Dinikahi Milyader

Dinikahi Milyader
CEMBURU


__ADS_3

Dinikahi Milyader Bagian 38


Oleh Sept


Rate 18 +


Hampir saja jantungnya copot, aroma Arunika menyeruak membuat Dirga merasakan kehadiran tunangannya yang sudah meninggal beberapa tahun silam.


"Mas Dirga!" sapa gadis berparas cantik tersebut.


Gadis itu kemudian berdiri dan menghampiri Dirga. Tersenyum manis, senyum yang sama seperti senyum Arunika yang lama tidak Dirga lihat. Bahkan gaya pakaian gadis itu, Dirga rasa hampir menyerupai gaya Arunika. Entah sengaja atau memang kebetulan, sekilas sepupu Arunika tersebut sangat mirip lama-lama bila diamati dengan saksama.


"Maaf bila membuat Mas terkejut karena aku datang ke sini. Ini karena Mas Dirga, bagaimana bisa Mas menikah tanpa ijin dari tante?"


Dirga tertegun sejenak, rencana pernikahan dirinya dan Levia memang terkesan singkat dan tidak banyak persiapan. Ia sampai lupa menghubungi keluarga Arunika. Orang tua Arunika memang sudah menganggap dirinya seperti anak sendiri.


"Itu ... maaf, karena acaranya memang mendesak."


"Mendesak? Apa dia hamil?" tuduh gadis yang semula anggun dan kini mulai terlihat sifat aslinya.


"Hamil? Bukan ... bukan itu!" Dirga menepis sembari tersenyum tipis.


"Lalu kenapa buru-buru? Padahal Tante ingin bicara hal penting sama Mas Dirga. Tapi, setelah kemarin aku telpon tante Jean ... kami terkejut. Tante dan aku sangat terkejut. Kenapa mendadak menikah?"


Dirga diam lagi, ia merasa tidak enak juga lama-lama.


"Apa secepat itu Mas melupakan Arunika?"


"Nggak seperti, Miss!"


"Aku pikir cinta kalian sejati ... aku pikir selama ini Mas Dirga akan menjaga cinta Aruni. Ternyata, aku salah!" Miska terus saja membuat Dirga tidak enak. Ini karena Arunika tewas saat mengalami kecelakaan bersama Dirga.


Miska sengaja membuat Dirga kembali merasa bersalah. Hingga pria itu harus menyesal karena sudah berani menikah dan melupakan Arunika. Bila Dirga harus menikah, itu harus dengan keluarga mereka. Atau setidaknya, dengan dirinya. Mungkin itu yang ada dalam kepala Miska.


Dirga yang merasa tidak enak, hanya bisa menghela napas panjang dan duduk dengan lemas. Lalu bagaimana? Apa dia harus melajang selamanya?


Tap tap tap


Tiba-tiba Levia muncul sambil membawa nampan. Tanpa basa-basi, Miska langsung mengambil gelas yang ada di atas nampan dan menengaknya.


Byurrrr ...


"Cih ... asemmmm!" protes Miska yang merasakan jus buatan Levia terasa sangat asam.


"Asisten baru?" Miska langsung mengamati wajah Levia. Sepertinya tidak asing. Ia kemudian ingat, pernah ditabrak oleh gadis itu. Oh rupanya dia bekerja di sini, pikir Miska.


"Tolong buatin yang baru, gulanya tapi sedikit."


Baru juga Dirga mau bicara, tapi Levia langsung memotong.


"Baik, Mbak."


Levi melirik Dirga sekilas. Kemudian masuk ke dapur lagi.


Di dapur.


Asisten rumah tangga yang ikut dengan Dirga sekarang, dulu adalah ART di rumah lama Jeandana. Jadi ia sudah paham betul dengan sikap Miska yang memang beda dengan Arunika.


Miska cenderung lebih bawel dan sangat bossy. Beda sekali dengan sepupunya.


"Biar saya yang buat, Non." Bibi mau mengambil alih, tapi Levia menggeleng.


"Nggak apa-apa, Bik," ucapnya sambil senyum. Entah bagaimana dengan hatinya, sebab sejak tadi ia sudah mendengar semua ucapan Miska yang terdengar sampai kamar. Suara Miska memang terdengar lantang, sudah seperti toa di masjid.


Saat akan memasuki ruang tamu, Levia menghela napas dalam-dalam sebelum melanjutkan langkah. Ia berjalan pelan dan memberikan minuman di atas meja.


"Oh ya Mas Dirga, mana istri baru Mas Dirga?" tanya Miska saat Levia berbalik mau pergi.


Dirga mau menjawab, tapi tiba-tiba Levia dengan sengaja menumpahkan gelas. Membuat Miska langsung marah-marah lagi.


"Ya ampun! Mas Dirga! Asisten ceroboh kayak begini kenapa juga dipekerjakan?" cerocos Miska.


Tangan Dirga sudah mengepal, rasanya ia ingin mengatakan sesuatu. Tapi Levia melotot ke arahnya.

__ADS_1


"Sebaiknya kamu pulang, Mis. Nanti aku akan berkunjung ke rumah tante."


Miska melirik Levia, kemudian mengangguk.


"Baiklah, lagian aku juga ada acara. Ya sudah Mas. Aku pulang dulu."


