Dinikahi Milyader

Dinikahi Milyader
Happy Family


__ADS_3

Dinikahi Milyader Bagian 63


Oleh Sept


Rate 18 +


Balita kembar tiga itu terus saja berlarian mengejar burung-burung yang jinak tersebut. Mereka seolah tidak mendengar sang mama yang tengah memanggil ketiganya.


Annabelle, Mirabelle dan Isabelle adalah balita lucu-lucu yang juga menarik perhatian orang-orang yang lewat. Mereka jadi pusat perhatian karena tingah mengemaskannya itu.


Baru saat sang mama mendekat dan menggandeng tangan mereka, Annabelle, Mirabelle, dan Isabelle bisa duduk diam dan manis di bangku taman.


Sedangkan sang papa, sosok pria tegap berbadan atletis, tampan dan masih awet muda itu, masih terlihat sibuk merekam istri serta anak-anaknya. Berkali-kali ia mengambil dan mengabadikan moment liburan mereka di Paris.


"Lihat sini, Honey!" pinta sosok yang megenakan mantel coklat tersebut.


Ia meminta istrinya untuk menatap kamera yang ia pegang. Ia mau merekam wajah cantik istri kesayangannya itu.


"Sayang ... lihat ke arah Papa!" ucap Kevia pada anak-anak kembar mereka.


Ya, anak-anak kembar ini adalah hasil dari pernikahan mereka yang sudah berjalan 5 tahun. Setelah menunggu satu tahun lebih, akhirnya Kevia hamil lagi.


Ia memang sempat hamil sebelumnya, ketika usia pernikahan baru enam bulan. Namun, karena kandungan lemah. Mereka harus merelakan anak mereka menjadi bidadari surga bersama sang Pencipta.


Tidak lama kemudian, hitungan bulan Tuhan kembali memberikan mereka kabar bahagia. Kevia dinyatakan hamil lagi. Dan betapa bahagianya Zio. Ketika dokter mengatakan mereka memiliki anak kembar.


Sebenarnya Zio tidak kaget, karena ia juga memang keturunan kembar. Tapi, saat dokter mengatakan mereka akan memiliki bayi kembar tiga, di situ ia tidak bisa berkata-kata.


Pria itu kelewat bahagia, hingga tidak bisa berkomentar. Hanya bisa memeluk tubuh Kevia sangat erat. Tidak peduli meski masih di ruangan dokter.


Zio hanya ingin berbagi rasa, rasa senang karena Tuhan sudah memberi mereka hadiah yang sangat luar biasa. Sebuah hadiah yang tidak bisa mereka beli dengan uang.


***

__ADS_1


Masa kini, Paris.


Zio yang sedang asik merekam balita-balita gembulll nan mengemaskan itu, bibirnya terus saja mengembang. Melihat kelucuan mereka bertiga, membuatnya tidak bisa berhenti tersenyum. Apalagi Anna, dia paling hiper active.


Ketika ada kupu-kupu lewat, ia langsung saja ingin menangkapnya. Begitu juga dengan Mirabelle. Zio sempat bergidik ketika merekam putrinya itu yang berlarian di taman bunga.


"Pa ... gendut!" ucap Mira yang memang sudah lancar berbicara.


[Gendut? Apanya yang gendut?]


Zio mengeryitkan dahi, tidak mungkin ia yang dikatai gendut, karena ia rajin olah raga dan badannya sangat terjaga. Posture tubuh Zio masih oke. Atletis dan gagah perkasa.


Pria itu lantas mematikan kamera yang sejak tadi merekam. Zio berjalan mendekati Mira. Kemudian berjongkok tepat di samping Mira yang sedang mengamati sesuatu di depannya.


"Astaga!"


Zio langsung mundur, kemudian menarik Mira dengan lembut.


"Jangan dekat-dekat!" seru Zio yang merasa sangat geli. Bulunya tiba-tiba berdiri karena merinding.


Seketika, Zio membopong tubuh putri kecilnya itu.


"Gatalll sayang!" bisik Zio kemudian mengecupp gemas pipi gembulll Mira.


Ia pun duduk dan memangku Mira di bangku taman bersama Kevia.


"Hiii ... geli!" seru Zio sambil menatap istrinya.


"Ada apa, Mas?" tanya Kevia penasaran.


"Tuh Mira ... ada-ada aja. Lihat ulet, katanya gendut. Mas saja ngeri lihatnya."


Zio yang geli, langsung memeluk Mira erat. Sedangkan Kevia, ia tersenyum melihat keduanya. Sambil mengusap lembut poni Mira, ia berpesan.

__ADS_1


"Jangan dekat-dekat ya, jangan pegang juga. Si gendut itu bisa buat badan Mira gatal-gatal," ucap Kevia dengan sayang.


Mira hanya menatap tanpa kedip pada mama yang selalu sayang padanya itu. Sementara itu, Isabelle terlihat berlari menuju ujung jalan.


Zio hanya menatap dari bangku taman. Dilihatnya Isabelle berlari menghampiri pamannya.


Ya, mereka memang merencanakan liburan bareng bersama keluarga besar Dirgantara. Semua menginap di hotel yang sama. Dan hari ini janjian akan traveling bersama-sama.


"Nah, tuh mereka datang," ucap Zio pada istrinya.


Keduanya melihat rombongan keluarga kecil Dirga. Sambil menggandeng tangan Isabelle yang barusan menghampiri Dirga, tangan satunya menggandeng anak usia lima tahun, putrinya yang kini sudah besar, baby D.


Baby D tumbuh sangat cantik, wajahnya sama persis dengan sang papa. Mereka bagai pinang dibelah samurai. Hampir tidak ada beda. Mereka semua berjalan menyusul keluarga Zio yang sudah berkumpul.


Ketika para bapak-bapak sibuk menyiapkan karpet untuk digelar, bagian ibu-ibu menjaga anak-anak. Terutama Levia, ia yang paling repot.


Selain sedang hamil delapan bulan, anak ketiga mereka, ia juga harus mengawasi anak keduanya yang baru satu tahun setengah. Kezlyn, balita 1,5 tahun itu sedang mengejar kakak-kakaknya. Padahal baru bisa lari kecil, Levia takut anak keduanya itu jatuh.


Alhasil, ia terus berada di dekat Kezlyn. Karena balita itu masih rawan. Rawan jatuh kalau lari-larian.


"Sayang ... hati-hati!" seru Levia yang melihat Kezlyn terus mengejar. Ia ikut lari kecil menangkap putrinya.


BUGHHH ...


Dendara yang kebetulan menoleh, berlari menghampiri sang mama yang tiba-tiba jatuh. Gadis kecil lima tahun itu menangis ketika melihat baju mamanya mengeluarkan darah.


"Mama!!!"


Seketika Dirga, Zio dan Kevia berlari dengan panik menghampiri Levia.


BERSAMBUNG


__ADS_1




__ADS_2