Dinikahi Milyader

Dinikahi Milyader
Pengantin Baru


__ADS_3

Dinikahi Milyader Bagian 37


Oleh Sept


Rate 18 +


Keduanya kembali ke kamar sambil mengenakan bathrobe, begitu tiba di kamar mereka. Seketika Dirga langsung mengunci pintu dari dalam.


"Matahari bahkan masih terlihat jelas!" Levia mendesis kesal ketika Dirga memaksanya balik ke kamar.


"Ayo bersihkan dulu badanmu di kamar mandi."


Levia jelas tertegun, ia baru bergerak ketika tangan Dirga kembali menariknya. Pria itu membawa paksa Levia masuk ke dalam kamar mandi berukuran luas tersebut.


***


Beberapa jam kemudian


Rebulan menggantung indah di atas langit yang gelap, ditemani taburan bintang yang jumlahnya tidak terhingga.


Levia sedang tertidur di atas ranjang kamar hotelnya yang luas. Sedangkan Dirga, pria itu duduk sambil memperhatikan wajah Levia yang tertidur pulas. Wanita muda itu pasti kecakepan karena harus melayani dirinya.


Kini Dirga melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah pukul 9, Levia habis makan malam langsung tepar. Sedangkan dirinya, seperti tidak kenal lelah. Dirga seolah memiliki batrai cadangan. Pria itu terjaga hingga pukul 12 malam.


Lama-lama dia bosan karena terjaga seorang diri, akhirnya ia mencoba memejamkan mata. Merebahkan tubuhnya di sisi Levia. Tentunya sambil memeluk tubuh wanita muda tersebut.


Aromanya sangat ia sukai mulai sekarang, seperti candu. Ia hanya ingin dekat-dekat dengan istrinya tersebut.


Pukul tiga pagi.


Levia yang terbiasa tidur sendiri, ia melonjak kaget saat bangun dalam pelukan seorang pria. Sejenak dia lupa, kalau sudah menikah.


Dengan jantung yang bergemuru, ia mencoba melepaskan pelukan Dirga. Ditatapnya pria itu masih tertidur pulas. Dengan hati-hati ia melaskan lengan suaminya. Namun, bukannya lepas, lengan itu malah semakin erat menjeratnya.


"Apa dia tidak tidur?" gumam Levia.


"Mau ke mana?" bisik Dirga yang langsung menjawab pertanyaan wanita muda tersebut.


"Emm ... mau minum!" ucap Levia gugup.


Dirga pun melepas lengannya, membiarkan Levia beranjak mengambil minum.


Sesaat kemudian


Levia balik lagi, ia merebahkan tubuhnya di tepi ranjang. Agak menjaga jarak dengan suaminya.


"Sudah?"


Levia menoleh, dilihatnya sang suami yang matanya masih terpejam. Tapi masih saja bersuara.


"Hemm!"


"Sini ... jangan jauh-jauh!" titah Dirga kemudian menarik tubuh Levia agar mendekat padanya.


Pria itu lalu menarik selimut, dan wajah Levia langsung pasrah. Sepertinya ia akan selalu jadi makanan saat pria itu merasa lapar. Tidak di kolam, tidak di kamar mandi, dan apalagi kasur. Sudah pasti Levia akan menjadi santapan empuk suaminya tersebut.

__ADS_1


Begitulah yang terjadi saat mereka di hotel selama tiga hari tiga malam.


***


Hari kepulangan Levia dan Dirga dari hotel, mereka langsung menuju ke apartment. Dijemput oleh sopir pribadi, keduanya memutuskan untuk langsung ke apartment saja.


Awal masuk apartment, Levia merasa aneh. Kini tempat tersebut akan menjadi tempat tinggalnya bersama pria asing yang kini jadi suaminya.


"Masukkan pakaianmu di sini, jadi satu tidak apa-apa," ucap Dirga sambil membuka lemari bajunya.


Di sana sudah tertata rapi pakaian sesuai warna. Levia hanya mengangguk, karena ia juga dulu pernah merapikannya.


