
Dinikahi Milyader Bagian 6
Oleh Sept
Rate 18 +
Tidak suka melihat gadis karbol dengan seorang pria yang cukup good looking, akhirnya Dirga memilih tancap gas. Niat hati menitipkan ponsel itu, tapi tidak jadi. Mendadak moodnya jadi berubah. Dirga memutus meninggalkan kantor Star Clean, sambil melempar ponsel Levia ke atas dashboard, matanya kini tertuju pada jalan hitam di depannya.
Kantor Star Clean
Levia bergegas masuk sebelum bu Dewi pergi. Biasanya agenda bu Dewi sangat padat. Dan kadang tidak bisa diganggu gugat.
Tok tok tok.
"Masuk!"
Levia membuka pintu kemudian membungkuk sedikit.
"Maaf, Bu Dewi. Menganggu waktu Ibu sebentar."
"Duduklah. Apa sudah kau pikirkan baik-baik?"
Levia menggeleng, dia memang butuh uang. Tapi menjadi asisten rumah tangga di sebuah apartment mewah dan harus tinggal di sana. Sepertinya orang tuanya akan keberatan.
"Maaf, Bu."
"Gajinya lumayan!" ucap atasan Levia dengan penekanan.
Bu Dewi menatap penuh selidik. Sombong sekali Levia menolak tawaran pekerjaan ini. Ia tahu Levia lulusan universitas. Namun, itu bukan universitas yang ternama. Dan jaman sekarang cari pekerjaan itu sulitnya minta ampun.
"Yakin kamu tidak menyesal? Coba saja kontrak satu tahun!"
Levia tetap menggeleng.
"Baiklah! Saya tidak akan memaksa lagi."
"Maaf, Bu."
"Tidak apa-apa! Dan lusa ada kerjaan buat kamu. Satu tim, kalian berangkat pagi-pagi karena ada briefing juga. Jangan telat, ini acara penting.'
"Baik, Bu." Levia lagi-lagi menundukkan wajah.
"Ya sudah. Kamu boleh pergi sekarang. Saya ada pertemuan penting pagi ini."
Tidak menunggu perintah kedua, Levia pun beranjak dari sana. Kembali ke tempatnya, bergabung bersama rekan kerjanya yang lain.
***
Di sebuah gedung paling tinggi di kota itu, nampak seorang pria tengah serius dengan laporan pekerjaan yang kini ia periksa.
Tok tok tok.
Pria itu melirik ke daun pintu yang diketuk. Sedangkan di luar sana, habis mengentuk pintu Diska langsung menerobos masuk.
"Gak kuliah?" tanya Dirga begitu adiknya dengan santai duduk di depan sang kakak.
"Nih, baru pulang. Tadi Mami telpon pas lagi di jalan. Aku suruh mastiin Mas Dirga, bahwa Mas udah baik-baik saja."
"Ish ... !"
"Makin kurusan, Mas?"
"Apa sih kamu ini. Kalau mau ganggu Mas kerja, mending kamu keluar sana. Main atau nonton sama temen-temenmu."
"Idih ... ditengokin adek bukannya seneng, bahagia ... sumringah ... masih aja muka ditekuk kek begitu. Pantes masih aja jomblo!" sindir Diska, ia sengaja mengajak kakak laki-lakinya itu untuk ribut dan bercanda. Sejak kematian Arunika, Dirga memang perlahan menjadi sosok pria kaku dan tidak ada senyum-senyumnya.
__ADS_1
"Mas Dirga sedang sibuk, tolong kamu kalau mau isengin Mas. Lain waktu aja!"
Seketika Diska langsung menyandar pada kursi yang ia duduki. Kakaknya benar-benar sudah menjadi kanebo kering permanent. Sepertinya ia butuh seseorang untuk mencairkan hati sang kakak yang sudah lama beku tersebut.
"Oke ... okrek! Dis pulang dulu. Lagian gak asik lama-lama deket Mas. Diska bisa pilek, Mas Dirga kan dingin banget!" ucap Diska sembari menjulurkan lidah. Ia sedang meledek abang kesayangannya.
Tanpa sadar, candaan yang dilontarkan Diska cukup membuat bibirnya menggembang.
"Hati-hati, kalau nyetir jangan ngebut."
"Hemm ... Diska pulang dulu, Mas. Kalau kangen vcall ya."
[Amit-amit aku kangen sama adik cerewet bin bawel kek kamu]
***
Beberapa hari kemudian
Rizt International HOTEL
Levia sudah siap dengan seragam waiters hitam putih, ia sekarang sedang melakukan pekerjaan di sebuah hotel bintang lima. Dari pagi ia sudah sampai di sana, dan sekarang sudah pukul tiga sore. Waktunya istirahat sebentar dan pulang.
Akan tetapi, salah satu teman Levia tidak datang untuk shift selanjutnya. Mereka kekurangan anggota.
"Saya bisa bekerja sampai malam," ucap Levia pada rekan yang lain.
"Jangan gila kamu, tubuh kamu juga butuh istirahat!" ujar rekan kerja Levia yang duduk sambil memijit betisnyaa yang kaku.
