Dinikahi Milyader

Dinikahi Milyader
Kesabaran Berbuah Manis


__ADS_3

Dinikahi Milyader Bagian 65


Oleh Sept


Rate 18 +


Di sebuah hunian yang mewah tapi sepi, di salah satu kamarnya terlihat sepasang kaki menyembul di balik selimut. Sepasang dipenuhi bulu-bulu yang lebat, sepasang lagi terlihat mulus, mungkin karena rajin perawatan di tempat mahal.


"Pesawatnya jam berapa?" bisik si pria yang sepertinya sangat kelelahan. Ia seolah tidak bisa mengimbangi sang wanita. Sebenarnya, ini semua gara-gara resep mami Jean dan si Bibi.


"Bisa di re schedule kok," ucap Diska dengan enteng.


Pria itu pun hanya tersenyum tipis, kemudian ingin tidur lagi sebentar. Ia capek sekali, belom lagi punggungnya terasa perih. Kuku-kuku tajam Diska sepertinya sudah mengores banyak sayatann di balik sana.


"Ya sudah, aku tidur sejam lagi ya. Mata Mas perih," keluhnya.


"Hemmm."


Diska mengangguk, ia juga capek sebenarnya on fire terus. Alhasil, kini malah menengelamkan wajah dalam pelukan sang suami. Mau ikut tidur juga.


Padahal, koper dan banyak barang persiapan yang akan dibawa ke Paris masih berserak di lantai kamar mereka. Seolah tidak peduli, Diska memilih berbaring di tempat paling hangat.


Meski kaku, ternyata suaminya itu memiliki hati yang hangat. Tidak sia-sia ia mengejarnya sejak lama. Tidak sia-sia ia memilih jomblo bertahun-tahun hanya demi seorang pria biasa saja.


Ya, Reza itu orangnya sangat sederhana. Pria kaku yang selama ini Diska incar. Kakak tiri Levia itu seperti kanebo kw super, dinginnya nggak kaleng-keleng.


Kalau bukan karena taktik Diska yang tarik ulur, pasti ia masih jadi gadis jomblo permanent. Mungkin lama-lama Reza goyah. Perhatian Diska yang di tengah-tengah kuliahnya dulu sering main ke kantor hanya untuk memberikan makan siang, membuatnya risih pada awalnya.


Tapi, setelah sebulan lebih gadis itu tidak mengekor dan meneror, Reza yang malah klabakan. Ia sampai harus menghubungi Levia untuk mencari kabar tentang Diska.


Tidak tahunya, Diska waktu itu sedang mengurusi study nya di LN. Sekalian, Diska juga ingin move on. Capek ngejar-ngejar tanpa dilirik sama sekali. Eh, setelah memutuskan menyerah dan memilih akan kuliah S2 di Oxforddd, tiba-tiba saja Reza datang ke negara itu.


Sama seminggu pria itu di sana, Reza sengaja mengambil cuti hanya ingin bertemu Diska yang sebulan lebih tidak kelihatan wajahnya.


Mulai dari sana, es kutub utara pun mulai mencair. Seperti keju mozzarella terkena api yang panas, begitulah Reza. Kalau tiada baru terasa. Begitu orangnya tiba-tiba menghilang, barulah ia merasa kosong. Merasa sesuatu yang kurang lengkap.


Flashback On


England


Hari itu hari terakhir Reza di negara tersebut. Rencananya ia mau balik ke Indonesia karena masa cutinya habis.


"Baik-baik di sini, jaga diri!" ucap Reza meski masih terdengar kaku.


"Hemm!" Diska mengangguk, tapi tidak mau menatap ke dalam mata pria tersebut.


Keduanya cukup lama diam tanpa kata di ruang tunggu Bandara. Hingga Reza beranjak karena ia harus checkin dulu.


"Kamu balik saja, bukannya ada kuliah?" ucap Reza sembari memegang koper, siap untuk meninggalkan Diska.


Diska yang sepertinya sudah menahan sejak tadi untuk tidak menangis, ia pun memalingkan wajah. Kemudian mengusap sudut matanya.


