Dinikahi Milyader

Dinikahi Milyader
Jalan Pintas


__ADS_3

Dinikahi Milyader Bagian 45


Oleh Sept


Rate 18 +


New York


Udara di musim dingin cukup membuat orang-orang harus memakai baju hangat dan berlapis-lapis. Di negeri Paman Sam tersebut, Zio berjalan sambil melipat tangan. Hawa dingin cukup membuatnya bergidik, terbiasa di negara beriklim tropis, tubuhnya butuh penyesuaian. Meskipun sering ke LN, tapi tetap saja kulitnya belum akrab dengan dinginnya salju waktu itu.


Cuaca juga sedang extreme-extremenya, jadi meskipun pakai mantel, baju berlapis, tubuhnya tetap merasa kedinginan. Kalau tidak ada agenda di luar, sebenarnya ia lebih memilih merebahkan diri di dalam hotel dengan mesin penghangat.


Apalagi angin bertiup kencang sekali, Zio pun buru-buru mempercepat langkah kakinya. Pria itu baru saja keluar dari sebuah rumah sakit. Ya, Zio nekat meninggalkan benih-benih yang mungkin memiliki kualitas super di sana. Calon anak yang mungkin suatu saat akan ia temui.


Zio hanya ingin ada penerus, seseorang yang lahir dari bibit miliknya. Mungkin dia sudah gila, atau mungkin sudah lelah. Lelah memulai sesuatu lagi dari awal. Rasa tertarik pada lawan jenis, bagi Zio bukan perkara gampang. Baginya semua wanita kini terlihat sama, tidak menarik do matanya. Tidak ada yang bisa membuatnya hatinya bergetar. Tidak ada!


***


Beberapa hari kemudian.


Indonesia, Jakarta.


ORCHID ROYAL APARTMENT


Dirga terbaring dengan lemas di kamarnya, sudah tiga hari ini pria tersebut tidak masuk kantor. Sekarang, ia yang malah dirawat oleh Levia. Yang hamil siapa, yang ngedrop siapa.


"Makan ya? Sedikit saja," bujuk Levia. Sudah dari kemarin Dirga tidak makan. Dirawat di rumah sakit pun tidak mau. Alhasil pria itu harus memakain infus di rumahnya.


"Nggak nyaman banget pertutku, Lev!" keluh Dirga manja. Ia peluk tangan Levia yang duduk di sebelahnya. Levia sampek jengkel. Karena Dirga begitu sangat manja ketika sakit seperti ini.


"Makanya makan. Coba buka mulutnya sedikit ... HAKKK!" titah Levia.


Dirga malah menutup mulut rapat, menggeleng keras.


"Ya sudah, biar aku suruh bibi yang suapin!" Levia menarik tangannya. Seketika Dirga langsung membuka mulut meski sedikit.


[Ngapain aku disuapin Bibi?]


Dirga melirik sebal.


Sementara itu, Levia merasa menang, dengan sabar ia suapi bayi besarnya itu.


"Yang banyak!"


"Udah, jangan banyak-banyak. Aku mual, Lev!"


Levia memegang kepalanya, kasihan juga pada Dirga. Suaminya itu sepertinya mabok karena ngidam. Sedangkan dirinya yang hamil, sehat tanpa keluhan apapun. Tapi berbeda dengan suaminya, Dirga tiba-tiba mengeluh perutnya jadi mulas.


Melihat nasi seperti musuh, begitu juga dengan makanan yang lain. Mungkin rasa ngidam yang harusnya dirasakan Levia, terwakilkan oleh sang suami.

__ADS_1


Sebenarnya Levia seneng banget, tapi kalau ingat betapa manjanya si Dirga. Kadang menguji emosinya yang dibuat naik turun. Dirga begitu lebay. Tidur saja minta diusap, ditemani sampai terpejam. Levia benar-benar seperti harus mengasuh seorang bayi besar.


Hingga suatu hari, mami Jean dan Diska datang berkunjung.


Mendengar Dirga sakit, mami Jean begitu khawatir. Sedangkan Diska, ia langsung meledek abangnya tersebut.


