
Dinikahi Milyader Bagian 69
Oleh Sept
Rate 18 +
Naomi berjalan menuju salah satu presidential suite, ia akan menemui salah satu pelangan baru VIP yang kata pegawainya merasa tidak puas dengan layanan kamar.
Ingin memeriksa sendiri, sekalian karena ia memang kebetulan ada di sana, Naomi pun ingin menemui sosok tamu yang katanya banyak protes dan keluhan sejak check-in di hotel miliknya.
Tok tok tok,
Naomi mengetuk pintu dengan pelan. Kemudian bersuara.
"Maaf, permisi ..." ucap Naomi dengan sopan. Ia menatap lorong di samping yang terlihat sepi. Hanya pegawai tadi yang mengikuti dirinya.
"Masuk!"
Ia kemudian masuk, dan melihat sosok pria yang duduk sambil memegang segelas minuman sambil menatapnya tajam.
[Kau! Kenapa dia ada di sini?]
"Tinggalkan kami berdua!" Naomi menoleh, meminta karyawan hotel miliknya untuk meninggalkan keduanya.
"Baik, Bu!"
***
Di dalam kamar keduanya sama-sama masih saling menatap, Naomi tidak percaya bisa bertemu lagi dengan pria itu.
"Jika kamu ingin main-main, kamu salah orang. Tolong jangan buat masalah di tempatku!" ucap Naomi dingin.
Sepertinya ada luka yang tersimpan di dalam hatinya cukup lama.
"Sekarang apa lagi alasanmu?" tanya sosok itu sembari meletakkan gelas minuman di atas meja. Ia kemudian berdiri, dan mendekati Naomi.
"Berhenti di situ! Ini tempat kerjaku! Jangan membuatku mempermalukanmu!" ancam Naomi ketika melihat pria itu melangkah mendekatinya.
"Ayolah Naomi! Aku sudah tidak mempan lagi dengan kata-kata pedasmu!" tantang pria itu.
Pria muda, usianya 10 tahun di bawah Naomi. Naomi sendiri sudah 35 tahun sebentar lagi. Rupanya, asmara mereka terhalang usia yang jauh.
Flashback On
Beberapa tahun silam. Vincent sedang bersama teman-temannya, di sebuah klab ternama di kota itu.
Salah satu teman Vincent menggoda pria itu.
"Ayo taruhan, siapa yang bisa mendapatkan nomor wanita itu!" sambil menatap Naomi yang duduk sendirian di depan bartender. Ia terlihat murung.
Vincent yang kala itu masih sangat muda, masih kuliah di semester akhir. Jiwanya merasa tertantang, dan ia pun menangapi candaan temannya.
"Mudah sekali!" balasnya.
__ADS_1
"Jangan macan-macam, aku kenal kakaknya," celetuk teman Vincent yang lain. Ia tahu betul seluk beluk keluarga Dirgantara. Ia paham karena keluarganya juga bekerja sama dengan salah satu hotel milik Dirgantara tersebut.
"Hanya nomor, kan?" Vincent kemudian bangkit. Tidak peduli dengan seruan temannya.
Ketika Vincent melangkah mendekat Naomi. Para teman-temannya terkekeh. Mereka membicarakan Vincent saat pemuda itu pergi.
"Sialannn kau, masa kau suruh dekati tante-tante!" salah satu pemuda minim akhlak terkekeh.
"Biar ... aku bosan melihat pacarku curi-curi pandang padanya," celetuk teman Vincent yang ternyata bukan teman. Hanya musuh berkedok teman.
"Kau betul, aku juga sebenarnya tidak menyukainya."
Mereka berempat saling menatap, kemudian menyusun rencana.
***
Pagi harinya, Naomi sangat terkejut. Ketika dia bangun ia sudah ada di sebuah kamar hotel. Apalagi, seorang pemuda yang semalam berbincang sebentar dengannya kini sedang tidur satu ranjang.
Naomi panik, ia kemudian mengintip di balik selimut. Ia merasa lega. Karena masih berpakaian lengkap.
Ia pun mengingat apa yang terjadi semalam, dan terakhir ia hanya ingat kalau kepalanya terasa pusing. Sepertinya ada yang menaruh sesuatu pada minuman yang semalam ia pesan.
Tidak mungkin di sana terlalu lama, Naomi lantas beranjak. Ia turun pelan-pelan, tapi malah tersangkut celana milik pria muda tersebut.
Kesal plus jengkel, ia spontan menendang celana itu.
