
Dinikahi Milyader Bagian 43
Oleh Sept
Rate 18 +
Sepanjang hari itu, Levia tidak boleh turun dari ranjang. Dirga tiba-tiba begitu over protective pada istrinya yang baru ketahuan hamil tersebut.
"Mau apa? Aku ambilin!" ucap Dirga ketika Levia mau turun.
"Tas," jawab Levia pelan.
Seketika, Dirga langsung menyambar tas milik Levia yang semula tergeletak di atas sofa. Dan memberikan pada calon mama muda tersebut.
"Terima kasih," ucap Levia kemudian mencari ponselnya.
"Mau telpon siapa?"
Wanita itu mendongak, kemudian menatap ponsel.
"Mas Reza."
Dirga mengangguk, lalu duduk kembali sambil mengupas buah apel untuk istrinya itu.
Tut Tut Tut,
Panggilan telpon belum langsung dijawab, sedangkan sambil mengupas buah apel, ternyata Dirga juga menajamkan telinga. Ia mau menguping, istrinya mau bicara apa pada kakak iparnya tersebut.
"Hallo ...!" sapa Levia di telpon.
Levia sebenarnya ingin berbagi kabar bahagia, mungkin tadi ia sangat terkejut ketika mendapati bahwa ia sedang berbadan dua. Tapi, kini Levia mau berbagi cerita pada Reza, ya ... hanya Reza yang selama ini peduli setelah papanya. Namun, papa sudah tidak ada lagi. Jadi, kini hanya bisa bercerita dengan Mas Reza. Karena tidak mungkin dengan mama Dona. Apalagi Reva, kedua wanita itu kan sama sekali tidak tertarik padanya.
Mereka bersikap manis di depannya saja, Levi paham semua kok. Tapi, ia tetap menghormati mama Dona. Karena bagaimana pun juga mereka sudah tinggal bersama belasana tahun lamanya.
"Iya, Lev!" jawab Reza yang kala itu sedang istirahat di kantor.
Reza sedang berada di kafe untuk makan siang setelah meeting bersama karyawan yang lain.
"Ada apa? Tumben telpon Mas?" tanya Reza sekali lagi. Sembari mengaduk espresso yang sudah ia pesan.
"Nggak apa-apa, cuma kangen saja. Lama tidak ngobrol!" ucap Levia sambil melirik suaminya.
Sepertinya Levia sengaja bermanja-manja pada abangnya. Karena matanya terus melirik dan mengamati ekspresi Dirga yang kelihatan tidak nyaman.
"Nanti, nanti Mas mampir ke sana. Pas weekend ya."
"Iya, Levi tunggu."
Dirga langsung memasang wajah masam. Apalagi Levia tidak kunjung mematikan ponselnya. Dalam hati, pria itu mengumpat. Apa Reza tidak kerja? Enak sekali telpon lama-lama dengan istrinya.
Setengah jam kemudian
"Asik banget ngobrol dengan Reza." Dirga mulai nyindir saat Levia meletakkan ponselnya di atas meja dekat ranjang.
"Hemm."
[Lah ... malah tidur?]
Dirga bertambah kecut tak kala menyaksikan Levia yang memilih memejamkan mata setelah berbicang dengan Reza.
Tidak mau Levia cuek, sedangkan sekarang adalah moment terbaik baginya, Dirga lantas memancing obrolan. Tidak peduli Levia ngantuk karena habis minum obat.
"Kita nggak jadi terbang, ya. Tunda sampai janinnya kuat. Tidak bagus juga, kan. Naik pesawat saat hamil muda begini."
"Hemm!" sahut Levia dengan tidak bersemangat. Ia masih kesal jika mengingat kejadian di kamar kecil beberapa jam yang lalu.
"Kamu kecewa?"
"Nggak!" jawab Levia singkat.
"Nanti aku ganti yang lebih bagus lagi."
"Hemm!"
[Ham hem ... dia kenapa? Apa hormon kehamilan? Dia jadi tiba-tiba jutek begini?]
Dirga mengamati sikap istrinya yang terasa dingin.
"Lev ... kamu seneng kan bisa hamil anak aku?" tanya Dirga dengan nada melas.
Levia langsung membuka mata. Ditatapnya pria dengan sorot mata yang sedikit berbeda tersebut.
__ADS_1
"Maksudnya?" kening Levia mengkerut.
