Dinikahi Milyader

Dinikahi Milyader
Bersatu


__ADS_3

Dinikahi Milyader Bagian 57


Oleh Sept


Rate 18 +


Tolong dong, yang belum menikah diskip. Terima kasih.


Ada panas yang membara, bukan api tapi gejolak yang mengebu dan terasa membakar jiwa Kevia. Rasa gerah dan tersiska perlahan membuatnya membuang semua rasa malu pada diri wanita yang kini kepanasan bak seekor cacing tersebut.


Tanpa segan, Kevia menarik kerah baju Zio. Tingginya posture sang suami, bahkan membuat Kevia harus berjinjit agar bisa sepadan dengan sang suami. Dan tanpa malu pula, ia menempelkan bibirnya.


Terlanjur berkobar, Zio yang merupakan pria normal, ketika disuguhi makanan di depannya yang cukup menggoda Iman tersebut, hanya bisa mengikuti nalurinya sebagai seorang pria.


Lagian mereka adalah pasangan yang sah, jika terjadi apa-apa dengan wanita di depan tersebut. Maka, Zio akan tanggung jawab. Yakin, tidak ada yang salah jika ia melakukan sesuatu pada Kevia, Zio perlahan membuang baju atasan miliknya.


Ia rengkuh pinggang Kevia dengan lembut, kemudian balas menciumm Kevia. Ia sesap bibir yang ternyata sedikit manis tersebut. Lembut dan dalam, kemudian berubah menjadi cepat dan menunut tak kalah Kevia mulai memainkan jari-jarinya.


[Kamu ternyata berani juga!]


Zio hampir tersentak tak kala Kevia memegang sesuatu yang semalam wanitanya itu takuti.

__ADS_1


Ya, Kevia begitu berani. Meskipun mereka sedang berciumann dengan dalam, sempat-sempatnya tangan Kevia memainkan terong panggang milik suaminya.


Mulanya Zio merasa geli, tapi perlahan ia mulai menikmati. Apalagi ketika benda itu sudah mengeras dan terlihat jelas otot-ototnya. Sepertinya, benih sudah siap untuk ditabur.


"Kita pindah!" ujar Zio dan langsung membopong tubuh istrinya. Keduanya tidak memakai apapun saat berjalan keluar kamar mandi.


Zio dengan gagahnya membopong Kevia dan menidurkan istrinya tepat di atas sofa. Bukannya di ranjang seperti semalam. Mereka sepertinya ingin tempat yang lain utuk pergulatan kedua mereka.


Tanpa malu-malu lagi, mungkin karena sudah sangat di puncaknya, Kevia jadi sangat hiper aktive. Ia langsung saja duduk di atas Zio yang sudah rebahan di atas sofa.


Zio sendiri merasa aneh, tapi karena enak dan dia mulai menikmati permainan ini, gayung pun bersambut. Hari ini adalah hari mereka.


Tidak lama kemudian, terdengar suara-suara yang membuat bergidik bagi para pendengarnya. Suara orang-orang yang sedang menikmati sensasi rasa yang tidak biasa.


Dengan cepat Kevia memompa, hingga membuat wajah Zio gelisah dan mengeras. Ketegangan tergambar jelas juga ketika Kevia semakin mempercepat irama pompanya.


Tanpa ragu dan malu-malu, mungkin karena obat. Kevia begitu berani, membuat Zio kualahan. Tidak mau cepat keluar seperti semalam, Zio langsung ganti gaya.


Pria yang tidak berpengalaman itu. Namun, memiliki naluri yang cukup kuat seperti pria pada umumnya bila dihadapkan dengan situasi memanas seperti ini, tiba-tiba saja meminta Kevia turun sebentar. Pria itu kemudian duduk di tepi ranjang dan langsung menarik Kevia agar duduk di atas pangkuannya.


"Jangan buru-buru," bisik Zio yang sepertinya dibuat kualahan oleh istrinya.

__ADS_1


Ingin memberi jeda agar tidak cepat keluar, setelah berbisik mata Zio kini fokus pada leher jenjang istrinya tersebut. Tanpa membuang waktu, ia langsung menyerang Kevia bagai drakula dalam film-film barat.


Ia sesap leher putih dan mulus itu, sembari tangannya memainkan bukit barisan. Surga dunia, sepertinya ia menyesal mengapa tidak menikah sejak dulu. Gara-gara dihianati, ia jadi telat menikmati aroma surgawi.


Sementara itu, dibuai seperti begitu terang saja Kevia yang terpengaruh obat semakin terbakar. Semakin gerah dan ingin segera bermain lagi.


"Tolong masukin lagi," ucap Kevia dengan tatapan abu-abu. Sepertinya ia benar-benar sudah dibuat bergejolak parah karena obat. Entah dosis berapa yang diberikan oleh mertuanya. Atau apa karena cara membuai Zio yang kelewat skill dewa, membuat Kevia mabukkk kepayang.


Zio kemudian memegang dagu Kevia, ia kecupp lagi bibir yang terasa menggoda Iman tersebut.


"Hem ... jangan menyesal nanti." Zio berbisik.


Kevia hanya menatap, kemudian tangannya meraih terong panggang, mulai lagi masuk dalam permainan inti. Akhirnya keduanya bermain-main cukup lama, sebenarnya Zio sudah lelah setelah penaburan yang pertama, mereka jeda sesaat. Tapi, Kevia masih begitu mengebu.


Dengan berani, saat Zio sudah lemas, ia mainkan lagi benda yang bukan mainan tersebut. Alhasil, apa yang ia mau pun terwujud. Mereka melanjutkan ronde kedua, tapi kali ini di atas ranjang. Kevia yang sudah terlenang, bahkan dengan suka rela sudah membuka kakinya.


BERSAMBUNG


SKIP


__ADS_1



__ADS_2