"Ayo masuk," ajak Vincent.
"Aku masih mau di sini!" elak Naomi. Ia takut masuk ke dalam hotel. Mungkin takut dilahap Brondong jagungnya tersebut. Tatapan Vincent dari tadi yang begitu dalam, kadang membuat Naomi ngerti. Pikiran Naomi traveling ke mana-mana.
"Anginnya keceng banget, nanti masuk angin!"
__ADS_1
"Nggak apa-apa, udah biasa." Naomi terus menolak diajak ke dalam. Paling juga Vincent mau menciiumnya lagi. Sudah tergambar jelas di mata pria itu.
"Apa mau aku gendong?"
Seketika Naomi berjingkat, dan Vincent langsung terkekeh.
***
Satu bulan kemudian
Vincent baru kembali dari LA, ia sedang pulang untuk menegok sang papa. Di Bandara, Naomi sudah menjemput. Padahal baru seminggu gak ketemu, tapi rindunya sudah mengunung.
Kini keduanya dalam perjalanan menuju kediaman Vincent, rumah papa Vincent. Dan Naomi yang menyetir. Karena Vincent habis dari perjalanan jauh.
"Aku berharap kali ini, ketika aku balik kita sudah bersama!" ucap Vincent tiba-tiba.
Naomi yang fokus menyetir, hanya diam. Baru juga memulai hubungan sebulan, masa mau langsung nikah. Tunggu, biarlah waktu mengalir apa adanya.
"Kita bicarakan nanti!"
"Kamu tahu? Miss Carrel, yang aku ceritakan itu ... dia terus saja mendekatiku. Kamu gak takut? Aku diambil orang?"
Naomi menyetir sambil terkekeh.
"Baguslah ... itu artinya kamu laku. Dia yang kamu ceritakan usianya sama sepertimu Kan?"
"Astaga ... kenapa bawa-bawa usia?" tanya Vincent sewot.
"Jangan gegabah, Vin. Menikah itu tidak semudah yang kamu pikirkan. Lagian om juga masih belom mencair," terang Naomi jujur.
"Nikah dulu, kasih cucu. Pasti gak bakal nolak!" celetuk Vincent enteng.
CHITTTTT ...
Hampir saja mereka meyenggol pengendara roda dua. Ucapan Vincent membuat Naomi hilang fokus.
"Ish!"
"Vin, aku nyetir. Tolong bahas nanti."
"Hemmm!"
***
Kediaman Vincent
Baru memasuki area halaman rumah Vincent, bulu Naomi sudah merinding. Bukan karena rumah itu wahana rumah hantu, atau horor. Karena Naomi takut mau ketemu papa Vincent. Kan dia yang dulu bilang dengan jelas, bahwa hanya menganggap Vincent anak kecil. Ia seolah harus menelan ludahnya di depan papa Vincent.
Ting ... Tung ....
"Bi ... Bibi!" panggil Vincent.
Lama keduanya menunggu di luar, tidak tahunya sebuah mobil masuk halaman. Dan itu adalah papa Vincent. Begitu pria itu keluar, auranya sangat mencekam.
"Pa!" Vincent menghampiri sang papa. Kemudian memeluk erat. Karena sebulan gak ketemu, mungkin mereka sudah kangen.
Setelah melepas pelukan Vincent, papa Vincent melirik Naomi. Naomi pun mengangguk pelan. Menundukkan wajah dalam-dalam. Mungkin merasa canggung.
"Ayo masuk!" Papa Vincent membuka pintu rumahnya.
Mereka berdua pun masuk. Naomi paling belakang, antara masuk atau lebih baik pulang. Karena Vincent menarik lengannya, ia pung ikut masuk ke dalam.
Baru juga mau duduk, Vincent kembali berulah.
"Pa ... kami akan segera menikah!"
Mata Naomi terbelalak, ia terkejut. Ia pikir Vincent terlalu gegabah.
__ADS_1
"Duduklah dulu!" ujar papa Vincent dingin.
Beberapa saat kemudian, Bibi membawa minuman untuk mereka. Dan setelah Bibi pergi, papa Vincent mulai berbicara.