"Alahhh, paling Mas Dirga modus. Mau manja-manja sama Mbak Levia!" celetuk Diska sambil memakan camilan dan bersandar di pundak sang mami.


"Aduh! Sakit, Mi!" pekik Diska saat Jean mencubit pinggang gadis tersebut.


Semua pun terkekeh melihat keduanya.


"Mami nggak nginep, ya. Papi sendirian di rumah."


"Iya, Diska juga nggak nginep. Capek jadi obat nyamuk!" sindir Diska sambil melirik Dirga yang mengelayut manja pada lengan Levia.


"Iya, Mi ... Gak apa-apa. Dirga sudah punya perawat pribadi!" ucap Dirga.


Bukkkk


"Aduh!" Dirga mengadu saat Jean menepuk pundaknnya.


"Levi hamil, jangan buat dicapek!" celetuk Jeandana.


"Tenang, Mi. Levia nggak bakal capek. Dirga gak sempet buat dia capek. Nih .. selang infus membuat ruang gerak Dirga terbatas."


Mata Jean langsung membulat, dan Dirga hanya nyengir.


Sedangkan Diska yang tidak tahu arah pembicaraan sang kakak, hanya melanjutkan nyemil makanan. Sementara itu, Levia pipinya sudah merona.


Suasan apartment Dirga semakin malam semakin hangat. Jauh berbeda di hunia yang lain.


***


Mansion mewah milik Zio Rael Dirgantara.


Pria itu terjaga sepanjang malam. Tidak bisa tidur, Zio kemudian menghubungi dokter Titan yang ada di New York.


"Jam berapa di sana? Sepertinya di IND ini sudah larut malam," ucap dokter Titan di seberang telpon.


"Aku sulit tidur akhir-akhir ini," jawab Zio.


"Jangan konsumsi obat tidur, lakukan saja olah raga rutin. Dan jangan terlalu stres dalam bekerja."


"Hemm!"


"Kebetulan kamu telpon. Aku sebenarnya ingin menghubungimu besok pagi."


"Apa mengenai hal itu?" tebak Zio.

__ADS_1


"Ya."


"Katakan sekarang."


"Bukankah ini terlalu larut?"


"Tidak, aku tidak mengantuk."


"Oke, baiklah ...!


Dokter Titan diam sejenak, sepertinya ia mengambil napas sebentar untuk kembali bicara lagi dengan pasien sekaligus teman mainnya dulu di Munich.


"Aku sudah mendapatkannya."


"Benarkah?"


"Tapi ..."


"Tapi kenapa?" Kedua alis Zio hampir menyatu.


"Di sekarang terancam dideportasi. Dulu masuk Amerika secara legal. Menggunakan Visa turis."


"Astaga! Yang benar saja ... apa tidak ada wanita baik-baik .. tanpa kasus?"


Dokter Titan langsung mencebik.


"Menikah saja!" cetus dokter tersebut kesal.


"Ya sudah ... biarkan saja benih-benih itu. Buang saja!" jawab Zio tak kala kesal. Masa calon ibu dari anak-anaknya seseorang yang memiliki masalah hukum. Ia tidak seputus asa itu.


"Mana ada wanita baik-baik mau mengandung benih dari laki-laki yang bahkan tidak pernah ia temui."


"Iya! Buang saja!"


Dokter Titan langsung mengusap wajahnya. Ia menghela napas dalam-dalam. Lalu kembali berbicara.


"Bantu dia keluar dari masalahnya, dia akan membantu masalahmu."


"Tidak! Aku tarik keinginanku yang kemarin itu. Sudah lupakan saja!" Buru-buru Zio mau mematikan ponselnya.


"Tunggu! Ish ... katanya ingin mencari penerus?"


"Tidak! Tidak usah!" ketus Zio yang memang lagi dilanda stres.


"Benarkah? ... Oke. Aku lenyapkan semua sekarang, jangan menyesal."


Zio memejamkan mata dalam-dalam.


"Tunggu! Baiklah!" BERSAMBUNG.

__ADS_1


Baiklah apa Bang Ziooo?


__ADS_2