***


Miska pergi bukan berarti masalah selesai, kini Dirga harus menghadapi istrinya yang sejak tadi menatapnya kurang bersahabat.


"Aku ke kantor dulu, ya."


"Hemm!" jawab Levia dingin.


"Itu tadi sepupu Arunika."


"Hemm!"


"Dia sepupu tunanganku yang meninggal."


"Ya."


"Kamu tidak ingin bertanya sesuatu?"


Levia menggeleng.


"Kenapa kamu tadi tidak mau aku kenalkan siapa dirimu?"


"Nggak ... nggak usah."


"Kamu marah, Lev?" Dirga melirik istrinya.


"Nggak!"


"Ya, kamu marah!" Dirga terus mendesak Levia. Agar wanita itu mau mengakui.


"Marah? Untuk apa?" tanya Levia dingin.


"Ya sudah, aku berangkat."


Levia kelihatan acuh. Namun, saat Dirga betul-betul sudah meninggal apartment. Ia malah ngomel-ngomel sendiri. Merutuk sikap Dirga. Seolah-olah yang salah adalah suaminya.


***


Waktu makan siang, Bibi mengetuk pintu kamar Levia. Tapi tidak kunjung dibuka. Bibi pun berbicara cukup keras.


"Non ... makan siang sudah siap."


SETTT ...


Levia langsung duduk dari posisi rebahannya. Ia kemudian bangun dan membuka pintu.


KLEK


"Maaf, Bik. Levi nggak lapar."


"Loh, Non. Non Levia sakit?"


Levia menggeleng. Kemudian ia masuk kamar lagi. Mood Levia menjadi buruk ketika ada tamu tadi pagi.


***


Malam Hari


Dirga pulang saat jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Di luar hujan deras, jalanan menjadi sangat macet. Padahal, Dirga keluar kantor jam lima lebih, karena hujan deras yang menguyur ibu kota, membuat jarak tempuh terasa lebih lama.


Begitu masuk rumah, dilihatnya kondisi rumah yang sudah sepi.


"Apa dia sudah tidur?" gumam Dirga sambil menuju ke kamarnya.


"Lev! ... Levia?"


Dibukanya pintu, dilihatnya Levia sudah terlelap sambil memeluk guling.

__ADS_1


"Ish ... aku bahkan belum makan, tapi kamu malah tidur."


Dirga mengerutu sambil melepaskan jas serta kemeja putih yang ia kenakan. Setelah itu, ia ke kamar mandi. Membersihkan diri dan ganti baju santai.


"Tidur apa pingsan?"


Dirga berdiri di samping ranjang, menatap Levia dengan dalam. Tiba-tiba bibirnya menggembang, mengulas senyum saat memperhatikan Levia dari dekat.


Mungkin dia juga heran, kenapa sosok itu bisa membuat dirinya bisa tertidur lelap setelah mereka menikah. Sepertinya dokter Robert benar. Obatnya ada pada sosok wanita ini. Wanita yang kini sudah menjadi istrinya.


Tanpa sadar, Dirga mencondongkan tubuhnya. Ia sepertinya mau memberikan kecupann selamat malam. Namun, belum juga menempelkan bibirnya. Keburu Levia membuka mata.


Dengan cepat, Levia beringsut. Wanita muda itu langsung duduk menjauh. Menarik diri agar tidak dekat-dekat dengan Dirga.


"Maaf, membuatmu terbangun!" ucap Dirga yang seperti malingg ayam yang ketahuan.


"Sudah pulang?" tanya Levia yang juga merasa suasannya tidak enak. Sudah menikah, tapi keduanya kadang masih seperti kanebo kering. Sama-sama kaku.


"Baru aja," jawab Dirga berusaha tetap cool.


"Lembur?" tanya Levia basa-basi.


"Nggak, tapi macet."


"Oh." Levia melirik kanan kiri, bingung mau ngomong apa lagi.


"Temani aku makan," ajak Dirga kemudian.


Levia diam saja, seolah enggan.


"Kenapa? Masih marah?"


Wanita muda itu spontan mendongak. "Marah kenapa?"


"Baguslah ... aku juga tidak suka perempuan pendendam."


Seketika Levia langsung masam. Dan Dirga tersenyum tipis.


[Kamu masih marah, iya kan? Tapi aku suka. Itu artinya kamu cemburu. Cemburu pada masa lalu ... ya ampun. Kamu manis sekali Levia. Lihat bibirnya yang mengerucut itu ... rasanya ingin aku gigit saja!]


Tiba-tiba Dirga malah menelan ludah. Dilihatnya bibir Levia yang memang mengerucut karena sedang kesal.


"Baiklah kalau kamu gak mau menemaniku makan malam, kita makan yang lain saja, ya. Jangan menyesal!"


Settt ....


Buuuukkk ....


Levia jelas terhenyak, pria itu tiba-tiba melempar pakaian yang dikenakan. Dan langsung berbaring di sisinya. BERSAMBUNG.


Jangan harap ada waktu marahan lama untuk pengantin baru, itu hanya akan jadi bahan bakar dalam pergulatan sengit setiap malam. Semakin kamu rajin marah-marah tidak jelas, semakin gencar ranjangmu bergoyanggg. Petuah unfaedah hehehe...











Give away tinggal seminggu lagi... cuss kakkk. hehehe... semangat 45 hihihih.


__ADS_1


__ADS_2