"Hey! Sejak kapan kamu jadi cengeng?" Reza mengerutkan dahi, kemudian melepas pegangan tangannya yang semula menyentuh koper.


Tangan itu kini pindah, sudah di atas kepala Diska. Mengusap kepala gadis itu dengan lembut.


"Kamu jelek kalau nangis!" canda Reza.


"Siapa yang nangis?" elak Diska, padahal matanya sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


"Aku lihat awal bulan depan ada tanggal merah hari jum'at. Mungkin aku akan ke sini lagi melihatmu. Boleh?"


"Tidak boleh!" jawab Diska kemudian.


Diska langsung bangkit dari duduknya, tidak malu-malu, tangannya langsung memeluk tubuh Reza yang bidang tersebut.


"Tidak boleh ... aku nggak terima kunjungan dari teman!" lanjut Diska.


Reza tersenyum tipis, sembari menepuk punggung Diska dengan lembut.


"Lalu bagaimana kalau yang berkunjung kekasihmu sendiri?"


Seketika, Diska menarik diri. Ia melepas lengannya yang tadi memeluk tubuh Reza. Otaknya yang cerdas tiba-tiba langsung bisa menerka ucapan Reza.


"Mas Reza nembaak Diska?" tanya gadis itu dengan seketika.


"Setelah lama tidak melihatmu ... hariku jadi membosankan. Sepertinya ini namanya kehilangan. Dan maaf ... lama membuatmu menunggu. Bukannya aku tidak tahu, hanya saja, aku belum yakin dengan hubungan ini."


Reza menghela napas panjang.


"Jadi ... ini nembakkk kan?" potong Diska yang sudah tidak sabaran.


"Aku nggak mau nembakkk kamu, nanti kamu mati!" balas Reza yang ingin mengerjai Diska. Dilihatnya ekspresi Diska yang menurut Reza sangat mengemaskan.


Bibir gadis itu pun mengerucut karena sebal. Sebenarnya ia sudah ditembakk apa belum? Nanti takut malah GR.


"Ya sudah, nanti aku ketingalan pesawat. Kamu pulang dulu saja."


"Tunggu! Kita belum selesai bicara. Ini belum jelas!' tuntut Diska yang tidak terima dengan status hubungan mereka.


"Jaga diri baik-baik di sini, jaga pergaulan. Jangan terbawa lingkungan. Jangan buat semua orang kecewa. Pulang dengan membawa hal yang membuat semuanya bangga padamu, Dis," tutur Reza. Bukannya menjawab dan memberikan kepastian. Pria itu malah menasehati Diska layaknya orang tua.


"Itu tandanya Mas Reza care sama kamu. Pengen yang terbaik buat Diska."


"Peduli sebagai apa dulu? Care sebagai keluarga ... teman, atau apa?" Diska masih mau memperjelas hubungan mereka. Apalagi tadi sudah pelukan.


"Aku terbang jauh-jauh ke mari, harusnya kamu paham, Dis." Reza masih aja kembali ke sifatnya, kaku.


"Jadi? Kita pacaran nih?" tebak Diska yang hidungnya sudah kembang-kempis.


Melihat Diska yang seperti itu. Reza mendadak merengkuh pinggang si gadis. Mungkin pelukan perpisahan karena ia mau balik.


"Terserah kamu menyebutnya bagaimana. Yang pasti, jangan main mata di sini dengan pria-pria bule."


Diska malah tidak fokus dengan ucapan Reza, ia larut dan menikmati dentuman jantung Reza yang ternyata saat ini berdegup kencang dalam pelukannya. Diska pun senyum-senyum tidak jelas dalam pelukan pria yang selama ini ia kejar.


Flashback End


Paris


Di salah satu kamar hotel, Zio sedang menunggu Kevia yang sedang bersiap-siap. Mereka akan ke Bandara, menjemput anggota keluarga yang katanya akan tiba beberapa jam lagi.


"Sayang, lama sekali?" protes Zio yang menunggu Kevia ganti pakaian.


"Tolong bantu aku, ini sulit masangnya!" seru Kevia di ruang sebelah.