"Gak papa, saya bisa kok!"
Semua rekan kerja Levia saling menatap. Dan salah satu dari mereka berbisik pada Levia.
"Lo mau lembur? Kerja keras bagai kuda? Lagi dikejar debt collector?" bisik rekan kerja Levia.
Levia menggeleng kemudian balik berbisik.
"Buat apa? Orang tua lo lagi?"
Levia pun tersenyum hambar. Dan akhirnya, gadis itu melanjutkan kerja sampai malam. Ketika Levia menyiapkan acara di dalam hotel itu, perutnya tiba-tiba keroncongan. Dilihatnya banyak hidangan yang menggoda Iman.
Diliriknya jam, masih ada dua jam lagi sebelum ia bisa istirahat. Ia pun melirik kanan kiri. Ketika tidak ada yang melihat, ia mau mengambil sepotong sushi yang sepertinya sangat enak. Rasa lapar membuatnya sedikit berani. Apalagi di sana masih sepi.
Hammmpp ....
Satu potong terasa sangat enak, Levia kembali melirik kanan kiri.
[Masih sepi]
Akhirnya Levia menghabiskan satu piring sushi. Setelah itu ia menghilangkan jejak. Menyembunyikan piring kosong agar tidak dicurigai. Tapi, Levia salah. Sejak tadi ada pria yang mengamati gelagat pencurian sushi tersebut.
Plok ... plok ... plokk ...
Seketika Levia berbalik, ia kaget ketika seorang pria menepuk tangan di belakangnya. Ia pikir di ruang itu tadi tidak ada seorang pun.
Dengan berat ia menelan ludah. Mendadak seperti ada biji kedongdong dalam tenggorokan Levia.
[Mati aku!]
"Kau pencuri!" ujar pria berjas hitam dengan dasi kupu-kupu tersebut.
Levia yang semula menunduk, perlahan mendongak. Matanya menatap tanpa kedip.
"Itu ... itu ..." Levia mendadak gagap.
"Ikut denganku!"
__ADS_1
Levia langsung mundur, sambil menggeleng pelan.
"Maaf, Tuan."
"Ikut denganku, baru aku maafkan."
Mau tidak mau, Levia ikut saja saat pria itu menarik tangannya.
Di lobby hotel
Pria berbadan tegap tersebut meminta Levia duduk, sedangkan dia menelpon seseorang.
"Aduh, Tuan ... jangan lapor polisi. Saya ganti sushi yang saya makan tadi."
Pria itu menunduk dan bicara pada Levia.
"Dengarkan baik-baik, ini bukan masalah uang atau sushi. Ini masalah professionalisme dalam pekerjaan."
Levia semakin panik, ia hanya bisa memijit pelipisnya. Gara-gara lapar kenapa buntutnya jadi panjang.
Sepuluh menit kemudian
Satu wanita membawa tas kantong besar dan panjang datang bersama pria lentur mendatangi keduanya.
"Dia, Tuan," tanya pria lentur tersebut.
Pria itu hanya mengangguk dan melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"30 menit. Tidak lebih."
"Jangan khawatir, Tuan."
Pria lentur tersebut kemudian memegang lengan Levia dan menariknya ke sebuah ruang khusus.
"Eh ... kalian mau bawa saya ke mana?" Levia tetiba jadi panik.
"Diam, Say! Jangan berisik!"
Lagi-lagi Levia harus menelan ludahnya dengan susah payah.
***
30 menit kemudian
"Tuh kan, Say ... aku udah feeling kamu cantik natural. Amplas dikit udah kelihatan. Lain kali rajin perawatan. Sayang, kan ... cakep-cakep mubazir."
Pria yang bertugas memake over Levia itu kemudian meminta Levia berdiri.
"Saiii ... Bantuin dia ganti baju!" titahnya pada sang asisten.
Beberapa saat kemudian
Levia muncul dengan dress hitam di atas lutut, ia sama sekali terlihat tidak nyaman memakai baju tersebut. Selain karena terlihat sangat mahal, ia takut merusak dress itu. Bisa-bisa, kerja satu tahun hanya untuk ganti rugi bila dress itu rusak.
"Ready ... cuss, Saiii!" seru pria itu dengan gemulai.
Dengan langkah pelan, Levia keluar dari ruangan tersebut, dilihatnya lorong kosong yang sepi. Tangannya sibuk menurunkan ujung dress yang ia kenakan. Benar-benar tidak nyaman.
"Tuan!" seru Kang make up yang berdiri mengikuti Levia dari belakang. Ia menoleh, dilihatnya sang bos sedang menelpon seseorang.
Levia masih tidak percaya diri, ia rasa akan kerokan saat pulang bila lama-lama pakai baju kurang bahan tersebut. Sedangkan sang pria, ia menutup ponselnya, memasukkan ke dalam jas. Dengan santai berjalan menghampiri Levia.
BERSAMBUNG
Siapa si pria tersebut?
__ADS_1
Ritz Hotel