"Nggak ... aku hanya merasa kamu nggak bahagia dengan kehamilan ini," ujar Dirga jujur.
"Bagaimana bisa aku bahagia? Kalau kamu banyak menyembunyikan rahasia dariku." Akhirnya Levia perlahan mengutarakan perasaan yang sejak tadi menganjal. Ini pasti karena Miska, si ulet jati yang tidak berbulu tapi gatellll tersebut.
"Astaga! Apalagi? Rahasia apa? Tolong jangan bahas masa lalu ... Kita bahkan sekarang akan memiliki anak. Dewasa lah sedikit, Lev!" Dirga mulai mengeras. Ia sedikit emosi. Pasti Levia mau bahas Arunika lagi.
"Harus dewasa seperti apa? Aku juga wanita! Punya perasaan! Kenapa tidak menikahi wanita itu saja? Kenapa harus aku yang jadi pelarianmu?" tukas Levia dengan kesal.
"Apa? Menikahi siapa? Arunika? Mana mungkin aku menikahi orang yang bahkan sudah tidak ada di dunia ini."
Levia menggeleng keras.
"Bukan! Tapi pacarmu yang lain!" ujar Levia ketus sambil mengusap pipinya.
[Pacar? Pacar apa?]
"Lev! Kamu mengigau! Pacar apa?"
"Jangan bohong! Setelah Arunika meninggal, kamu bahkan sudah berjanji pada keluarga mereka. Kalian akan segera menikah. Tapi, tiba-tiba aku datang dan mengacaukan rencana kalian."
Dirga mendekat, kemudian meletakkan telapak tangannya di dahi Levia. Mungkin ia pikir Levia sedang demam sampai mengigau.
"Kamu menggarang cerita dari mana? Keluarga siapa ... dan wanita apa?"
"Aku sudah tahu cerita kalian bertiga."
"Lev! Kamu semakin ngelantur!" Dirga mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak paham tentang apa yang dibicarakan Levia.
"Aku nggak mau balik ke hotel itu lagi."
"Oke, kita pulang besok." Dirga akhirnya mengalah. Tidak mau ribut dengan istrinya yang sedang hamil. Ia pikir Levia sedang kacau akibat hormon kehamilan. Jadi ia maklum, jika Levia bicara yang aneh-aneh.
Mereka berdua pun sama-sama diam, Levia bersama sakit hatinya, sedangkan Dirga mulai menerka-nerka. Apa yang dimaksud oleh istrinya tersebut. Sempat terbesit, apa ini tentang Arunika dan keluarganya? Si Miska? Dan dari mana Levia mendapat cerita ia akan menikahi wanita lain, tiba-tiba ia memijit pelipisnya. Memejamkan mata sejenak sambil menggeleng pelan.
"Tidak mungkin!" batinnya.
Malam hari.
Dirga meminta sekretarisnya membereskan semuanya. Mulai dari barang-barangnya di hotel dan juga semua administrasi RS. Ia sendiri mengawasi Levia. Ketika sedang menunggu Levia yang tidur karena obat, tiba-tiba sekretarisnya mengetuk pintu dan mendatangi dirinya. Sambil menyerahkan beberapa keperluan.
"Tuan, sepertinya sepupu Nona Arunika juga menginap di hotel yang sama, tadi saya sempat melihat Nona Miska buru-buru di meja receptionist."
Sekretaris Julie mengangguk.
"Kamu yakin?"
"Tentu."
"Tolong minta rekaman CCTV di restaurant."
"Sekarang, Tuan?"
"Besok!" ucap Dirga dingin.
Seketika sekretaris Julie langsung keluar, wanita dengan pakaian modis itu langsung meluncur ke restaurant.
Beberapa saat kemudian
Julie sudah mengirim salinan rekaman CCTV ke ponsel Dirga. Di sana Dirga dapat melihat, Levia masuk ke kamar kecil dan diikuti oleh seorang wanita.
"Miska?" gumam Dirga.
Yakin bahwa wanita itu adalah sepupu Arunika, Dirga langsung merogoh ponselnya. Ia lantas menghubungi nomor Miska.
Tut Tut Tut,
Di dalam taksi, Miska yang kala itu sedang menuju ke sebuah klab ternama di kota Bali, buru-buru mematikan ponselnya.
"Sialannnn! Pasti si buluk itu mengadu yang bukan-bukan! Harusnya gue tampol aja tu cewek gak berkelas. Ish ... mana bisa saingan gue seorang cleaning service!!!!!"