Bukkk
Sebuah sompet terjatuh dari kantong celana tersebut. Semula ia tidak begitu peduli. Tapi, ia takut kedepannya ini akan jadi masalah serius. Ia pun mengambil ponsel dan memotret dompet yang berisi identitas pemuda itu.
[Ya ampun. Apalagi ini?]
Naomi bergegas pergi dengan penampilan yang semrawut. Tapi ketika berjalan di lorong, ia merapikan rambut dengan menyisirnya pakai jari-jari tangan.
Ia mengumpat kesal, kenapa bisa bermalam dengan pria muda. Ia sangat pantang berhubungan dengan anak kecil. Kesal, ia kembali menendang. Hingga kakinya terasa sakit sendiri.
Beberapa hari kemudian
Vincent yang sudah mendapat nomor Naomi sebelumnya, ia menghubungi Naomi berkali-kali. Sayang, nomornya malah diblokir. Tidak putus asa, bukan karena taruhan dengan teman-temannya, hanya saja penasaran dengan sosok wanita tersebut.
Kenapa ia ditinggalkan di dalam kamar hotel sendirian? Ia jadi kesal juga. Apalagi setelah apa yang terjadi. Mereka memang belum sempat melakukan itu, akan tetapi sebelumnya sudah melakukan yang lain.
Hingga beberapa minggu kemudian, Vincent muncul dengan baju casual tapi rapi karena habis dari kampus. Ia baru tahu Naomi siapa, dan langsung mendatangi EL Hotel.
Di sana ia malah bertemu dengan Zio.
Saat di lobby, Zio menghampiri pemuda itu. Dan bertanya, dia siapa?
"Saya sedang mencari Naomi."
"Naomi? Kau yakin mengenalnya?" Zio menatap penuh selidik. Sejak kapan adiknya bermain-main dengan anak kecil. Apa sebegitukah putus asanya Naomi dalam hal asmara?
"Pulanglah ... kamu sepertinya masih sangat muda. Jangan buang-buang waktu dan menganggu adikku lagi!" ucap Zio tegas.
__ADS_1
Ternyata, dari jauh Naomi memperhatikan. Saat Vincent ada di lobby, ia begitu panik. Dan kebetulan ada Zio lewat. Seketika ia meminta tolong untuk mengusir anak ingusan itu jauh darinya.
"Apa perlu aku hajar?"
Naomi menggeleng keras.
"Baiklah, masuklah ke dalam!"
Bukannya masuk, Naomi malah mengintip dari jauh.
Sekarang, ia sedang melihat wajah serius dua pria beda generasi tersebut.
Zio sudah meminta pemuda itu segera pergi, tapi Vincent malah menitihkan sebuah kartu nama miliknya dan sebuah kotak.
"Tolong berikan padanya!" ucap Vincent dan pergi meninggalkan El HOTEL.
Beberapa saat kemudian
Naomi duduk sambil menatap selembar kertas dari pemuda itu.
[Aku ingin bicara, bisahkan kita bertemu?]
Naomi lantas membuka kotak, di sana terdapat banyak coklat berbagai variant bentuk.
Dengan pesan ucapan di dalam kotak lagi.
[Semoga harimu menyenangkan]
***
Berminggu-minggu Vincent dantang. Namun, hanya sampai lobby. Ia mengirimkan banyak kotak coklat untuk Naomi. Hingga wanita itu mau menemui dirinya.
Dan ini adalah coklat ke dua puluh. Barulah Naomi menghubungi Vincent. Keduanya pun bertemu di salah satu cafe.
Ternyata, meski usia terpaut jauh, keduanya nyambung. Lama-lama mereka akhirnya memutuskan menjalin hubungan tanpa status. Hanya teman main. HTS.
Hingga suatu hari, Vincent yang tumbuh tanpa sosok ibu. Ia hanya tinggal bersama papanya. Saat wisuda, ia mengajak Naomi. Keduanya terlihat dekat, dan papa menantang hubungan mereka.
"Jalan Vincent masih panjang. Tolong, jangan menjadi penghalang putra saya!" ucap papa Vincent saat Vincent meninggalkan keduanya untuk berbincang.
Naomi hanya bisa menelan ludah.
"Jangan khawatir, Om tidak usah cemas. Saya hanya menganggap Vincent adik. Dia seperti anak kecil, jadi tidak mungkin kami bersama!" ucap Naomi tegas.
Di belakangnya, Vincent terdiam dengan wajah mengeras.
Flashback End.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Cantik ... cerdas ... Milyader ... asmaranya tidak semulus pipinya. Orang cantik, ujiannya ada pada pasangan... bener gak sih?