Tanpa diminta dua kali, Zio langsung menghampiri istrinya yang ada di ruang sebelah. Kamar mereka luas, karena mereka menginap untuk 5 orang.


Setelah memastikan anak-anak aman karena duduk di karpet bawah sambil bermain, Zio pun ke ruang sebelah.

__ADS_1


Dilihatnya Kevia kesulitan memasang resleting.


"Ini sulit, sayang. Coba ganti yang lain. Kan masih banyak."


"Benarkah? Sepertinya aku harus diet. Badan aku makin melar," keluh Kevia.


"Iya, kamu makin berat. Terasa banget pas di atas!" goda Zio dengan usil. Dan Kevia langsung melotot.


"Ini karena napsuuu makan aku bagus. Jadinya gampang melar," Kevia pun mulai ngeles.


"Gak apa-apa, penting kamu sehat. Malah enak kok ... empuk!" bisik Zio.


BUGH


Zio terkekeh karena Kevia memukul lengannya.


Malu, Kevia akhirnya mencari baju yang lain. Sedangkan Zio, ia asik memperhatikan dari belakang Kevia mencari pakaian yang pas.


"Nah ini, kayaknya muat." Kevia senang saat menemukan dress longgar warna maroon. Terlihat cantik, ini adalah oleh-oleh mama mertua dari Itali beberapa bulan lalu.


"Itu baru pas," ledek Zio sambil mendekat dan memeluk Kevia dari belakang.


[Makin empuk saja istriku ini, makin berisi ... eh tunggu. Sepertinya lama sekali aku nggak absent]


"Sayang, kapan kamu terakhir M?" bisik Zio yang curiga.


Kevia menoleh, ia baru menyadari. Sibuk mengurus balita kembar tiga, ia jadi tidak memperhatikan siklus datang bulannya. Tapi ia memang tidak berpikir ke arah sana. Kan dia KB. Yang membuat jadwal M menjadi kacau, dan kadang bisa membuat tidak M lama.


"Sayang, aku kan udah KB?"


"Oh ... kirain." Zio nyengir. Dan Kevia pun ikut tersenyum.


***


Setelah menjemput keluarganya di Bandara, mereka pun langsung ke rumah sakit. Karena anak-anak mulai merengek, semua merajuk karena bosan, Zio pun mengajak mereka ke toko mainan.


Setelah itu ke mini market terdekat untuk membeli camilan. Ketika Zio sibuk mengawasi anak-anak, Kevia berdiri di depan kasir. Dalam bahasa inggris, ia bertanya apakah ada alat tes kehamilan. Dan ternyata ada. Pegawai mini market tersebut menunjukkan letaknya. Dan Kevia pun langsung mengambil dua sekaligus.


Beberapa saat kemudian


Malam yang dingin menyelimuti Paris, tidak sabar menunggu esok hari, Kevia malam-malam ke kamar mandi saat semuanya terlelap.


Ia mau mencoba alat tes kehamilan yang ia beli. Setelah mencobanya, ia menunggu beberapa saat untuk melihat hasilnya.


Entah mengapa, jantungnya berdebar-debar saat akan melihat hasil yang tertera pada benda pipih dan pendek tersebut. BERSAMBUNG


Jangan pernah ragukan keturunan Dirgantara, generasi perterongan yang super. Meski dibuntu, kalau Tuhan sudah berkuasa,


"Jadilah maka terjadilah."


Banyak kasus seperti ini kan? Temenku ada 2, bulan ini mengabari isi padahal KB. Hehhe. Semangat untuk pejuang garus 2. Semoga Allah lekas memberi malaikat kecil di Rahim kalian. Aamiin ya Allah.



Lagi rame-rame ke Paris, yukk ... Kita ke sana. Ada Paris fashion week ... Sept mau ke sana. Mau bersih-bersih di sana. Hehheheh


Abaikan author yang sangat gabut ini. Hihihih ... nanti siang Kita live instagramm lagi. Jangan lupa ya. Kalian bisa lihat wajah asli author. Hehehe .. pakai filter tapi Kwkwkw


IG : Sept_September2020

__ADS_1


Terima kasih.. Aku tunggu kalian.


__ADS_2