"Pernikahan bukan sebuah mainan. Pikir masak-masak. Apalagi ..."
Papa Vincent menghela napas panjang.
"Apalagi dia lebih dewasa darimu!" sambung papa Vincent dengan jujur.
Naomi merasa sudah kalah, sepertinya ia harus menyerah mulai sekarang. Tapi, tiba-tiba tangan Vincent mengengam tangannya.
"Vincent gak bakalan nikah, kalau tidak dengan wanita ini!"
Papa langsung memegangi kepalanya, mendadak pusing. Pria paruh baya itu merasa tidak mungkin lagi menghalangi niatan putranya. Bertahun-tahun ia lihat Vincent sibuk bekerja, tidak pernah membawa wanita ke rumah. Kalau dibiarkan, ia mungkin tidak bisa menimang cucu sampai menutup mata.
Mana mau ia melihat putranya jadi bujang lapuk selamanya. Papa sayang Vincent, hanya mau yang terbaik untuk anaknya itu.
Setelah menghela napas panjang, papa pun menatap putrinya dengan muka serius.
"Menikahlah ... menikahlah ... terserah kalian! Dan jangan pernah bercerai!"
Naomi mendongak, apa artinya ia sudah diberikan restu?
***
Sabtu malam, di sebuah hotel bintang lima.
El HOTEL
Di sebuah ballroom, terlihat suasana di dalam sana begitu meriah. Naomi ingin acara pernikahannya digelar biasa saja, tapi Elvira dan Radika yang terlanjur begitu bahagianya, ingin memberikan pesta besar untuk putri mereka.
Ini adalah pesta pernikahan Naomi dan Vincent. Dihadiri banyak tamu penting. Papa Vincent sampai heran, mengapa yang datang adalah banyak pengusaha yang sering ia lihat di media, seperti TV dan majalah.
Papa Vincent tidak tahu, bahwa putranya menikah dengan seorang milyader. Mana tahu kalau ia kini berbesan dengan keluarga Milyader juga.
Terlepas dari seberapa kayanya Naomi dan keluarganya, papa hanya mau Vincent bahagia. Pure, hanya ingin putranya menjalani hidup yang bahagia.
Apalagi kini dilihatnya wajah Vincent, terlihat berbinar-binar ketika menatap wajah istrinya.
Sementara itu, Vincent memang terlihat bahagia. Senyum tak lepas dari wajahnya. Banyak ucapan dan doa yang tercurah, membuat ia semakin bahagia.
"Selamat, Vin!" Zio memeluk tubuh adik iparnya. Ia menepuk punggung Vincent.
"Titip asikku yang keras ini!" canda Zio. Membuat Naomi langsung menatapnya tajam.
"Pasti!" sahut Vincent yakin.
Selanjutnya keluarga Dirgantara bergantian memberikan selamat.
Dirga dan Levia juga datang, mereka datang bersama Reza dan Diska. Sampai sekarang Diska belum hamil, mungkin memang belum dikasih. Tapi ia tidak getar. Terus mencoba dan mencoba setiap malam.
"Selamat ya!" ucap Dirga, diikuti Levia dan Diska.
Naomi merasa senang, sepertinya kebahagian yang ia rasakan sudah komplit. Apalagi dilihatnya Annabelle, Mirabelle dan Isabelle berlarian sangat mengemaskan.
Mungkin sekarang ia juga ingin memiliki boneka-boneka hidup yang lucu-lucu tersebut.
"Semoga cepat diberi momongan ya!" kini gantian Kevia yang mengucap selamat, dari tadi dia sibuk makan. Hamil kedua ini membuatnya terus lapar. Mungkin karena kembali kembar dua. Jadinya lapar terus.
"Doakan, Mbak. Biar bisa kembar seperti kalian!" celetuk Vincent.
Naomi langsung menarik jas suaminya. Malu, ya ... sekarang pria muda nan tampan itu kini sudah menjadi suaminya.
***
Beberapa saat kemudian
__ADS_1
Di dalam kamar presidential suite, terlihat kelopak bunga-bunga bertaburan di atas lantai dan juga di atas ranjang. Sepertinya ini adalah kamar pengantin. BERSAMBUNG