
Dinikahi Milyader Bagian 61
Oleh Sept
Rate 18 +
Sebuah tangan mengusap pipinya, membuat Kevia membuka Mata. Pengantin yang semalam habis mengelar acara resepsi itu sepertinya enggan bangun. Tubuhnya terasa capek di mana-mana.
Bagaimana tidak kecakepan, bagaimana tidak kelelahan, semalam dibolak-balik oleh suaminya. Ya, Zio seperti srigala lapar. Berkali-kali meminta Kevia mengulang olah raga malam mereka. Kini, tinggal tersisa rasa lelah tapi bahagia.
"Sudah siang," bisik Zio lembut. Sudah tahu rasa enaknya masuk goa, kini Zio bersikap lembut pada sang pemilik.
Mungkin biar Kevia tidak melarang dan selalu standby bila ia ingin masuk setiap saat. Makanya, Zio jadi sangat manis. Gunung es sudah mencair. Pria kaku itu tiba-tiba lemas karena sering duet bersama Kevia.
"Boleh aku tidur lagi? Masih ngantuk," pinta Kevia. Kini ia sedikit lebih berani saat bicara. Bahkan tidak canggung saat menatap bola mata yang melihatnya dengan penuh kelembutan.
"Sudah jam 10 pagi, aku siapkan air hangat ya ... kita mandi."
Seketika Kevia langsung loyo. Ia bisa menebak, kata kita mandi berarti melanjutkan acara semalam. Acara yang tidak akan ada habisnya.
"Mandi saja, kan?" tanya Kevia. Barangkali kepalanya yang terlalu menjurus.
Sementara itu, Zio hanya melempar senyum penuh sejuta arti.
[Mana mungkin hanya mandi saja, Kevia?]
***
Jika di kamar Zio, mereka masih kode-kodean. Beda cerita di kamar presidential suite yang lain.
__ADS_1
Di dalam sebuah bathtub penuh dengan kelopak mawar di atasnya, Levia sedang berendam air hangat. Ia bahkan sedang menikmati pijatan Dirga yang tanpa malu-malu ikut mencebur ke dalam sana.
Awalnya sih pijatan betulan, tapi lama-lama niat itu mulai melenceng. Apalagi melihat ibu hamil tersebut yang semakin aduhaii saja semakin hari. Alhasil, mereka melanjutkan apa yang terjadi semalam.
Padahal sudah setengah jam lebih keduanya ada di dalam sana, mungkin karena asik dan terlalu menikmati suasana, mereka semua lupa waktu.
Beberapa saat kemudian
Levia dan Dirga sudah berpakaian rapi, pakaian yang semalam. Karena mereka tidak bawa baju ganti. Dan karena merasa lapar, keduanya pun memilih makan dulu di bawah.
Tidak tahunya, malah ketemu pengantin baru yang sudah duduk di salah satu meja.
"Dirga!" panggil Zio saat melihat adik sepupunya berjalan tidak jauh darinya.
Dirga dan Levia pun menoleh. Keduanya lantas menghampiri meja Zio dan Kevia yang tengah makan.
"Kalian masih di sini?" tanya Zio saat mereka sudah duduk bersama.
Apalagi ketika melihat ruam-ruam di leher Levia yang masih sangat jelas. Pasti itu menjelang pagi barusan. Zio kemudian tersenyum sediri sembari melirik istri panasnya.
Matanya melirik warna yang sama. Kulit kemerah-merahan juga ada pada diri Kevia. Ya, itu stempel yang ia buat beberapa saat lalu. Bukannya malu, ia malah bangga.
Sambil menikmati makannya, Zio malah menggoda Dirga yang sepertinya tidak mau kalah dengannya.
"Kami mau ke Paris, kalian nitip apa? Atau malah mau ikut juga?"
Dirga hanya tersenyum tipis. Ingin sih, tapi kondisi Levia tidak mungkin. Ia takut malah istrinya melahirkan di dalam pesawat.
Sementara itu, Levia masih santai saja. Ia juga menikmati hidangan. Kebetulan, perutnya lapar, saat makanan datang ia langsung saja memakannya.
__ADS_1
"Nanti, nanti kami akan ke sana. Bertiga!" balas Dirga dengan sombong. Seolah pamer, ia sudah ada hasilnya. Bukti nyata, sedangkan Zio belum kelihatan hasilnya.
"Doakan kami menyusul kalian," mungkin Zio sadar kalau sepupunya itu sedang menyindir.
"Pasti ... pasti kami doakan," timpal Levia setelah meletakkan sendoknya.
Dirga sendiri menatapnya aneh, cepat sekali Levia makan kue dengan potongan lumayan itu. Sepertinya ia membuat Levia kelarapan.
"Suka? Aku pesankan lagi, ya?" tanya Dirga perhatian. Membuat pengantin baru iri melihat mereka yang harmonies.
"Kev, kita pindah meja saja ya?" canda Zio sembari meletakkan tangannya di atas tangan Kevia.
Mereka berempat malah terkekeh, sungguh nuansa yang syahdu dan indah. Getar-getar cinta di antara mereka semua, membuat atmosphere di sekitar sana terasa berbeda.
Beberapa saat kemudian
Selesai makan, ternyata Dirga langsung check out. Ia harus pulang, karena miss Julie menghubungi ada dokumen penting yang harus ia tandatangi.
Dirga pun bergegas pulang, sepanjang jalan Levia hanya diam dan beberapa kali menguap. Dirga pun tidak mengajak istrinya bicara, biar Levia istirahat dulu.
Bbaru juga turun dari mobil mendadak Levia terus saja memegangi perutnya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Dirga yang khawatir.
Levia hanya meringis, dan tiba-tiba dressnya basah. Sepertinya ketuban mulai merembes. Padahal, persalinan masih beberapa minggu lagi. Seketika Dirga panik bukan main. BERSAMBUNG
__ADS_1