"Kalau kurang, nanti kita pesan lemari satu lagi!" ujar Dirga kembali. Dan disambut anggukan oleh Levi. Pria kaya, beli lemari seperti beli ciki di toko kelontong, tinggal ambil.


"Oh ya, besok katanya mami mau kirim satu ART yang ada di rumah buat bantu-bantu kamu di sini."


Levia langsung menolak.


"Nggak usah ... Levia bisa bereskan semua sendiri."


"Jangan! Kamu tidak boleh kecakepan. Tugas kamu hanya melayani aku saja!"


Seketika Levia bergidik ngeri. Hingga ia tidak berani menatap wajah suaminya. Melihat Levia yang malu-malu kucing, Dirga malah semakin bersemangat. Pria itu malah semakin gencar menggoda istrinya tersebut.


"Mau makan di sini apa di luar?"


"Di sini saja! Levia siapin!" buru-buru Levia meninggalkan suaminya. Wanita muda itu langsung ke dapur. Tentunya sambil mengantur napas. Dekat-dekat dengan Dirga hanya membuatnya spot jantung.


Entah perasaan apa, padahal pria itu juga belum pernah mengatakan cintanya. Tapi, selalu saja ada aura yang samar dan mendebarkan saat mereka bersama. Apa karena ia yang mulai sering dicolok oleh suaminya tersebut? Jadi tanpa sadar, hubungan keduanya semakin dalam.


Hingga mampu membuat Levia ketar-ketir kalau mereka berdua hanya berada dalam satu ruangan tertutup. Karena sudah pasti, Dirga akan membuatnya tidak memakai apa-apa.


***


Seminggu kemudian


Pagi itu Levia sedang berada di dapur, ditemani asisten rumah tangga yang sudah tinggal bersama mereka beberapa hari lalu.


"Lev!" panggil Dirga.


Levia yang masih bergelut dengan alat masak di dapur, langsung melepas apron.


"Bik ... tolong lanjutin ya."


"Baik, Non!"


Tap tap tap


Levia melangkah menuju kamar.


KLEK


"Iya!"


Dilihatnya Dirga berdiri di depan cermin setinggi badan.

__ADS_1


"Iya, ada apa?"


"Tolong bantu aku!"


Levia mendekat.


[Biasanya juga pakai sendiri!]


Sambil mengatupkan bibir, Levia berjinjit. Ia membetulkan dasi suaminya. Manja sekali, biasanya tidak pernah meminta bantuannya.


"Sudah!" ucap Levia sambil setengah menundukkan.


"Masak apa? Harum sekali!" goda Dirga.


[Harum? Aku bahkan belum mandi!]


"Nasi goreng!"


"Bukan ... bukan itu!" Dirga langsung meraih dagu Levia.


"Aku belom mandi!" ucap Levia cepat.


"Kalau begitu malah lebih bagus!"


Levia seketika melotot, tapi tiba-tiba matanya menutup seketika saat wajah Dirga mendekat.


"Nanti telat!" bisik Levia saat bibir keduanya belum bertemu.


"Tidak masalah. Ini yang paling penting!"


Hammpppp ...


***


Di lantai sudah berserakan baju Levia dan juga Dirga. Bukannya ke kantor ngurusin kerjaan. Dirga malah sibuk dengan pekerjaan barunya, yaitu mengerjai Levia.


Tok tok tok,


"Tuan ... ada tamu."


Levia dan Dirga langsung saling menatap, dengan canggung buru-buru Levia lari ke kamar mandi.


"Sebentar!" teriak Dirga dari dalam.


Beberapa saat kemudian


Dirga sudah mucul dengan pakaian rapi kembali, bukan pakaian yang tadi. Karena sudah kusut.


"Aku keluar dulu!" ucapnya pada Levia yang sedang mengeringkan rambut.


KLEK


Tap tap tap


"Siapa yang datang, Bi?"

__ADS_1


Dirga mengamati sosok wanita cantik yang duduk di ruang tamu. Wanginya tidak asing, seperti bau Arunika. BERSAMBUNG



__ADS_2