Miska mengumpat, kemudian menendang kursi di depannya. Sampai driver taksi terhenyak.
"Ada apa, Non?"
"Nothing!" jawab Miska ketus.
"Kenceng dikit, Pak!" titah Miska kemudian.
WUSH ....
__ADS_1
Mobil taksi warna biru langit itu pun melaju membelah malam di pusat kota pulau Dewata.
***
Rumah sakit
Dirga ngedumel kesal, karena Miska malah mematikan ponselnya. Ini pasti pekerjaan sepupu Arunika sampai Levia menjadi dingin padanya.
Padahal, Levia itu mudah sekali dirayu. Tapi, sejak tadi wanita itu ketus saat bicara dengannya. Terkesan dingin dan maunya marah-marah.
Tidak mungkin bertanya saat itu juga pada Levia karena dia sedang tidur, Dirga pun menunggu sampai esok paginya.
***
Pagi yang cerah, tidak secerah hati Levia.
"Selamat pagi," sapa dokter yang ingin mengecek keadaan Levia. Hari ini Levia bisa pulang.
"Pagi, Dok."
"Suaminya di mana? Biasanya standby terus?" canda dokter yang melihat wajah masam Levia.
"Ada, Dok! Di kamar mandi."
KLEK
Dirga muncul dengan wajahnya yang basah. Levia melirik sejenak.
[Ganteng sih, tapi ngeselin!]
Pertama memuji kemudian mengatai, Levia benar-benar sedang jengkel ketika melihat suaminya. Maunya jauh-jauh saja.
"Pagi, Dok!" sapa Dirga kemudian mendekati keduanya.
"Pagi ... bagaimana? Ada keluhan?"
Levia menggeleng.
"Bagus, nanti kalian bisa pulang."
"Makasih, Dok!" ucap Dirga.
Setelah memeriksa pasien, dokter pun pergi bersama suster yang sejak tadi ada di sampingnya.
Begitu dokter pergi, dan hanya ada dirinya dan sang suami. Levia kembali memasang wajah ketus.
[Aku gak boleh biarin dia gak jelas kek begini! Semua harus clear sebelum Kita pulang!]
SETTT
Dirga menyeret satu kursi, kemudian duduk di sebelah Levia.
"Kamu kemarin ketemu Miska? Dia bukan pacarku! Dia hanya saudara Arunika. Tidak lebih!"
Levia langsung mendongak, menatap wajah suaminya.
"Bohong! Dia bilang ... harusnya kalian menikah ... kalian merenggang karena aku."
Dirga langsung mencebik.
[Awas kau Miska!]
"Mana mungkin aku menikahi bayang-bayang Arunika? Dia wanita aneh, dia memakai apa yang Arunika pakai untuk mendekatiku. Dia bergaya layaknya Arunika ... bahkan memakai parfum dengan aroma yang sama. Dia gadis aneh. Dan aku sama sekali tidak tertarik!" Dirga menghela napas panjang. Kemudian berdiri menatap Levia secara intense.
"Kamu lebih percaya dia dari pada ayah dari janin yang kamu kandung?"
"Tapi ... dia bilang ... kalian sering menghabiskan malam bersama. Dia punya buktinya. Aku bahkan melihat potomu di ranjang bersamanya."
"Aku? Tidur dengan Miska? Astaga! Demi Tuhan, menyentuhnya saja tidak pernah terbesit dalam otakkuuu Levia!"
"Dia punya bukti! Aku lihat potonya!"
[Oh! Itu yang membuatmu pingsan kemarin?]
Dirga langsung menarik Levia dan memeluknya. Mulanya Levia menepis dan berontak, tapi ketika Dirga menjelaskan dengan pelan-pelan, Levia mencoba mendengarkan.
"Itu bohong, gadis itu sedikit gila. Pasti dia mengedit sendiri foto-foto itu. Aku berani bersumpah ... wanita yang pernah aku sentuh sampai aku hapal lekuk tubuhnya, cuma kamu!" bisik Dirga. BERSAMBUNG.
Hemm .... meleleh hati memunah. Orang hamil emang begitu. Tingkat sensitivitas lebih dari biasanya. Baperan!!!
__ADS_1
Novel Dea I Love You
Sebuah novel bucin gadis remaja dengan pria dewasa. Heheheh ... meluncur. Jangan lupa jempolnya digoyang xixiixii